Tekanan Pandemi yang Menyingkap Watak Manusia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi oleh Gerd Altmann dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 7 Juli 2021 22:55 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tekanan Pandemi yang Menyingkap Watak Manusia

    Dalam keadaan normal, manusia mampu menyembunyikan watak terdalamnya yang menakutkan sesama. Watak terdalam ini akan terdorong hingga mencuat ke permukaan manakala situasi memburuk hingga mencapai titik terendah. Dalam situasi seperti ini, manusia diuji: lebih dekat kepada malaikat atau lebih akrab dengan iblis.

    Dibaca : 819 kali

     

    Para pebisnis sejati memang tahu betul melihat dan memanfaatkan peluang. Ketika pandemi lagi hangat-hangatnya, mereka jeli melihat peluang bisnis baru: masker, alat kesehatan, sanitizer, oksigen murni, vitamin, hingga obat cacing yang di-endorse bikin tahan terhadap serangan Corona. Mereka yang semula tidak pernah berkiprah di produk-produk yang beraroma kesehatan lantas beralih setelah melihat besarnya pangsar pasar akibat pandemi berkepanjangan. Ini peluang, ini peluang!

    Peluang bisnis ini memang relatif besar dan meningkat tinggi dibandingkan di masa normal, lantaran kebutuhan yang meningkat drastis. Jarang memang diungkapkan berapa peningkatan kontribusi bisnis alat kesehatan maupun obat dan vitamin terhadap pertumbuhan ekonomi tahun lalu maupun yang sedang berjalan. Perputaran uangnya niscaya sangat besar, termasuk bila diperhitungkan bisnis layanan kesehatan: macam-macam tes virus, yang disediakan oleh laboratorium klinik, hingga perawatan rumah sakit.

    Dengan harga jual yang wajar saja, para pebisnis itu sebenarnya sudah bisa memperoleh keuntungan yang memadai, terlebih lagi volume penjualan pasti tinggi seiring peningkatan permintaan konsumen. Namun ada saja yang merasa tidak puas dan mengeksploitasi pasar lebih dalam dengan menaikkan harga jual produk sedemikian tinggi. Intinya: mumpung ada peluang, rauplah cuan sebesar-besarnya.

    Inilah prinsip ekonomi yang berlaku, yang sayangnya sangat kapitalistik—ngomong-ngomong, seberapa banyak sih bisnis di negeri ini yang tidak kapitalistik? Lalu apa sih contoh konkret praktik ekonomi yang Pancasilaistik? [Ini pertanyaan beneran, bukan pertanyaan retoris] Ketika orang berburu cuan dengan mendongkrak harga setinggi-tingginya mumpung banyak orang membutuhkan, lha apakah ini bukan mengikuti prinsip dasar ekonomi kapitalis? Ada uang, ada barang. Semakin langka barang, semakin mahal. Semakin banyak yang membutuhkan, semakin naik harganya—mengapa tidak berpikir sebaliknya, semakin banyak yang memerlukan, diturunkan harganya, sebab penjual toh tetap akan memperoleh keuntungan besar?

    Di saat kita sedang berjuang untuk keluar dari pandemi, watak homo economicus sering terlihat lebih menonjol. Beberapa bulan yang lalu kita pernah mengalami situasi ketika harga masker meroket, pasar alat kesehatan diserbu warga, persediaan barang lekas habis. Begitu pula alat-alat yang banyak diperlukan rumah tangga, seperti thermogun, oximeter, maupun vitamin, dan kini oksigen murni serta ivermectin yang diburu warga masyarakat. Permintaan yang meningkat membuat pasar dibanjiri produk yang kualitasnya tidak terkontrol.

    Fenomena unik pula: pejabat gencar mempromosikan Ivermectin yang belum jelas benar kegunaannya untuk terapi Covid dan mengabaikan peringatan badan yang berwenang, Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pejabat publik yang bukan bidangnya meng-endorse obat keras yang tidak boleh sebarangan digunakan dan dibuat bukan untuk mengatasi Covid-19. Betapa pejabat kita senang bermain hal-hal yang instan dan tidak sabar menunggu hasil uji klinis. Aroma persaingan bisnis pun tercium. Jalan pintas ditempuh, yang menandakan kebingungan mencari jalan keluar dari situasi kritis.

    Mereka yang benaknya hanya dipenuhi logika ekonomi berusaha memanfaatkan situasi krisis demi menangguk keuntungan sebanyak-banyaknya, yang melebihi saat normal. Mereka tidak lagi peduli atas apa yang dipahami sebagai nilai kemanusiaan, solidaritas sosial, gotong royong, empati, maupun berbagi.

    Efek negatif dari tekanan akibat pandemi ini memang terasa. Di satu sisi, sebagian orang masih berempati dan membantu mereka yang mengalami kesulitan atau sakit—ada yang mengirim makanan untuk yang sedang isolasi mandiri, ada yang meminjamkan rumah juga untuk isolasi mandiri, ada yang berbagi makanan dan vitamin. Di sisi lain, banyak orang mulai kehilangan kasih sayangnya kepada sesama: lihatlah bagaimana orang berebut membeli susu [cap] beruang karena tergiur oleh sas-sus bahwa susu kalengan ini ampuh untuk meningkatkan imunitas tubuh serta merintangi serangan virus.

    Dalam keadaan normal, manusia mampu menyembunyikan watak terdalamnya yang menakutkan sesama. Namun, watak terdalam ini akhirnya terdorong hingga mencuat ke permukaan manakala situasi memburuk hingga mencapai titik terendah, nadir, darurat, krisis. Situasi kritis adalah buah akumulasi dari tekanan yang terus-menerus meningkat, yang mampu memaksa manusia untuk melakukan apapun yang dalam keadaan normal mampu ia kendalikan. Dalam situasi seperti ini, manusia diuji: lebih dekat kepada malaikat atau lebih akrab dengan iblis. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.