Waspadai Investasi Tipu-tipu Ala Skema Ponzi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Dhea

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 22 Juli 2021 18:25 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Waspadai Investasi Tipu-tipu Ala Skema Ponzi

    Kedok penipuan ini hanya membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan investasinya.

    Dibaca : 262 kali

    Investasi bodong masih saja marak memakan korbannya, yakni masyarakat yang biasanya tergiur dengan keuntungan besar dalam waktu singkat. Biasanya investasi bodong ini menggunakan skema ponzi.

    Asal mula istilah skema ponzi ini bermula dari sosok Charles Ponzi yang tersohor dengan money gamenya pada 1920. Ia mempraktikkan arbitrasi dari kupon balasan internasional yang mempunyai tarif berbeda-beda di masing-masing negara.

    Keuntungan dari praktik ini digunakan untuk membayar para investornya. Ia pun meminta para investor menyetor uang untuk dikirimkan ke agen di luar negeri untuk membeli kupon. Lalu kupon itu dikirimkan kembali ke Amerika Serikat dan ditukarkan perangko yang harganya lebih mahal. Ia pun meyakinkan para investor bahwa keuntungan bersih setelah mengukur nilai tukar lebih dari 400%.

    Namun lama-kelamaan kedok ini pun terbongkar. Seharusnya dengan uang terkumpul bisa dikeluarkan 160 juta kupon, faktanya hanya 27 ribu yang terealisasikan.

    Kedok penipuan ini hanya membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan investasinya.

    Hal begini nyata dalam praktik penipuan saat ini, dimana promotor sekaligus penyelenggara biasanya mengawali tipu dayanya dengan menawarkan investasi dengan imbal hasil atau keuntungan yang menggiurkan dalam waktu yang sangat singkat.

    Mereka menawarkan hasil investasi yang lebih gede dari lainnya dalam waktu singkat. Pada awalnya mereka menepati janji keuntungannya. Hal begini penting untuk meyakinkan investor lainnya makin banyak.

    Namun setelah banyak investor masuk perangkap dan dana yang ditampung sudah banyak maka penyelenggara biasanyan langsung melarikan diri dengan membawa serta uangnya. Ia menghilang dan investor pun hanya gigit jari.

    Oleh sebab itu, ada baiknya di masa sekarang ini masyarakat waspada dengan model tipu-tipu investasi yang justru akan merugikan. Masyarakat sebagai calon investor wajib sadar bahwa yang namanya investasi itu butuh waktu dan sifatnya tidak mendadak untuk besar dalam waktu singkat. 

    Investasi aval-abal biasanya memang menawarkan keuntungan diluar batas kewajaran dalam waktu singkat. So, jika menemukan model seperti ini langsung ditolak saja atau kalau mau sedikit cerdas telisik lebih jauh kelegalan dan bagaimana pengelolaan investasinya.

    Investasi tipu-tipu biasanya hanya menekankan pada perekrutan dan tidak bisa menjelaskan bagaimana cara mengelola investasinya dengan janji keuntungan yang ditawarkan.

    Mereka biasanya juga tidak bisa menjelaskan struktur kepengurusan, kepemilikan, kegiatan usahan, dalam alamat domisili usaha. Kalau pun ada barang maka kualitas barang tidak sebanding dengan harganya dan kalau pun ada bonus maka yang dibayarkan hanya bila ada perekrutan.

    So, di masa sekarang ini wajib hukumnya waspada. Kalau pun mau investasi, sebaiknya berinvestasi pada jenis investasi yang jelas, semisal investasi saham yang saat ini sedang booming karena mudah dan sangat terjangkau.

    Investasi saham saat ini sudah sangat mudah dengan hape di tangan karena sudah berbasis aplikasi, semisal dengan aplikasi IPOT besutan sekuritas karya anak bangsa dengan tagline #SemuaBisaInvestasi bernama Indo Premier Sekuritas.

    Dari sisi keuntungan juga menarik, tetapi realistis nggak seperti skema ponzi yang aduhai lebay amat. Investasi saham pun bisa dinikmati mereka yang memiliki modal kecil maupun besar, tetapi nggak model tipu-tipuan ala skema ponzi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.