Rem Darurat Ditarik, Semoga Bisa Membendung Penularan Wabah - Viral - www.indonesiana.id
x

Pemerintah perlu bertindak mengantisipasi kamar rumah sakit penuh dikarenakan penumpukan pasien Covid-19

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 8 Juli 2021 17:10 WIB

  • Viral
  • Berita Utama
  • Rem Darurat Ditarik, Semoga Bisa Membendung Penularan Wabah

    Rem darurat akan efektif bila syarat kepercayaan, kepemimpinan, konsistensi, tanpa-pengecualian, serta kedisiplinan dipatuhi. Bila tidak dipatuhi, kesalahan yang sama akan terulang kembali. Kita semua berharap pandemi segera berakhir. Realistiskah harapan ini bila kita masih bebal dalam berperilaku yang mengundang hinggapnya virus?

    Dibaca : 1.144 kali

     

    Rem darurat sudah ditarik, memang bukan lockdown, tapi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat [PPKM] Darurat. Apabila ganti nama hanya sekedar penyebutan yang berbeda, namun esensi tetap sama, apalah artinya nama. Tapi, pemerintah tampaknya berusaha meyakinkan masyarakat bahwa PPKM Darurat merupakan kebijakan yang berbeda dibanding yang sudah-sudah. Setidaknya, sudah ditambahkan kata ‘darurat’ untuk menggambarkan kegawatan. Kalau begitu, apakah yang dulu-dulu situasinya terbilang tidak darurat?

    Menimbang-nimbang pengalaman yang baru saja berlalu, rakyat mungkin bertanya: apakah kebijakan kali ini akan sanggup membendung penularan dan menekan angka kematian? Berapa waktu yang diperlukan untuk itu. Lantas, sesudah mereda, akankah kita tetap waspada atau kita akan mengulangi kesalahan serupa—bergegas melonggarkan pembatasan mobilitas warga?

    Rakyat tentu saja berharap demikian, sebab wabah sudah berlangsung lebih dari satu tahun—sudah lama wabah mengisap banyak hal dari dalam diri kita, bukan hanya menguji kesabaran dan ketabahan. Kita semua berharap pandemi segera berakhir, tapi realistiskah harapan ini bila kita masih juga bebal dalam berperilaku yang mengundang hinggapnya virus. Bayangkan, kita sudah tahu, berulang kali telah diberi tahu, tapi kita tetap bertingkahlaku layaknya orang yang tidak mau tahu.

    Sebuah tujuan berpeluang besar untuk tercapai apabila syarat untuk mencapainya dipenuhi, termasuk tujuan pembatasan karena situasi darurat. Syarat pertama, meraih kepercayaan masyarakat. Memperoleh kepercayaan masyarakat merupakan unsur fundamental yang dibutuhkan kepemimpinan agar lebih mudah menangani situasi. Aturan memang diperlukan sebagai alat bantu untuk mengendalikan keadaan, namun kepercayaan masyarakatlah yang paling pokok—bahwa pemimpin memang bersungguh-sungguh berusaha mengatasi situasi, tidak memiliki agenda tersembunyi, tidak memandang remeh keadaan, dan mengerti benar apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan masyarakat.

    Kedua, kepemimpinan yang penuh-waktu dan tepercaya. Mengingat situasi kegentingan, orang yang ditugasi untuk memimpin satgas Covid seharusnya bukan orang yang merangkap tugas lain. Orang yang ditugasi menangani situasi darurat mestinya juga ketua satgas sehari-hari, tak perlu menunjuk orang lain lagi, sebab ketua satgas masih definitif. Berikan kepercayaan dan wewenang yang cukup kepada ketua satgas untuk mengambil langkah-langkah penanganan. Gonta-ganti pimpinan, apa lagi untuk urusan darurat, akan memperumit koordinasi dan menandakan ketidakpercayaan kepada orang yang sudah ditunjuk.

    Ketiga, kebijakan yang konsisten, bukan kebijakan yang kerap berubah serta dadakan. Konsistensi kebijakan akan mempermudah penyelesaian persoalan ketimbang strategi rem-gas antara kepentingan kesehatan dan kepentingan ekonomi, sebab strategi rem-gas berpeluang mengulang-ulang terjadinya peningkatan kasus. Ketika kasus menurun, gas ditekan kuat agar aktivitas ekonomi berputar cepat, namun kasus pun cepat naik kembali karena keadaan belum pulih seratus persen. Seiring dengan itu, aktivitas ekonomi kembali dibatasi. Mengapa tidak melakukan pembatasan hingga kasus mencapai tingkat minimal bila bukan nol, baru kemudian pedal gas ekonomi ditekan pelan-pelan? Inilah strategi yang ditempuh negara-negara yang berhasil lulus dari ujian pandemi, setidaknya hingga saat ini. Strategi ini jelas lebih menghemat waktu dan niscaya juga menghemat biaya ekonomi.

    Keempat, tidak boleh ada aturan pengecualian. Aturan pengecualian cenderung disalahgunakan untuk membenarkan kegiatan tertentu yang sebenarnya masih dapat ditangguhkan atau dihindari. Aturan pengecualian seringkali disiapkan karena pembuat kebijakan telah memiliki rencana tertentu yang tidak akan dapat dijalankan bila tanpa aturan pengecualian. Bunyinya: “Semua kegiatan dilarang kecuali .....” Biasanya, hanya kegiatan yang menguntungkan pembuat kebijakan yang akan dikecualikan dari aturan umum, tapi ini berpotensi menimbulkan persoalan baru. Apabila pengetatan aktivitas apapun dilakukan tanpa pengecualian, pemulihan situasi berpeluang untuk berlangsung lebih  cepat.

    Kelima, ditegakkannya kedisiplinan. Kedisiplinan hanya bisa lahir dari kesadaran dan paksaan. Kesadaran bagi orang-orang yang memahami, sedangkan paksaan bagi orang tidak mengerti atau orang yang tidak mau tahu. Bila kedisiplinan hanya ditegakkan atas orang-orang tertentu dan bagi orang yang lain berlaku aturan pengecualian, maka kegagalanlah hasilnya. Kedisiplinan berarti pula keadilan, sebab kedisiplinan tidak pilah-pilih: si anu dilarang, si ani boleh; atau sebaliknya.

    Rem darurat akan efektif bila syarat kepercayaan, kepemimpinan, konsistensi, tanpa-pengecualian, serta kedisiplinan dipatuhi. Bila tidak dipatuhi, kesalahan yang sama akan terulang kembali. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.