Tidakkah Pandemi Menyadarkan Kita Betapa Rentannya Umat Manusia - Analisis - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 25 Juli 2021 06:41 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tidakkah Pandemi Menyadarkan Kita Betapa Rentannya Umat Manusia

    Bagaimana mungkin sesosok virus, yang berukuran mikron, mampu mengubah relasi manusia, perilaku, hingga kesadaran. Kenyataannya, itulah yang terjadi. Tidakkah cukup pandemi ini menyadarkan betapa kita harus mengubah cara kita hidup dan berperilaku?

    Dibaca : 925 kali

     

    Salah satu tantangan yang kita hadapi dalam melewati masa pandemi yang panjang ialah ketahanan kita untuk senantiasa waspada. Kita sudah melewati masa pandemi satu tahun lebih, dan kita belum tahu kapan pandemi ini bakal berakhir. Tentu saja, kita berharap wabah segera selesai agar kita dapat kembali hidup dalam keadaan normal tanpa melupakan pelajaran yang sudah kita peroleh dari pandemi. Meskipun ada kemungkinan bahwa kita akan dipaksa untuk hidup berdampingan dengan virus Corona.

    Salah satu tantangannya ialah kita masing-masing tidak memiliki ketahanan yang sama dalam menghadapi tekanan. Tekanan ini bukan saja beragam jenisnya, tapi juga bervariasi bobotnya, berbeda-beda durasinya, hingga momen ketika tekanan itu meningkat. Tekanan berkepanjangan mampu membuat kita lengah karena endurance kita boleh jadi tidak mampu mengikuti irama tekanan—daya tahan ini meliputi fisik dan mental, yang keduanya saling terkait dan tak terpisahkan.

    Waspada itu berarti menjaga kesadaran: kesadaran mengenai diri kita sendiri—apa yang harus saya lakukan; kesadaran mengenai lingkungan kita—orang lain yang kita menjalin relasi dengan mereka; hingga kesadaran spiritual—bahwa kita hidup di tengah alam semesta. Waspada itu berarti menjaga nalar kita agar tetap waras menghadapi kesimpangsiuran, hal-hal yang tidak terduga, ketidakpastian, penyesatan, hingga turun dan naiknya wabah. Waspada itu juga bermakna tidak jatuh dalam keputusasaan yang membuat kita hilang harapan.

    Kesadaran inilah yang berpeluang membawa kita pada penyingkapan hikmah, ya hikmah yang ada di balik peristiwa besar yang mengubah dunia begitu cepat. Kita tahu mewabahnya virus Corona ini telah mengubah cara kita berperilaku, bersosialisasi, bekerja, belajar, hingga beribadah. Dan bagi sebagian orang, peristiwa pandemi ini telah mengubah cara berpikir dan berkesadaran sebagai manusia. Banyak orang kehilangan sumber penghasilan, pekerjaan, dan bahkan kehilangan saudara, kerabat, maupun teman.

    Tanpa kesadaran, kita tidak akan pernah memperoleh hikmah dari peristiwa pandemi ini. Tanpa kesadaran, kita tidak akan pernah mau belajar dari pengalaman, kesalahan, kelemahan, keteledoran, maupun kebodohan kita sendiri. Tanpa kesadaran, kita tidak akan pernah menyadari bahwa pada titik tertentu manusia—secara individu maupun kelompok [kecil maupun besar]—memiliki kelemahan, kerentanan, dan kerapuhan.

    Bagaimana mungkin sesosok virus, yang berukuran mikron, mampu mengubah relasi manusia, perilaku, hingga kesadaran—kenyataannya, itulah yang terjadi. Tidak peduli apakah virus itu berasal dari alam atau bocor dari sebuah laboratorium, namun dampaknya konkret. Virus Corona bukanlah permainan pikiran seperti diyakini oleh sebagian orang, bukan pula konspirasi tentang sesuatu yang tidak nyata. Realitas mikro telah menjungkirbalikkan realitas makro di mana manusia merasa akan mampu mengendalikan semua peristiwa di alam ini.

    Tidakkah kita belajar bahwa semua itu tidak sepenuhnya benar? Tidakkah cukup pandemi ini menyadarkan betapa kita harus mengubah cara kita hidup dan berperilaku? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.