Cerpen | Pendakian Maut - Analisa - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 13 Juli 2021 06:32 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cerpen | Pendakian Maut

    Ezra yang belum lama mengalami peristiwa buruk; dia diajak pergi mendaki oleh teman-temannya. Ezra berpikir bahwa acara pendakian itu dapat menyembuhkan traumanya. Akan tetapi, dia tidak pernah tahu, bahwa pendakian itu adalah lembaran baru untuk sebuah peristiwa yang lebih mengerikan untuknya.

    Dibaca : 455 kali

    Kematian dari temanku - Yudis - telah menciptakan rasa duka dan kehilangan yang mendalam, sekaligus kengerian yang penuh misteri. Hari telah berlalu menjadi bulan; tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin. Aku masih teringat jelas, ketika tubuh Yudis hancur saat mendarat di atap mobil ambulans. Tidak ada penjelasan yang lebih logis untuk kematian Yudis, selain pernyataan bahwa dia telah kehilangan kewarasannya dan bunuh diri dengan melompat keluar dari jendela kamar rawatnya di rumah sakit. Tidak ada juga titik terang untuk asal-usulnya benda yang dimiliki Yudis - sebuah patung kayu berbentuk manusia tanpa kepala, dengan ukiran ganjil - yang menciptakan sebuah api aneh dengan bayangan seperti phantasmagoria, dari dalam peti matinya.

    Aku dan Mikel - temanku yang menjadi saksi dari kematian Yudis - juga tidak luput dari kejaran para wartawan, penyelidik, dan teman-teman kuliahku; hanya untuk diwawancarai atau diinterogasi atas kematian Yudis. Aku tidak tahu respon apa yang diberikan Mikel kepada mereka; tapi aku hanya menekankan, bahwa aku tidak mengetahui apa-apa; aku tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Yudis; aku hanya ingin mendamaikan ilusi mengerikan yang telah menghantuiku selama ini. Perihal tersebut terus berlanjut sepanjang waktu, hingga mengusik kehidupan sehari-hariku.

    Hingga pada suatu hari, teman-teman kampus dari komunitas pecinta alam mengajakku untuk ikut melakukan sebuah pendakian, di sebuah gunung di daerah Jawa Timur; secara kebetulan lokasinya dekat dengan desa tempat kami live-in kampus. Alasan utama dari acara pendakian tersebut adalah mereka ingin menangkap cakrawala - di saat matahari terbit dan terbenam - dari atas gunung. Selain itu, berkat acara live-in kampus, telah membuat para komunitas pecinta alam jatuh cinta, sehingga mereka bertekad untuk kembali ke tempat itu demi kesenangan inspiratif mereka. Aku, sebagai salah satu anggota komunitas pecinta alam, lantas mengiyakan ajakan mereka. Karena aku berpikir, bahwa pendakian ini dapat menyembuhkan pikiranku yang telah kusut dan krisis akal sehat, serta melenyapkan mimpi buruk yang terus menyiksaku. Aku juga mengajak Mikel, dan untungnya dia menerima ajakanku.

    ****

    Setelah hari yang ditentukan telah tiba; kami berkumpul di sebuah stasiun kereta, di wilayah Jakarta Pusat, sekitar jam lima dini hari. Disana - selain aku dan Mikel - terdapat empat orang lainnya; mereka bernama Eric, Jeff, Ririn, dan Yanti. Eric adalah ketua dari komunitas pecinta alam, sekaligus pemimpin dari pendakian ini. Dia adalah mahasiswa semester tua dan sangat berpengalaman dalam bidang traveling, berkemah, mendaki, dan menjelajah alam bebas. Alhasil, sebutan sang petualang sangat cocok disematkan untuknya.

    Waktu yang ditempuh untuk menuju ke lokasi pendakian - melalui kereta - adalah 11 jam. Namun bagiku, waktu tempuhnya terasa lebih singkat. Para anggota pendaki mengiringi perjalanan mereka dengan penuh antusias, kecuali aku dan Mikel yang masih dihantui oleh mimpi buruk akan kematian Yudis. Arkian, kami tiba di salah satu stasiun daerah, di Jawa Timur pada sore hari. Kalakian kami menaiki transportasi umum, untuk menuju ke lokasi pendakian.

    Setibanya di lokasi pendakian; kami diberikan instruksi - dari pemandu tempat pendakian - mengenai jalur yang dapat dilewati oleh para pendaki, serta aturan-aturan yang harus ditaati selama mendaki. Mereka juga menawarkan seorang pemandu, untuk setiap rombongan pendaki; tapi ditolak oleh Eric, karena biaya yang tidak murah dan dia sendiri sudah cukup berpengalaman dalam mendaki, sehingga dia mampu memandu rombongannya.

    Arkian, pendakian-pun dimulai. Eric selaku pemimpin pendakian, dia berjalan di paling depan dan menuntun rombongan dengan penuh wibawa. Jeff dan Ririn; mereka sibuk bermesraan dan - sedikit - menghiraukan keadaan sekitarnya; seakan dunia adalah milik mereka berdua. Yanti hanya berjalan mengikuti rombongan, sembari mengamati dan mengambil gambar lingkungan sekitar. Sedangkan aku dan Mikel berjalan di barisan belakang, dengan rasa antusias yang masih ternoda oleh kenangan suram.

    Kami menelusuri dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku tidak bisa menggambarkan betapa serunya perjalanan ini; memasuki hutan yang jauh dari aktivitas manusia. Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang lain, serta tidak lupa mengucapkan salam kepada mereka. Mungkin perjalanan ini bisa menjadi sebuah obat untukku yang sudah rusak, akibat imajinasi liar yang mengerikan.

    Setelah hari sudah gelap; Eric memutuskan untuk menghentikan pendakian dan beristirahat, meskipun keberadaan kami sudah dekat dengan pos pendakian kedua. Dia memilih sebuah tempat di dalam pepohonan jati untuk berkemah; karena tempat tersebut memiliki tanah yang rata, serta tidak ada kerikil atau bebatuan. Sebetulnya teman-temanku berharap agar kami tetap meneruskan perjalanan; tapi Eric menolak dengan alasan terlalu berbahaya untuk mendaki di hari yang sudah gelap, karena - selain itu salah satu aturan tidak tertulis - itu sangat berisiko; ditambah dengan area pendakian yang cukup terjal, sehingga dapat membahayakan nyawa pendaki yang tidak cukup berpengalaman. Walhasil, kami terpaksa untuk melanjutkan pendakian di keesokan paginya.

    Lantas kami memasang tiga tenda; dua tenda untuk pria dan satu tenda untuk perempuan; setiap tenda dapat diisi oleh dua orang. Aku berbagi tenda dengan Eric, sedangkan Mikel berbagi tenda dengan Jeff, begitu juga dengan Ririn yang berbagi tenda dengan Yanti. Malam itu, kami banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang menghibur; seperti bernyanyi di depan api unggun dengan diiringi gitar, bermain kartu, dan sebagainya. Hal tersebut terus berlangsung hingga waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Alhasil, kami semua kembali ke tenda masing-masing, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya.

    Di dalam tenda, Eric banyak sekali melempar pertanyaan kepadaku; dari alasan aku mengikuti pendakian ini, hingga - tidak lupa - dengan membahas kematian Yudis. Aku hanya menjawab seadanya. Walakin, Eric tetap membuka topik pembicaraan terhadapku. Aku tidak pernah menyangka bahwa Eric adalah orang yang ringan lidah; sangat kontras dengan penampilannya yang sangar dan dingin. Percakapan kami berdua terus berlangsung hingga tengah malam; sampai akhirnya kami tertidur dengan sendirinya.

    Namun, seketika kami kembali terbangun, setelah mendengar suara Mikel yang membangunkan kami dari luar tenda. Lantas Eric - yang lebih sigap - langsung keluar dan menemui Mikel yang melukis kegelisahan di wajahnya. Dia bersaksi bahwa Jeff belum kembali ke tenda, setelah dia pergi untuk buang air kecil. Mikel juga menambahkan bahwa dia sudah keluar mencari Jeff, tapi dia tidak menemukannya. Mendengar kesaksian itu, Eric langsung bergegas keluar sembari membawa sebuah senter, lalu menelusuri area sekitar perkemahan kami. Aku ikut membantu mencarinya; karena aku juga khawatir dengan keberadaan Jeff. Setelah kami bertiga menelusuri tempat tersebut, seketika Eric menemukan bercak darah - yang kami terka adalah darah Jeff - di tanah, yang lokasinya tidak jauh dari tenda Mikel dan Jeff.

    Lantas insting Eric - sebagai seorang petualang - mulai berbicara dan menyadari perihal yang tidak benar. Dia bergegas menuju ke tenda pendaki perempuan dan membangunkan mereka. Kemudian Eric menyuruh mereka untuk segera berkemas, dan pergi ke pos pendakian kedua - karena letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada - untuk meminta bantuan kepada pemandu, penjaga hutan, atau pendaki lainnya. Ririn dan Yanti sangat terkejut dan meminta keterangan dari Eric; tapi penjelasan Eric hanya membuat Ririn - selaku pacar Jeff - menjadi panik dan besikeras untuk ikut mencari kekasihnya. Alhasil, terjadi sedikit perdebatan di antara mereka berdua. Setelah Eric berhasil meyakinkan Ririn; alhasil Ririn bergegas membereskan diri dengan perasaan gundah. Kemudian Eric meminta Mikel untuk menuntun para pendaki perempuan ke pos pendakian kedua, sembari memberikan sebuah peta jalur pendakian kepadanya; sedangkan Eric dan aku akan mencari Jeff.

    ****

    Setelah Mikel bersama para pendaki perempuan sudah berjalan pergi; aku dan Eric langsung pergi menjelajahi hutan yang gelap, dengan hanya ditemani oleh sebuah senter di setiap tangan kami, sekaligus mengikuti arah bercak darah yang berceceran di tanah. Bahkan kami juga menemukan beberapa potongan daging kecil, yang kami duga itu milik Jeff. Aku bergidik ngeri melihatnya, sedangkan Eric terlihat berusaha pagan dan masih dapat mengontrol rasa takutnya.

    Kami menjelajahi hutan jauh lebih dalam; sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang lapang; dipenuhi oleh reruntuhan candi yang tak bernama, sangat tua, dan berarsiktekur ganjil. Tempat itu telah ditumbuhi oleh rerumputan, lumut, dan ilalang menjalar, serta dipenuhi oleh bau yang tidak masuk akal dan dapat diasosiasikan dengan bau batu yang telah membusuk. Bahkan kami juga mendapati berbagai macam patung aneh, dengan ukiran-ukiran absurd dan mengerikan, yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Seakan-akan kami baru saja menemukan sebuah peninggalan sejarah yang belum terekspos; sebuah peninggalan dari peradaban ganjil yang hilang dari catatan sejarah.

    Secara sekilas, kami melihat bercak darah itu mengarah ke dalam sebuah gua - terletak di tengah reruntuhan candi - yang terbuat dari bebatuan granit, yang menghantarkan ke bawah tanah. Saat kami mendekati mulut gua tersebut; di dalam sana sangat gelap gulita, dengan dinding yang telah ditumbuhi oleh akar merambat dan lumut, serta sebuah anak tangga yang terbuat dari bebatuan kapur yang cacat dan tidak rata. Di anak tangga itulah, kami mendapati bercak darah itu melaju ke dalam kegelapan yang tak berujung.

    "Maaf Ezra, sepertinya kamu harus tinggal di permukaan. Apabila dilihat dari medannya, tempat ini sangat berbahaya. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di dalam sana. Aku takut bahwa aku tidak bisa menjamin keselamatanmu." ujar Eric.

    Lantas aku menolak permintaannya, dan memaksa untuk ikut bersamanya masuk ke dalam gua. Alhasil, terjadilah sebuah perdebatan di antara kami berdua. Namun, harus kuakui bahwa Eric adalah orang yang sangat keras kepala, sehingga aku terpaksa harus mengalah dengannya. Mungkin ada benarnya permintaan Eric; sebab dia adalah orang yang sangat berpengalaman dalam bidang ini, dan mungkin dia juga tahu bahwa aku bukan orang yang tepat untuk diajak masuk ke dalam gua yang tidak jelas asal-usulnya.

    Kemudian, Eric mengeluarkan sepasang woki-toki - dari dalam tas ranselnya - yang di desain untuk kegiatan berkemah. Kalakian dia memberikan salah satunya kepadaku. Sebab di tempat ini, ponsel tidak dapat digunakan karena tidak ada jaringan sinyal. Alhasil, woki-toki kemah menjadi satu-satunya alat komunikasi yang dapat kami gunakan saat ini.

    "Aku akan memberimu kabar lewat woki-toki ini. Jika terjadi sesuatu padaku, cepatlah pergi cari bantuan!" ujar Eric kepadaku, sebelum dia memasuki mulut gua.

    Arkian, aku hanya menyaksikan kepergiannya dari mulut gua dengan diselimuti oleh perasaan gelisah, hingga tubuh Eric menghilang seutuhnya di dalam kegelapan. Setelah itu, aku hanya bisa menunggu tanpa arah, dengan diisolasi oleh rasa takut yang tidak pasti, dan ditemani oleh beberapa patung terkutuk yang salah satunya memiliki rupa tidak asing. Saat kuteliti dan ingat-ingat; patung itu memiliki rupa yang sama dengan patung kayu yang dimiliki Yudis. Sebuah patung tanpa kepala - bukan karena distorsi alam atau vandalisme tangan manusia - dan memiliki ukiran yang sama ganjilnya. Apakah Yudis pernah datang ke tempat ini, untuk suatu tujuan yang tidak pernah kuketahui? Lebih-lebih bila kuingat secara letak geografisnya, tempat ini lumayan dekat dengan desa tempat kami live-in kampus dulu.

    "Ezra... Ezra... apa kamu dengar suaraku?" ujar Eric dari woki-tokinya secara tiba-tiba, sehingga mengagetkanku yang sedang terfokus melihati patung ganjil itu.

    "Eric... iya... aku mendengarmu." balasku.

    "Ya Tuhan... jika kamu bisa lihat apa yang kulihat! Tempat ini sangat mengerikan... mustahil... tidak bisa dipercaya!" ujar Eric.

    "Apa itu Eric? Apa itu?" tanyaku.

    "Ezra... tempat ini... aku belum pernah melihatnya! Ini sangat dahsyat! Aku tidak bisa memberitahumu, Ezra! Aku tidak berani memberitahumu! Ini... ini tidak masuk akal!" balasnya dengan gugup.

    Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Perihal yang bisa kulakukan adalah melempar pertanyaan gemetar kepadanya. Namun, Eric tidak memberikan jawaban yang pasti.

    "Aku menemukan Jeff!" ujar Eric.

    "Jeff? Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku.

    Eric tidak membalas dalam beberapa waktu.

    "Halo Eric... kamu mendengar suaraku?" tanyaku lagi.

    "Astaga... mereka... makhluk apa mereka! Oh Tuhan... mereka memakan Jeff!" balas Eric dengan gamang.

    "Apa kamu bilang?"

    "Jeff... Jeff sudah mati!" jawab Eric dengan nada panik.

    Aku yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa, selain bergidik ngeri dan menatap kosong ke dalam gua, dengan penuh ketakutan yang sulit dijelaskan.

    "Oh Tuhan! Mereka melihatku!" ujar Eric dengan nada yang lebih panik.

    "Eric! Cepat keluar dari tempat itu!" perintahku.

    Eric tidak menjawab dalam beberapa waktu; kalakian dia kembali membalasku dengan nada yang penuh keputusasaan.

    "Demi Tuhan... Ezra... kamu harus cepat pergi dari tempat ini! Itu satu-satunya harapanmu! Lakukan apa yang kukatakan... dan jangan minta penjelasan!"

    "Tidak Eric... tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu!"

    "Sudah terlambat! Aku tidak bisa... aku tidak bisa kembali... cepat tinggalkan aku! Mereka... mereka sangat berbahaya!" ujar Eric dengan penuh kepanikan liar.

    "Kalau begitu... bertahanlah! Aku akan menyusulmu!" ujarku.

    "Tidak... jangan... dasar bodoh! Cepat pergi... sebelum terlambat!" teriak Eric yang kemudian diikuti oleh suara raungan mengerikan, dan panggilan diakhiri dengan suara jerit histeris yang terputus.

    Aku hanya bisa berteriak-teriak memanggilnya. Tetapi tidak ada balasan dari Eric. Hanya ada kesunyian mencekam yang menyelimutiku. Lantas aku mulai mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam gua, dan tidak menghiraukan pesan dari Eric. Tetapi, sewaktu aku hendak memasuki gua, aku mendapati kehadiran sosok yang sedang berjalan keluar dari dalam kegelapan, menuju ke arahku berada.

    "Eric! Apa itu kamu?" tanyaku sambil mengarahkan cahaya senter ke sosok itu.

    Namun, dari ujung pandanganku; aku hanya mendapati sosok itu dengan sangat samar, akibat diselimuti oleh kegelapan yang pekat dan mengaburkan. Dari sisa-sisa pandangan terjelasku, aku mendapati bahwa sosok itu bukanlah Eric. Aku tidak tahu apa yang kulihat sekarang ini. Dia tidak wajar; tidak manusiawi; tidak utuh! Kemudian sosok itu tertawa dengan suara yang dalam dan menyeramkan, sehingga menggetarkan jiwaku. Lalu dia berkata;

    "Eric? Dia sudah mati!"

    ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.