Literasi Idul Adha, Orang Mampu Tapi Tidak Mau? - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan memeriksa kondisi hewan kurban yang dijual di Indramayu, Jawa Barat, Senin, 5 Agustus 2019. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menjamin kelayakan dan kesehatan medis hewan kurban untuk dikonsumsi serta mengetahui usia hewan yang layak untuk kurban. ANTARA

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 19 Juli 2021 05:41 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Literasi Idul Adha, Orang Mampu Tapi Tidak Mau?

    Bisa jadi orang-orang yang mampu dan tidak mampu tapi tidak mau bersifat individualis. Hidup hanya bertumpu pada keadaannya sendiri. Tanpa mau melihat dan berbuat untuk orang lain. Dalam hidup ini ketika satu pintu tertutup, sebenarnya ada pintu lain terbuka. Tapi banyak orang memandangi pintu tertutup itu begitu lama dan meratapinya.

    Dibaca : 415 kali

    Allah SWT tidak memanggil orang yang mampu. Tapi Allah SWT memampukan orang yang terpanggil.

    Orang mampu tapi tidak mau?

    Kata bijak itu memang benar. Karena faktanya hari ini, ada 4 tipe manusia. Ke-empat tipe itu adalah: 1) ada orang mampu tapi tidak mau, 2) ada yang mampu tapi mau, 3) ada yang tidak mampu tapi tidak mau, dan 4) ada yang tidak mampu tapi mau. Dan siapa pun kita, pasti ada di antaranya.  

    Maka ada dua kata penting, mampu dan mau. Di manakah kita?

    Mari kita tilik lebih jauh. Siapakah yang berada di antara “mampu” dan “mau”. Di banyak sisi kehidupan manusia pasti terjadi. Seperti saat pandemi Covid-19 ini, vaksinasi ada di mana-mana tapi masih ada yang tidak mau. Tapia da pula yang mau vaksin tapi dia tidak mampu kemana dia harus di-vaksin? Itu nyata terjadi, antara mampu dan mau. Begitu pula contoh berikut ini:

     

    1. Mampu dan Mau. Siapa pun manusia yang sehat hari ini. Ada yang mampu beribadah dan mau beribadah. Semua perintah Allah SWT dilakukannya atas dasar mampu dan mau. Berbuat kebaikan untuk orang banyak pun mampu dilakukan, mau dikerjakan. Mampu dan mau.
    2. Mampu dan tidak mau. Tapi ada juga di dekat kita, orang-orang yang mampu karena sehat tapi tidak mau beribadah dan berbuat kebaikan. Hidupnya hanya untuk diri sendiri saja. Beli gawai baru mampu, beli pulsa ratusan ribu mampu, beli mainan jutaan mampu. Tapi untuk berkuran seekor kambing atau sapi tidak mau. Itulah mampu dan tidak mau.
    3. Tidak Mampu dan mau. Manusia yang tidak mampu tapi mau memang langka dan tergolong luar biasa. Tidak sedikit orang tidak mampu di sekililing kita. Tapi mereka mau melakukan ibadah terbaik dan berbuat kebaikan. Kerjanya hanya pemulung tapi mampu menabung untuk berkurban setiap tahun Kerjanya hanya tukang parkir tapi mampu umroh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak mampu dan mau.
    4. Tidak Mampu dan Tidak Mau. Nah, ini kondisi manusia yang agak repot dan harus introspeksi diri. Manusia yang diciptakan Allah SWT untuk beribadah tapi tidak dilakukannya. Sakit, miskin, atau tidak mampu lainnya. Tapi kenapa tidak mau beribadah? Lalu mau apa hidup di muka bumi yang jelas-jelas anugerah Allah SWT. Itulah manusia tidak mampu dan tidak mau.

    Bisa jadi, orang-orang yang mampu dan tidak mampu tapi tidak mau bersifat individualis. Hidup hanya bertumpu pada keadaannya sendiri. Tanpa mau melihat dan berbuat untuk orang lain.

    Kadang, sehat dan pikiran itu bisa jadi obat sekaligus racun. Sehat dan pikiran itu akan jadi obat bila dilandasi hati Nurani dan rasa cinta untuk sesama. Selalu menebar kebaikan dan berbuat nyata untuk kemanfaatan umat dengan penuh rasa syukur. Sementara sehat dan pikiran bisa jadi racun. Apabila dilandasi sifat individualis, tidak peduli, serakah, benci, dan iri. Jadi terserah, mau pilih yang mana? Sehat dan pikiran mau jadi obat yang manjur atau racun yang keji.

    Ketahuilah sahabat literasi. Dalam hidup ini, hidup siapa pun, ketika satu pintu tertutup maka pintu lain akan terbuka. Tapi banyak orang memandangi pintu yang tertutup begitu lama dan meratapinya. Sehingga tidak mampu melihat pintu yang terbuka. Untuk jalan kebaikan dan kemanfaatan kepada orang lain.

    Maka di momen Idul Adha 1442 H. Berkurbanlah dengan seekor kambing atau sapi. Semampu yang dipunya. Sebagai wujud rasa syukur dan ikhtiar memperbaiki ibadah kepada Allah SWT. Sambil terus istiqomah dalam bertutur kata, berpikir dan berbuat yang baik dan benar.

    Karena siapalah kita ini. Manusia itu hakikatnya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Semua yang dimiliki hanya hak pakai, hanya titipan dari Allah SWT. Dan setelah kematrian tiba, semuanya tidak akan ada yang dibawa sedikit pun. Semuanya akan ditinggalkan. Tapi milik kita adalah sedekah, amal jariyah, dan kurban  yang dibelanjakan di jalan Allah SWT.

    Ada benarnya. Allah SWT tidak memanggil orang yang mampu. Tapi Allah SWT memampukan orang yang terpanggil.

    Selamat beribadah dan berjuang di jalan kebaikan, di jalan Allah SWT. Insya Allah, sehat dan berkah bersama kita, amiin. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.