Mahasiswa, Kampus dan Kebebasan Berpikir - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Aksi Mahasiswa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Wahyu Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juli 2021

Jumat, 23 Juli 2021 08:10 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mahasiswa, Kampus dan Kebebasan Berpikir


    Dibaca : 256 kali

    Oleh : Wahyu Kurniawan

    Kita harus menghadirkan diskusi pada tingkatan yang lebih tinggi. Tidak hanya sekedar bertanya, menjawab lalu selesai. Kita harus memberi ruang berfikir bagi tiap-tiap individu untuk menyampaikan pendapat, menyanggah dan menambahkan.

    Karena kampus sejatinya adalah memang tempat untuk berfikir. Tidak perlu alergi dengan perdebatan, tak perlu tegang dan bawa perasaan. Karena, toh, bangsa ini juga terlahir dari perdebatan para tokoh-tokoh bangsa terdahulu baik di meja-meja diskusi ataupun warung kopi.

    Dan itu semua berlanjut hingga sekarang, tak perlu ada yang ditakutkan. Yang harus kita pastikan adalah bagaimana kita menghadirkan diskusi-diskusi yang memiliki nilai nutrisi bagi kecerdasan publik.

    Otak tak boleh didiamkan, ajak dia berimajinasi dan berfikir secara kritis. Mari hidupkan diskusi dengan saling bertukar fikiran, ilmu dan wawasan. Tak boleh ada yang melarang manusia berakal untuk menggunakan akal nya.

    Diskusi tidak bisa dilepaskan dalam perjalanan kehidupan manusia. Bahkan berdirinya satu bangsa yang besar seperti Indonesia tidak terlepas dari proses diskusi dan perang narasi disamping perlawanan secara fisik tetap terus digaungkan.

    Diskusi itu sendiri memiliki etika yang perlu di perhatikan dalam Islam. Islam mengajarkan diskusi yang memberikan manfaat, menggunakan kalimat yang baik, sopan-santun serta mengutamakan untuk menahan amarah dan berlapang dada menerima pendapat orang lain.

    Pada akhirnya, diskusi mempertemukan pemikiran-pemikiran yang berbeda di dalam setiap kepala, baik dalam ruang-ruang rapat atau justru ruang-ruang debat yang menghadirkan argumen dengan mutu yang harus di jaga dengan banyak membaca.

    Kita tidak bisa hidup dalam satu tempat yang hanya dibangun oleh kerangka berfikir seorang saja atau mengacu kepada kelompok tertentu. Seluruh orang berhak memberikan sumbangsih pikiran yang ada di dalam kepala mereka.

    Diskusi strategi matang yang dilakukan Muhammad Al Fatih bersama dengan guru dan ulama, mengantarkan Muhammad Al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel.

    Diskusi dan perjuangan diplomasi yang dilakukan berulang oleh tokoh bangsa Indonesia dahulu, mengantarkan berdirinya satu bangsa yang besar tumbuh menjadi negara yang cukup berpengaruh baik di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.