Membandingkan Coronavirus dan Flu Spanyol - Analisa - www.indonesiana.id
x

Relawan GEBRAK COVID-19 menjadi salah satu garda terdepan penanganan wabah di Kecamatan Andir, Kota Bandung

syarifuddin Abdullah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 16 Juli 2021 05:59 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Membandingkan Coronavirus dan Flu Spanyol

    Tentu kita sangat tidak berharap pandemi Coronavirus akan mengikuti jejak wabah Flu Spanyol dalam tiga hal: periode waktu (27 bulan), total orang yang terjangkit (setengah miliar di seluruh dunia), dan jumlah kasus meninggal dunia (50 juta orang).

    Dibaca : 501 kali

    Jika coba dibandingkan secara sederhana dengan kasus Flu Spanyol, maka rekomendasi yang masih paling relevan saat ini adalah tetap: hope for the best, and prepare for the worst.

    Seperti diketahui, Flu Spanyol berlangsung selama sekitar 27 (dua puluh tujuh) bulan (Februari 1918 hingga April 2020). Sementara coronavirus baru berlangsung sekitar 19 bulan (jika dihitung sejak Pemeritah China resmi mengumumkan pandemi pada 31 Desember 2019 hingga Juli 2021). Artinya, coronavirus masih mungkin akan berlangsung paling kurang selama 8 (delapan) bulan lagi ke depan, atau hingga kuartal pertama tahun 2022. Tapi selalu ada kemungkinan periode pandemi coronavirus lebih lama dibanding Flu Spanyol.

    Selama periode 27 bulan itu, Flu Spanyol diperkirakan menulari sekitar setengah milar (500 juta) orang di seluruh dunia. Coba bandingkan dengan coronavirus yang hingga hari ini (14 Juli 2021) sudah menjangkiti sekitar 190 juta orang di seluruh dunia (berdasarkan data worldometers.info). Artinya, jika mengacu pada fakta jumlah kasus Flu Spanyol, maka jumlah pasien coronavirus yang 190 juta orang itu, baru mencapai sekitar 40 persen.

    Dan menurut catatan historisnya, jumlah korban meninggal dunia saat Flu Spanyol diperkirakan sekitar 50 juta orang. Sementara hingga hari ini (14 Juli 2021) jumlah kasus meninggal dunia akibat coronavirus telah mencapai angka lebih dari 4 (empat) juta orang di seluruh dunia (berdasarkan data worldometers.info). Artinya masih jauh dari total kasus meninggal dunia Flu Spanyol.

    Tentu kita sangat tidak berharap bahwa coronavirus akan mengikuti jejak Flu Spanyol dalam tiga hal: periode waktu, total orang yang terjangkit dan jumlah kasus meninggal dunia.

    Namun jika mengacu pada fakta di berbagai negara sekarang ini, sekali lagi, rekomendasi yang masih paling relevan untuk semua orang adalah tetap: hope for the best, and prepare for the worst. Sambil tetap meminimalkan kontak fisik; menjaga stamina tubuh; melakukan vaksinasi; dan secara spritual: jangan angkuh atau meremehkan potensi ancaman coronavirus.

    Yang unik, di beberapa negara, coronavirus dengan segala varian barunya, seolah punya telinga untuk mendengar dan indera untuk mendeteksi orang-orang yang menyangkal keberadaannya. Tapi kesimpulan analisis seperti ini, meski banyak buktinya, mungkin akan dianggap sebagai hasil praktek perdukunan.

    Corona menyerang mereka yang terkesan menantangnya secara angkuh. Sebuah video viral memperlihatkan dua lelaki, tanpa masker, sengaja menjenguk pasien corona yang terbaring lemas di rumah sakit. Lalu secara bergantian, kedua lelaki itu mendekatkan mulut-hidungnya yang tanpa masker ke mulut-hidung pasin covid-19, menantang seolah ingin menghirup virus ke dalam mulutnya. Dan cerita lanjutannya, kedua lelaki itu sakit dan akhirnya tewas.

    Memang, beberapa orang yang awalnya tidak percaya coronavirus pelan-pelan mempercayainya setelah orang-orang dekatnya (anggota keluarga, sahabat, tetangga dan kolega kerjanya) tiba-tiba jatuh sakit dan sebagian akhirnya meninggal dunia.

    Seorang Presiden negara di Amerika Latin, sejak awal tidak percaya corona. Dan sejak itu hingga saat ini, jumlah pasien covid-19 di negaranya terus dan nyaris konsisten menduduki peringkat lima besar di dunia. Jumlah kasus meninggal dunia di negeri Amerika Latin itu telah melampai setengah juta jiwa.

    Namun harus juga diakui bahwa tak satupun pemerintahan negara di dunia, bahkan di negara-negara maju sekalipun, yang benar-benar dapat dianggap sukses menanggulangi penularan covid-19. Nyaris semua rekomendasi para pakar telah dilaksanakan, termasuk vaksin.

    Dan mengacu pada analisis dan rekomendasi para pakar virologi, satu-satunya jalan paling efektif menghadang daya tular coronavirus adalah vaksin. Okay.

    Namun ketika akhirnya berbagai jenis vaksin mulai disuntikkan, sejumlah varian baru coronavirus juga bermunculan. Awalnya Varian Inggris (B117), lalu varian Brasil (B1128.P1), kemudian varian Afrika Selatan (501Y.V2), lantas varian Lambda Peru. Dan kini semua mata memelototi varian India (B1617), yang ternyata sudah beranak-pinak pula: Kappa (B.1617.1), Delta (B.1.617.2), dan beberapa turunannya lagi.

    Dan kita tahu, dari segi waktu riset-uji klinis-nya, sebenarnya hampir semua vaksin yang kini beredar di pasaran, adalah hasil riset untuk menangkal varian awal coronavirus. Tidak aneh jika dalam banyak kasus, beberapa vaksin itu tidak begitu manjur menangkal serangan corona varian-varian baru.

    Singkat cerita, dari semua upaya prokes yang telah dilakukan, tidak/belum ada petunjuk kuat bahwa penularan corona virus akan segera berhenti.

    Syarifuddin Abdullah | Den Haag, 14 Juli 2021, 04 Dzul-hijjah 1442H



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.