Diperlukan Kepemimpinan Inspiratif di Masa Pandemi - Analisa - www.indonesiana.id
x

rakyat dan pemimpin

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 11 Juli 2021 09:45 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Diperlukan Kepemimpinan Inspiratif di Masa Pandemi

    Kita memerlukan kepemimpinan inspiratif yang mampu menyentuh hati dan kesadaran, bukan sekedar kepemimpinan otoritatif yang mengandalkan kewenangan semata. Dimanakah kepemimpinan inspiratif itu berada?

    Dibaca : 1.099 kali

     

    Pandemi Corona yang sudah melewati rentang satu tahun merupakan masa penuh tekanan. Masyarakat dihadapkan kepada ketidakpastian antara harapan wabah segera berakhir dan berulangnya kenaikan kasus positif. Ketegangan psikologis kita naik-turun mengikuti irama naik-turunnya yang sakit dan yang sembuh. Batin kita trenyuh mendengar dan menyaksikan saudara kita berpulang.

    Kita bertanya-tanya: kapan pandemi berakhir, bagaimana mengakhirinya? Mental kita terombang-ambing di tengah tekanan berkepanjangan. Kita berusaha memelihara harapan dan optimisme, meskipun kita juga menyaksikan realitas: rumah sakit penuh, tenaga kesehatan kelelahan dan bertumbangan, serta kematian yang belum juga melandai. Melalui televisi, media online, maupun media sosial, realitas sehari-hari itu mendatangi kita hingga ke dalam kamar tidur; membuat kita sulit tidur nyenyak.

    Dalam situasi krisis panjang, kita merasakan kebutuhan akan kepemimpinan yang inspiratif—pemimpin yang mampu menjadi derigen yang mengerti benar bagaimana menggerakkan setiap lini aparat yang berada di bawah kewenangannya. Namun, ia bukan sekedar pemimpin yang bertumpu pada wewenang yang ia miliki, melainkan pemimpin yang mampu menjadi sumber inspirasi bagi bawahannya.

    Lebih dari itu, ia juga pemimpin yang memantik ide bagi warga masyarakat untuk ikut secara sadar mengambil peran mengatasi pandemi ini bersama-sama: membantu vaksinasi, membantu tetangga yang tengah menjalani isolasi mandiri, membuat dapur umum. Sebagai inspirasi, ia menggerakkan solidaritas sosial, membangkitkan partisipasi tentang apa yang bisa dilakukan oleh warga, membangunkan kebersamaan, dan menjadi simbol kebangkitan warga untuk pulih kembali sebagai masyarakat baru.

    Semua itu terjadi bukan karena semata posisi atau jabatannya, melainkan karena masyarakat memandang dirinya sebagai pemimpin yang tulus, jujur, berempati, dan mengerti apa yang harus dilakukan untuk keluar dari pandemi. Maka, untuk menggerakkan warganya, diksi yang pertama-tama keluar dari pemimpin inspiratif bukanlah peringatan dan ancaman, melainkan penyadaran dan ajakan.

    Situasi pandemik berpeluang menjadi momen perekatan kembali ikatan sosial di antara warga yang mungkin pernah terjebak dalam konflik. Inilah saat untuk melupakan perselisihan, perbedaan pandangan, maupun sekat-sekat sosial yang muncul secara tidak sadar lantaran perbedaan. Inilah momen untuk menghimpun keragaman sumber daya untuk saling menolong dan memperkuat ikatan sosial, bukan sebaliknya. Menjadi tugas pemimpin inspiratif untuk menjalankan peran perekat ini.

    Kepemimpinan di masa pandemi bukanlah perkara teknis semata, seperti memasang target vaksinasi, memastikan tersedianya vaksin, mengatasi kelangkaan oksigen dan masker, mengatasi terlampauinya daya tampung rumah sakit, mengatur agar tenaga kesehatan yang terpapar semakin berkurang. Bukan perkara teknis semata, melainkan pertama-tama ialah membangkitkan kesadaran warga bahwa pandemi adalah tantangan bersama yang harus dijawab bersama-sama—bukan hanya oleh pemerintah, tenaga kesehatan, laboratorium, farmasi,serta aparat.

    Kepemimpinan inspiratif semestinya mengingatkan warga bahwa tantangan ini hanya bisa dijawab oleh kebersamaan dengan menyentuh hati dan pikiran dengan ajakan dan dorongan, bukan dengan peringatan dan ancaman. Sumbangsih pemikiran mesti dilihat sebagai ikhtiar baik untuk membantu mencarikan jalan keluar, bukan menjadikannya credit point yang menjadi watak para pengambil keuntungan di tengah kesukaran. Begitu pula, kritik mestilah dilihat sebagai bahan introspeksi untuk perbaikan penanganan keadaan, bukan sebagai upaya untuk menjatuhkan.

    Benar bahwa virus tidak berpolitik, dan karena itu pemimpin inspiratif harus mengajak seluruh warga untuk menghentikan perkubuan politik, melupakan perbedaan yang tak perlu diperuncing, dan membangun solidaritas sosial atas dasar keadilan. Ini adalah masa-masa genting yang akan semakin parah bila diperuncing oleh pertikaian, tapi juga tidak akan terselesaikan bila pemimpin kehilangan kemampuan pengayoman, sikap adil, dan ketulusan.

    Kita memerlukan kepemimpinan inspiratif yang mampu menyentuh hati dan kesadaran, bukan sekedar kepemimpinan otoritatif yang mengandalkan kewenangan semata. Dimanakah kepemimpinan inspiratif itu berada? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.