Jalan Menuju Masyarakat Anti Korupsi - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

cover buku Jalan Menuju Masyarakat Anti Korupsi

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 9 Juli 2021 14:29 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Jalan Menuju Masyarakat Anti Korupsi

    Contoh nyata dari dr. Sofyan Tan dalam upaya pembauran di Sumatra Utara melalui Sekolah Perguruan Sultan Iskandar Muda, wiraswasta berbasis lingkungan dan UKM.

    Dibaca : 1.066 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Jalan Menuju Masyarakat Anti Diskriminasi

    Penulis: Sofyan Tan

    Tahun Terbit: 2004

    Penerbit: KIPPAS            

    Tebal: xxvii + 158

    ISBN: 979-97048-3-9

     

    Negeri yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika ini belum sepenuhnya mampu menerapkan prinsip keberagaman tersebut. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Isu-isu SARA masih tertanam dalam benak rakyatnya. Contoh terakhir yang kita dapati adalah ujaran seorang pembuat video di Garut tentang warga gereja yang dikatakannya bisa beribadah, sementara orang Muslim dilarang. Alih-alih menggunakan istilah orang Kristen, pembuat video ini memakai istilah Cina! "Di seputaran daerah Baratayudha nih, ini Cina semua lagi beribadah di gereja nih, sementara orang-orang muslim tidak boleh ke masjid, itu di gereja mah wah banyak,” ungkap suara perekam video itu. (Kompas.com 6 Juli 2021) (cetak tebal dari saya). Ujaran spontan tersebut jelas menunjukkan bahwa kebencian terhadap pihak tertentu itu tertanam di bawah sadar, sehingga bisa meloncat begitu saja saat ada momentumnya.

    Persoalan Tionghoa adalah salah satu yang belum mendapatkan penyelesaian yang memadai. Kerusuhan anti Tionghoa sering sekali terjadi. Kerusuhan anti Tionghoa ini bahkan sudah terjadi sejak jaman Hindia Belanda. Sofyan Tan membeberkan kerusuhan dengan menjadikan Tionghoa sebagai korban di halaman 1-8 di buku ini. Sofyan mendokumentasikan dengan runtut kejadian-kejadian pembakaran aset milik orang Cina dan persekusi fisik dari sejak kejadian di Tangerang tahun 1740 sampai dengan kejadian terbaru Mei 1998.

    Sofyan Tan juga menggambarkan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh orang Tionghoa untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Di tahun 1960-an muncul dua usulan tindakan tentang bagaimana orang Tionghoa bisa menjadi bagian Indonesia seutuhnya. Usulan tersebut adalah integrasi dan asimilasi. Cara integrasi adalah dengan menyatakan bahwa orang Cina adalah bagian dari Indonesia tanpa perlu menghilangkan identitas dan budayanya. Sedangkan asimilasi adalah orang Cina harus melebur kepada suku-suku (dan agama) dimana ia tinggal. Dua gagasan ini sempat menjadi polemik berkepanjangan. Namun saat Orde Baru muncul, maka aliran asimilasilah yang mendapat dukungan dari rezim. Meski sudah berganti nama, bahasa, budaya dan praktik agama di tempat umum tidak lagi bisa dilakukan, namun toh masalah Tionghoa sebagai obyek kekerasan tidaklah surut.

    Sofyan Tan menengarai setidaknya ada faktor eksternal dan faktor internal yang menyebabkan kekerasan kepada orang Tionghoa. Ketiga faktor eksternal adalah (i) terkonesntrasinya masyarakat Tionghoa di sektor bisnis sehingga muncul pandangan bahwa mereka mendominasi kehidupan ekonomi masional, (ii) bertumbuh suburnya prasangka stereotipik terhadap masayrakat Tionghoa dan (iii) adanya kepentingan politik dari kekuatan-kekuatan tertentu yang menjadikan orang Tiongha sebagai korban sosial untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik mereka. Sedangkan faktor internal menyangkut perilaku sejumlah warga Tionghoa, yang masih menjadikan negara sebagai patron mereka dan banyaknya warga Tionghoa yang menggunakan jasa preman untuk menjaga keamanan keluarga, bisnis dan lingkungannya (hal. 13).

    Tentang dominasi ekonomi, Sofyan Tan tidak menyangkalnya. Namun ia juga membeberkan beberapa fakta bahwa orang Tionghoa tidak semuanya kaya. Orang-orang Tionghoa di Kalimantan Barat dan di Tangerang adalah bukti bahwa banyak dari mereka yang berada dalam kondisi miskin. Sedangkan dominasi di bidang ekonomi ini salah satunya disebabkan oleh tertutupnya sektor-sekor lain bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi. Sedangkan stereotipik masyakarat Tionghoa disebabkan oleh peraturan-peraturan negara, tindakan-tindakan masyarakat dan dipenuhinya wacana publik dengan stereotipe tersebut. Misalnya media cenderung menggunakan nama cina saat seorang pengusaha Tionghoa tersangkut kasus korupsi (hal. 19).

    Dalam buku ini Sofyan Tan mengusulkan untuk melakukan dekonstruksi nilai-nilai stereotipik ini. Hal yang diusulkannya adalah melalui pendidikan yang pluralistik (hal 24). Gagasannya ini tidak disyi’arkan melalui kegiatan-kegiatan diskusi, tetapi diwujudkannya dalam tindakan nyata. Sofyan Tan mendirikan sekolah Perguruan Iskandar Muda di Medan (SIM). Di sekolah ini ada aturan dimana orangtua angkat dilakukan secara silang. Orang non Tionghoa menjadi orangtua angkat yang membiayai anak-anak Tionghoa yang miskin. Sebaliknya orang Tionghoa menjadi orangtua angkat yang menanggung biaya sekolah anak non Tionghoa (hal. 26). Bukan hanya dari sisi model pengasuhan, tetapi pelaksanaan persekolahan sepenuhnya dijadikan sarana untuk mendekonstruksi stereotipik tentang Tionghoa ini. Pelajaran demokrasi tanpa memandang ras dilaksanakan melalui pemilihan Ketua OSIS. OSIS juga diberi kesempatan untuk mengevaluasi apakah para guru bersikap rasial atau tidak (hal. 36). Dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah, SIM mendorong terjadinya pembauran. Secara sengaja, SIM memfasilitasi pembentukan kelompok atau tim berbasis pembauran. Misalnya dalam membentuk tim olahraga. Kekompakan atau keterpaduan bukan karena kesamaan suku atau agama. Tapi karena kesamaan kemauan untuk menghasilkan prestasi (hal. 37).

    Selain dari sistem anak asuh dan proses belajar dan berinteraksi di sekolah, SIM juga secara sadar memilih guru dan karyawan sekolah dengan mengutamakan mereka-mereka yang mempunyai visi kebangsaan (hal. 39). Di SIM tempat ibadah dibangun secara berdampingan. Hal ini dimaksudkan untuk mendekonstruksi hegemoni “Rumah Tuhan.” Dengan melihat secara langsung cara bedibadah siswa-siswa yang berbeda agama darinya, maka diharapkan mereka menjadi semakin terbiasa dan tidak merasa asing. SIM juga mendorong siswanya untuk cinta lingkungan dan berwawasan wiraswasta.

    Sofyan Tan tidak hanya melakukan pembauran melalui Sekolah Iskandar Muda. Ia juga mendorong pembauran melalui kegiatan-kegiatan wiraswasta yang duprakarsainya. Usaha-usaha wiraswasta yang sekaligus berwawasan lingkungan itu diantaranya dilaksanakan melalui pengembangan usaha ekowisata (hal 74), budidaya ikan mas di Sungai Irigasi Bohorok (hal. 83), daur ulang sampah dan budidaya rotan (hal. 86), daur ulang karet bekas dan berbagai usaha lainnya. Sofyan Tan juga melihat Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai alat untuk mengurangi stereotipik.

    Sofyan Tan sudah memberikan contoh nyata untuk memecahkan masalah Tionghoa di Sumatra Utara, khususnya di sekitar Medan. Namun ia juga mengingatkan bahwa selama para tokoh politik, intelektual, tokoh agama dan tokoh adat masih membawa isu primodialisme maka persoalan yang menghambat kebhinekaan masih akan terus ada di negeri tercinta. Jadi pemimpin harus berbuat. 608

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 597 kali