Suara Buya Syafii Maarif, Suara Kita (oleh: David Krisna Alka) - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Syafii Maarif. TEMPO//Hilman Fathurrahman W

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 14 Juli 2021 05:48 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Suara Buya Syafii Maarif, Suara Kita (oleh: David Krisna Alka)

    Banyak kritik dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Itu sah, pemerintah mesti menyikapi dengan lapang dada. Akui banyak kekurangan dan kelemahan. Tetapi pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara ratusan triliun rupiah, dan itu perlu dihargai. Pemerintah sungguh-sungguh melindungi rakyatnya. Jangan ada fikiran negatif. Kita harus bahu-membahu sambil berdo'a untuk mengibarkan bendera optimisme.

    Dibaca : 1.145 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis Peneliti MAARIF Institute for culture and humanity dan Deklarator JIB

     

    Judul tulisan ini nada-nadanya serupa dengan adagium vox populi, vox dei (suara rakyat,  suara tuhan). Melonjaknya kasus pandemi Covid-19 di Indonesia, adagium ini bolehlah diambungkan lagi.

    Lihat, petugas kesehatan sudah pontang-panting bekerja, rakyat banyak bimbang tak karuan, jangan sampai pula pemerintah kewalahan, sehingga negeri ini centang perenang dan tunggang-langgang.

    Oleh karena itu, suara Buya Ahmad Syafii Maarif, juga bagian dari suara kita, sebagai suara rakyat, penting untuk ditanam dalam-dalam di telinga elite politik negeri ini.

    Ya, sejak awal Covid-19 muncul, interaksi berbalas pesan di gawai antara penulis dengan Buya Maarif ini bisa dikatakan hampir setiap hari. Guru rakyat ini acap kali mengirim pesan-pesan kegelisahan tentang kondisi moral bangsa dan situasi aktual keumatan dan kondisi sosial-politik di republik ini.

    Belum lama ini, 06 Juli 2021, pukul 05.57 WIB, Buya Maarif mengirim pesan WhatsApp: "Banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Kritik itu sah, maka pemerintah mesti menyikapinya dengan lapang dada dan jiwa besar. Akui banyak kekurangan dan kelemahan di sana  sini. Tetapi bahwa pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara puluhan bahkan ratusan triliun perlu dihargai akan kesungguhannya melindungi rakyatnya yang sedang menderita dan dalam kesusahan. Jangan ada fikiran negatif bahwa ancaman wabah ini akan menjurus kepada krisis politik nasional yang pasti akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu mari kita bahu membahu sambil berdo'a untuk mengibarkan bendera optimisme, sekalipun di tengah tantangan yang berat ini."

    Kemudian penulis mencari lagi beberapa pesan Buya yang pernah “menegur” pemerintah dan mengingatkan kita semua di masa wabah korona.

    Jerit batin

    Pada 24 Maret 2020, penulis mendapatkan pesan Buya Maarif yang mengatakan bahwa info tentang Covid-19 begitu masif disiarkan melalui media cetak, TV, dan media sosial, namun peringatan agar tetap waspada dan tidak panik, kurang begitu diacuhkan publik. Kata Buya, tetapi bukankah akan lebih baik kita mau merenung untuk meningkatkan stamina spiritual kita agar terlihat jelas keterbatasan manusia dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya.

    Menurut Buya Maarif, teknologi kedokteran semakin canggih, tetapi jenis penyakit pun tidak mau kalah. Inilah dunia tempat kita bermukim sementara untuk kita pelihara bersama, bukan untuk ditaklukkan. Bahkan, pada 31 Agustus 2020, Buya sampai berujar seperti ini:

    “Ya, Allah, kami mohon agar Covid-19 yang mematikan ini segera menghilang dari muka bumi. Sudah 100 hambaMu para dokter yang wafat akibat keganasan wabah ini. Ya, Allah, ampuni segala dosa kami, amin.”

    Pada 13 September 2020, kegelisahan Buya Maarif kian menjadi. Buya Maarif mengirim jerit batinnya kepada Yang Mulia Presiden Republik Indonesia. Jerit batin Buya Maarif itu diunggah akun Twitter @SerambiBuya. Sudah 3000 lebih akun yang retweet jerit batin Buya itu. Apa isi surat batin Buya Maarif kepada Yang Mulia Presiden Presiden Indonesia?

    Buya Maarif menulis, sebagai salah seorang yang tertua di negeri ini, batinnya menjerit dan goncang membaca berita kematian para dokter yang sudah berada pada angka 115 pagi itu plus tenaga medis yang juga wafat dalam jumlah besar pula. Pesan Buya kepada Presiden, mohon diperintahkan kepada Menteri Kesehatan dan jajarannya untuk berupaya semaksimal mungkin menolong nyawa para dokter. Jika begini terus, bangsa ini bisa oleng karena kematian para dokter saban hari dalam tugas kemanusiaannya di garis paling depan.

    Kini, setelah Buya Syafii mengungkapkan jerit batinnya itu, tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19 melonjak lagi. LaporCovid-19 melaporkan ada 1.207 tenaga kesehatan yang meninggal akibat Covid-19. Data ini merupakan akumulatif kematian nakes selama pandemi Covid-19 hingga 9 Juli 2021. Selain tenaga kesehatan apalagi, makin tinggi.

    Beban hidup

    Dalam beberapa tulisannya, kegelisahan Buya acap kali hadir menyuarakan beratnya beban kehidupan rakyat dalam menghadapi wabah korona. Buya pernah mengungkapkan, drama tragis dan mematikan akibat serangan Covid-19 tidak akan pernah selesai dibicarakan. Jangankan untuk ukuran dunia, laporan tentang dampak destruktifnya terhadap Indonesia saja bisa ditulis dalam ribuan halaman. Mulai dari korban para dokter, petugas kesehatan, ekonomi yang jatuh, plus derita rakyat banyak.

    Dalam salah satu tulisannya yang berjudul Bangsa Ini Jangan Sampai Retak (2020), Buya kembali mengingatkan, saat itu, ada pihak yang semula tak memperkirakan seburuk ini akibatnya. Maut mengancam di setiap sudut bumi nusantara, terutama di kawasan perkotaan. Presiden jelas pusing dibuatnya. Ekonomi sukar bergerak, persatuan bangsa terasa agak goyang.

    Teguran Buya kepada pihak yang kelakuannya seperti "ikan lele" pun tak ketinggalan. Menurut Buya, pihak dengan mental ikan lele tetap saja memperkeruh keadaan dengan segala kegenitannya, tak peduli jika bangsa ini retak.

    Yang terbayang

    Pada 23 Februari 2021, Buya Bangsa Ahmad Syafii Maarif mengabarkan bahwa dirinya pernah merasakan wabah korona sekalipun dalam bentuk tanpa gejala (OTG). “Macam-macamlah yang terbayang. Awak yang sudah sepuh ini diserang pandemi lagi, sekalipun dalam bentuk OTG. OTG seperti saya ini, mungkin yang masih beruntung karena perlindungan Allah belaka,” demikian kesah Buya.

    Begitulah, selain berharap perlindungan dari Sang Pencipta, demi menjaga kelangsungan hidup kita semua, semangat solidaritas sosial dan saling membantu perlu selalu diingatkan. Kita tidak mungkin hidup sendirian di muka bumi, kita memerlukan orang lain. Tanpa orang lain, kita tidak punya arti apa-apa. Demikianlah beberapa pesan kearifan Buya Ahmad Syafii Maarif. Jika ditelusuri coretan-coretan batin Buya Maarif, banyak sekali kegelisahan di dalamnya.

    Semua pesan moral Buya Bangsa di masa pandemi itu penting kita bumikan dalam pelaksanaan sehingga tak macam-macam yang terbayang, apalagi di masa darurat ini. Ya, republik ini harus kita jaga dan tetap berdiri dalam keberbagaiannya, sedarurat apa pun itu.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.