Siti Kewe - Novel Tentang Orang Gayo Modern - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Siti Kewe

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 23 Juli 2021 06:26 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Siti Kewe - Novel Tentang Orang Gayo Modern

    Saya membeli novel ini karena tertarik dengan pokok bahasannya, yaitu kopi di dataran tinggi Gayo. Saya berharap akan mendapatkan pengetahuan baru tentang kopi di dataran tinggi Gayo melalui novel ini. Pilihan saya ternyata benar. Sebab novel ini sangat kaya dengan informasi sejarah Gayo, khususnya tentang kopi. Inilah pergumulan orang Gayo melalui sebuah novel, setelah kopi Gayo mulai mendunia.

    Dibaca : 454 kali

    Judul: Siti Kewe

    Penulis: Raihan Lubis

    Tahun Terbit: 2017

    Penerbit: Swarnadwipa

    Tebal: x + 170

    ISBN: 978-602-61070-3-9

     

    Saya membeli novel ini karena tertarik dengan pokok bahasannya, yaitu kopi di dataran tinggi Gayo. Saya berharap akan mendapatkan pengetahuan baru tentang kopi di dataran tinggi Gayo melalui novel ini. Pilihan saya ternyata benar. Sebab novel ini sangat kaya dengan informasi sejarah Gayo, khususnya tentang kopi.

    Dulu, tahun 2012, saya pernah mendapat cerita tentang kopi Gayo dari seorang Anggota DPRD Aceh Tengah dalam perjalanan dari Bener Meriah ke Banda Aceh. “Kupi adalah tanaman asli Gayo. Kami menyebutnya KAWA atau KEWE. Memang saat itu kami belum memanfaatkan kupi untuk diambil bijinya seperti sekarang. Orang Gayo dulu memanfaatkan kopi dengan cara mengambil daunnya untuk diseduh menjadi teh sebelum Belanda datang ke Tanah Gayo. Baru saat Belanda datang ke Gayo, kami belajar bahwa kupi dimanfaatkan bijinya.

    Mula-mula Belanda pun tidak mengajari kami. Mereka hanya menyuruh kami untuk menanam lebih banyak pohon kawa, memanen bijinya yang sudah merah dan menyerahkan kepada mereka. Salah satu tukang masak di keluarga Belanda menyaksikan bagaimana keluarga tersebut menyangrai biji kupi yang sudah kering, menumbuknya dan membuat minuman dari bubuk terbakar tersebut. Dari situ kami ikut memanfaatkan kupi untuk minuman seperti sekarang. Jadi tidak benar kalau dibilang Orang Belanda yang membawa kupi ke tanah Gayo.”

    Benar saja. Novel ini mendokumentasikan banyak hal tentang sejarah perkebunan kopi di Gayo dari sejak jaman Belanda sampai dengan era Reformasi. Dengan mengambil tokoh tiga anak muda yang hidup di Bener Meriah, Raihan Lubis merangkai kisah kedatangan orang Jawa sebagai penanam kopi dan pembangun jalan, kekejaman masa Daerah Operasi Militer (DOM) dan masa jatuhnya Suharto.

    Dari sisi alur cerita, novel ini datar-datar saja. Novel ini menggambarkan proses Win sebagai putra daerah yang kurang tertarik untuk kembali ke daerahnya. Padahal kesempatan untuk berbisnis kopi demikian terbuka. Dengan dibumbui kisah cinta sewajarnya, Raihan Lubis mampu menggambarkan sejarah, keindahan alam, seluk-beluk kopi Gayo dan singgungan Gayo dengan dunia luar.

    Azmi, Win dan Pri adalah tiga sahabat yang sama-sama dibesarkan di Bener Meriah. Jika Azmi dan Win adalah suku asli Gayo, Pri adalah keturunan Jawa. Nama lengkapnya adalah Supriyono. Meski Pri adalah suku Jawa, namun ia lahir dan besar di kebun kopi di Gayo. Tiga sahabat ini mulai terpisah karena peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka. Pri dan keluarganya terpaksa meninggalkan Gayo karena kerusuhan (pengusiran) kepada orang-orang Jawa pasca Reformasi (hal. 17). Entah siapa yang mengusir tidak terlalu jelas. Tetapi teror pembakaran rumah dan kebun kopi yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng membuat orang-orang Jawa meninggalkan wilayah ini.

    Kisah pasca Reformasi ini sangat menarik. Sebab cerita-cerita Reformasi pada umumnya berlatar belakang Pulau Jawa. Sangat jarang ada kisah tentang pasca Reformasi di luar Jawa. Kita bisa mendapatkan berribu-ribu lembar kisah penderitaan etnis Tionghoa akibat dari Reformasi. Namun kisah seperti yang dialami oleh keluarga Supriyono seperti hilang dari catatan sejarah kita.

    Suku Jawa datang ke Gayo tahun 1900-an. Mereka umumnya datang sebagai tenaga kerja Belanda untuk membangun jalan (hal. 7). Pembangunan jalan ini selain untuk memperlancar usaha perkebunan kopi, juga dimaksudkan oleh Belanda untuk mengejar para pejuang yang melarikan diri ke dataran tinggi. Suku Jawa adalah suku yang dominan di dataran tinggi Gayo. Jumlah mereka hanya kalah dari suku Gayo yang memang asli dari wilayah tersebut. Mereka juga telah melakukan kawin campur dengan suku-sulu Aceh pesisir dan dengan orang Gayo.

    Azmi menetap di Gayo dan menekuni usaha kopi. Azmi mengelola kebun kopi dan  berdagang kopi Gayo yang mulai naik daun sejak tahun 2000-an. Kopi Gayo dikenal sebagai kopi premium dengan cupping diatas 84. Terutama kopi arabica. Dalam novel ini Raihan secara luar biasa mendeskripsikan berbagai jenis kopi yang tumbuh di dataran tinggi Gayo. Ia menjelaskan tentang varitas, keunikan rasa dan cara-cara menyiapkan dan menyajikannya.

    Win, selepas SMA di Takengon melanjutkan kuliah di Jogja dan kemudian memulai usaha ekspor kerajinan dari Pulau Bali. Usaha yang ditekuni oleh Win lumayan berkembang. Tetapi ia mendapat desakan dari Azmi dan ibunya untuk kembali ke Gayo mengembangkan usaha kopi. Upaya untuk membawa kembali Win ini bahkan dilakukan oleh ibunya dengan mencarikan jodoh baginya. Sayang sekali Win tidak cocok dengan perempuan yang dijodohkan dengannya.

    Hal lain yang menarik dari novel ini adalah bidikan Raihan Lubis tentang hubungan orang Gayo dengan dunia luar. Raihan menggambarkan keterbukaan orang Gayo dengan suku lain. Raihan menggunakan kehadiran pekerja Non Governmental Organization (NGO) yang memberi penyuluhan pengelolaan kopi sebagai sarana untuk menggambarkan perjumpaan orang Gayo dengan pihak luar pasca Reformasi (hal 34). Keterbukaan orang Gayo ini digambarkan dengan pernikahan Lisa -adik Win, dengan suku lain (Jawa?) (hal. 150).

    Sedangkan hubungan Gayo dengan pihak Eropa digambarkan dengan pernikahan Win dengan Aida, seorang keturunan Perancis-Maroko. Aida adalah pacar Win di Bali. Ia adalah seorang tukang masak di sebuah restoran di Bali. Win dan Aida akhirnya memilih kembali ke Gayo dan membuka bisnis kopi. Tokoh Aida ini sangat menarik karena digambarkan sebagai perempuan Perancis – Maroko (hal. 156). Perancis jelas mewakili Eropa, sedangkan Maroko jelas mewakili Islam. Saya menduga bahwa Gayo sudah terbuka kepada Eropa, meski masih membawa Islam dalam pilihannya.

    Bagaimana dengan Pri? Pri memang sempat datang kembali ke Gayo. Tetapi Pri masih sangat ragu apakah dia akan kembali mengelola kebun kopi yang ditinggalkannya sejak tahun 2000 lalu. Kisah Pri yang ragu ini juga sangat menarik untuk menggambarkan belum pulihnya luka hati orang Jawa akibat dari kerusuhan yang menimpa mereka. 610



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.