Kesaksian Petugas Nakes, Kerap Ada Kekeliruan Saat Warga Tes Swab Sendiri - Analisa - www.indonesiana.id
x

Fenomena tenaga kesehatan

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Kamis, 22 Juli 2021 14:25 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kesaksian Petugas Nakes, Kerap Ada Kekeliruan Saat Warga Tes Swab Sendiri

    Masyarakat kerap mendengar beragam istilah protokol penanganan wabah, seperti 5M, swab antigen,  hingga isolasi mandiri. Tapi itu tidak menjamin mereka memahami mendalam metode penangaan wabah tersebut. Hingga kini, tak sedikit warga yang melakukan tes antigen senniri dan ternyata keliru dalam memperoleh hasil akhir. Ini bisa riskan.

    Dibaca : 423 kali

    Pemeriksaan tes swab melalui tenaga kesehatan lebih dianjurkan daripada pemeriksaan tes swab yang dilakukan awam. (Sumber gambar: Dok. Tim PUSPA Puskesmas Dago)

    Terjadi lonjakan kasus Covid-19 sepanjang Juli 2021. Kapasitas testing harian untuk suspek dan kontak erat sepanjang periode lonjakan meningkat hingga 2-4 kali lipat dari biasanya.

    Dalam rentang waktu penanganan wabah yang panjang, masyarakat kerap mendengar beragam istilah protokol penanganan wabah, seperti 5M, swab antigen,  hingga isolasi mandiri, meski tidak menjamin adanya pemahaman mendalam terhadap metode penangaan wabah tersebut.

    Suatu ketika datang keluarga bergejala seperti Covid-19 ke puskesmas kami. Dengan gejala serupa flu (influenza like illness/ILI), sesuai ketentuan, keluarga itu perlu masuk ke poli ILI. Berdasarkan anamnesa dokter diputuskan keluarga tersebut perlu melaksanakan tes swab lantaran berstatus suspek.

    Saat dokter hendak melaksanakan swab, tiba-tiba sang pasien mengeluarkan alat antigen bertanda positif. Salah satu anggota keluarga itu lantas mengklaim mereka telah laksanakan swab antigen mandiri, namun ketika dokter menanya surat resmi laboratorium, mereka tidak sanggup menjawab.

    Tes swab mandiri, bagi keluarga itu, dan mungkin keluarga lain, bukanlah tes berbayar di laboratorium, melainkan sekadar pelaksanaan tes swab antigen dengan pemahaman dan kemampuan pribadi.

    Sebelum keluarga itu, beberapa waktu lalu juga, datang seorang bapak ke puskesmas. Ia mengaku hilang indra penciuman, sulit merasakan makanan, sempat demam, dan merasa pegal-pegal selama tiga hari ke belakang.

    Ia mengaku hasil swab antigennya di rumah pagi itu negatif dan bingung mengapa hasil di puskesmas tunjukkan positif. Lagi-lagi, sang bapak mengaku melaksanakan tes antigen sendiri dengan alat yang dibeli di online shop dan pengetahuan yang didapat dari menonton tutorial Youtube.

    Kendati tren ini lazim, tenaga kesehatan seperti kami kerap bingung mengamatinya. Pemeriksaan dengan metode swab antigen sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan yang kompeten untuk hasilkan simpulan yang valid.

    Beragam Alasan

    Telah menjadi rahasia umum, pelaksanaan swab antigen oleh masyarakat awam memiliki tingkat akurasi rendah  Prosedur swab antigen dilaksanakan dengan mendorong tangkai pengambil spesimen ke nasofaring atau bagian atas tenggorokan untuk mengambil sampel.

    Jika hal ini tidak dilakukan dengan tepat, hasil uji kemungkinan menampilkan tanda negatif, walau pasien mungkin terinfeksi dan bergejala berat.

    Hidung sendiri merupakan bagian tubuh yang sensitif terhadap benda asing. Selalu ada kemungkinan seorang pasien bersin ketika tangkai swab antigen masuk ke dalam rongga hidung.

    Jika pasien bersin dan tangkai pengambil sampel patah, bisa terjadi pendarahan hebat. Dan jika pengambil sampel tidak cukup kompeten, hal tersebut mampu sebabkan pendarahan lebih serius.

    Tes Gratis?

    Sebenarnya, pelayanan kesehatan memfasilitasi akses tes gratis kepada masyarakat, namun dengan beberapa ketentuan.

    Alexander K. Ginting, Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, menyebut pelayanan swab PCR gratis dimungkinkan melalui mekanisme penelusuran kontak (CNN Indonesia, 1/7).

    Singkatnya, warga atau masyarakat yang merasa memiliki kontak dengan kasus konfirmasi atau merasakan gejala bisa mendatangi puskesmas untuk melaksanakan swab PCR gratis.

    Namun, ada beberapa syarat yang perlu mereka lengkapi sebelumnya, seperti mengisi formulir, melengkapi surat domisili, dan membawa kartu identitas atau KTP.

    Tenaga kesehatan tentu tidak bisa melarang masyarakat melaksanakan swab antigen sendiri. Namun yang pasti, pemeriksaan di fasilitas kesehatan jauh lebih dianjurkan untuk menghindari kesimpulan yang keliru ataupun potensi cedera yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

     

    Tentang Program PUSPA

    Program PUSPA (Puskesmas Terpadu dan Juara) merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang didukung oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dalam memperkuat respons penanganan Covid-19 di puskesmas. Program ini merekrut 500 tenaga kesehatan sebagai field officer yang akan ditugaskan di 100 puskesmas di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat. Program PUSPA bertujuan menguatkan upaya deteksi, lacak kasus, edukasi publik terkait 3M, menyiapkan vaksinasi Covid-19, hingga memastikan pemenuhan layanan kesehatan esensial di Jawa Barat.

     

    Tentang CISDI

    Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

     

    Penulis

     

    Priska Natasya

    Tim Puskesmas Terpadu dan Juara

    Puskesmas Dago

    Kota Bandung

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.