PPKM Darurat Malah Memanen Masalah - Analisa - www.indonesiana.id
x

ppkm darurat

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 18 Juli 2021 12:25 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • PPKM Darurat Malah Memanen Masalah

    Andai saja sejak awal Indonesia di lockdown, rakyat digaransi kehidupannya, Apakah kira-kira corona akan sehebat sekarang? Tapi malah terus bersembunyi di balik kata-kata PSBBlah, PPKM lah! Dan, daerah juga yang wajib ikut menangggung beban.

    Dibaca : 341 kali

    Membaca berita, menonton berita, dan melihat sekeliling lingkungan, semua dipenuhi kisah kebijakan pemerintah yang kini sangat dirasakan rakyat Indonesia sebagai bentuk usaha mengatasi wabah corona. Sayang, teriakan rakyat atas kebijakan terbaru, pemerintah tak adil dan tak berperikemanusiaan.

    Dampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah sulit dikalkulasi jumlahnya. Ada yang didenda, ada yang ditahan di bui, dan rakyat pun terus berteriak atas ketidakadilan yang dibikin oleh pemerintah terhadap rakyat. Pergerakan dibatasi, usaha dilarang, tapi tak memberikan jaminan kehidupan yang sesuai apalagi memberi ganti rugi dari usaha rakyat kecil yang harus ditutup pun tidak.

    Pemilik esensial-kritikal kaya

    Sementara, siapa yang ada di balik sektor esensial dan kritikal yang masih boleh bergerak dan berjaya? Pantas saja, di tengah rakyat menderita, ada golongan rakyat Indonesia yang malah bertambah kaya raya!

    Memang kasus Corona terus melambung, tapi siapa yang menjadi penyebab Corona tumbuh subur di Indonesia? Saat Corona baru beredar dari Wuhan, Presiden Indonesia tetap membuka pintu masuk Indonesia dari Warga Negara Asing (WNA). Malah saat itu, miliaran rupiah juga digelontorkan untuk membayar influenser demi wisatawan asing tetap kunjung ke Indonesia.

    Bukannya me-lockdown Indonesia, sikap tak tegas dan setengah-setengah justru ditunjukkan oleh pemimpin Indonesia, karena ada beban menyangkut ekonomi dan bukan ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil dan mengalahkan masalah kesehatan dan nyawa.

    Hasilnya, Corona semakin betah, terlebih semua peraturan dan kebijakan yang setengah-setengah hanya ketat untuk rakyat Indonesia, tapi tak ketat untuk rakyat asing yang justru membawa virus corona.

    Tak kurang-kurang rakyat dan berbagai pihak teriak, sampai pada akhirnya, virus delta dari India pun lolos masuk Indonesia. Apa ini salah rakyat?

    PPKM darurat menyiksa rakyat!

    Tapi kini PPKM darurat dibuat, lebih tepatnya untuk menyiksa rakyat Indonesia, akibat buah dan ulah dari sikap pemerintah. Rakyat abai dan tak peduli, semua itu terjadi, akibat dari pemerintah yang tak bisa dipercaya.

    Kini, sangat-sangat wajar bila ada unggahan di media sosial yang meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyudahi PPKM darurat. Sebab, si pengunggah bercerita bahwa dirinya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lantaran warung tempatnya mencari nafkah tidak diperbolehkan buka imbas adanya PPKM darurat. Sementara satu-satunya sumber penghasilannya hanya dari berjualan.

    Dana bantuan yang dikucurkan pemerintah, disebutnya juga tidak tersalur secara merata.

    Sejatinya, cerita itu mewakili seluruh rakyat Indonesia. Kasihan rakyat kecil, sudah bansos tak merata dan tak cukup menutup kebutuhan, warung ditutup tidak boleh berjualan. Rakyat berteriak bagaimana bayar angsuran hutang, tagihan listrik, tagihan pokok dll. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari jualan dan ada yang cukup untuk makan sehari, ada yang tak cukup.

    Rakyat juga berteriak, para petugas yang menertibkan rakyat kecil di saat PPKM itu, mereka gajian. Rakyat kecil tak gajian. Jualan hanya untuk sesuap nasi!

    Bila melihat lebih dalam dan lebih dekat, rakyat juga terus terdampak psikologisnya. Terus hidup dalam kecemasan, depresi, menurun tingkat produktivitasnya, hingga sampai berdampak pada mental.

    Sebenarnya, mau PSBB, mau PPKM boleh saja, tapi pikirkan kebutuhan pokok masyarakat! PPKM darurat diberlakukan, tapi tak diimbangi oleh jaminan kehidupan oleh pemerintah.

    Rakyat pun berpikir, pemerintah hanya mau menekan rakyat demi kepentingannya, tapi tak menjamin kehidupan rakyat dan malah menekan kehidupan rakyat dengan tak adil. Meski benar, seluruh bangsa ini harus memerangi corona.

    Buah sikap pemerintah

    Inilah, buah dari sikap tak tegas pemerintah. Sikap setengah-setengah. Tapi juga tak adil karena rakyat digencet, mereka justru melanggar aturan yang dibuat sendiri.

    Sejak awal berbagai pihak berharap pemimpin negeri me-lockdown Indonesia, tapi ternyata tidak pernah mau. Kini terjawab, sementara rakyat terus ditekan dengan ketidakadilan, ada sebagian rakyat yang justru tambah kaya di tengah pandemi. Mengapa bertambah kaya? Rakyat juga tahu jawabnya.

    Seandainya Indonesia sejak awal Corona datang tegas me-lockdown dan terus ketat menjaga pintu masuk dari WNA dan WNI yang dari manca negara, tentu Corona tak akan sehabat sekarang. Rakyat pun tentu akan salut, percaya kepada pemerintah. Lalu, terus peduli dan mendukung setiap kebijakan pemerintah menyangkut Corona ini

    Sayang, sejak awal pemerintah telah menabur benih sikap plin-plan, melanggar aturan yang dibuat sendiri, bersikap setengah-setengah. Maka, inilah balasan rakyat. Kira-kira bagaimana sikap rakyat bila PPKM darurat diperpanjang? Bagaimana sikap rakyat Indonesia terhadap pemerintah?

    Andai saja sejak awal Indonesia di lockdown, rakyat digaransi kehidupannya, apakah kira-kira Corona akan sehebat sekarang? Tapi malah terus bersembunyi di balik kata-kata PSBBlah, PPKM lah! Dan, daerah juga yang wajib ikut menangggung beban. Sebenarnya karena apa? Bersembunyi di balik kebijakan itu? Rakyat juga tahu.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.