Keberhasilan Keluar dari Pandemi Berpulang pada Kepemimpinan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bagaimana membangun traction dalam kepemimpinan Anda

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 26 Juli 2021 11:30 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Keberhasilan Keluar dari Pandemi Berpulang pada Kepemimpinan

    Mereka beranggapan tidak diperlukan tindakan ekstra yang menuntut pemikiran ekstra, tenaga ekstra, sumber daya ekstra, maupun waktu ekstra. Dalam situasi krisis, imajinasi memainkan peran krusial karena dari sinilah akan lahir terobosan jalan keluar, namun ini berpulang kepada pemimpin apakah ia mampu menjadi inspirasi bagi anak buahnya atau tidak.

    Dibaca : 953 kali

     

    Sebagian pejabat mungkin mengeluh bahwa jajaran di bawahnya tidak memiliki sense of crisis, tidak mempunyai inisiatif untuk bertindak, lamban bergerak, tidak fokus pada pokok masalah, dan sibuk mengurus hal-hal lain. Keluhan semacam ini sungguh terasa ganjil, terlebih bila pejabat ini telah dilimpahi kewenangan untuk melakukan apapun yang dibutuhkan untuk mengatasi situasi krisis. Otoritas sudah berada di genggaman tangan, tinggal bagaimana menggunakannya secara efektif.

    Jika pejabat mengeluh bahwa jajaran di bawahnya tidak memiliki sense of crisis, maka ia perlu becermin dan bertanya apa yang keliru dengan cara saya memimpin sehingga orang-orang yang saya pimpin jalan sendiri-sendiri? Alih-alih mengeluhkan perihal sikap dan tindakan anak buahnya di muka umum, akan lebih baik bila pejabat ini mengevaluasi caranya bertindak sebagai pemimpin.

    Kewenangan memang penting untuk menopang efektivitas suatu keputusan dan kebijakan. Namun, itu saja tidaklah cukup. Bukti bahwa kewenangan saja tidak cukup ialah keluhan mengenai anak buah yang tidak memiliki sense of crisis. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mengapa anak buah masih bekerja seolah keadaan normal, padahal pemimpinnya telah berkata bahwa keadaan sedang abnormal alias tidak baik-baik saja? Apakah karena sikap pemimpin yang tidak konsisten dengan keputusannya? Atau karena alasan dan faktor lain?

    Respon para pejabat terhadap situasi krisis itu menyiratkan bahwa otoritas saja tidak memadai untuk menggerakkan manusia atau institusi. Dalam situasi krisis, sebagian orang memilih untuk menyelesaikan urusan yang menjadi tugas pokoknya, bahkan sebagian lagi menjalankan tugas pokoknya itu seolah-olah situasi sedang baik-baik saja alias normal, ia tidak melakukan upaya-upaya ekstra untuk memastikan segala sesuatunya dapat berjalan. Sebagian lainnya membatasi diri pada bidangnya sendiri dan tak peduli pada urusan pandemi. Sebagian lainnya acuh tak acuh.

    Mereka beranggapan tidak diperlukan tindakan ekstra yang menuntut pemikiran ekstra, tenaga ekstra, sumber daya ekstra, maupun waktu ekstra. Apalagi mengerahkan daya imajinasi untuk menemukan suatu kebijakan inovatif yang menerobos kebuntuan, mungkin hanya kemustahilan. Dalam situasi krisis, imajinasi memainkan peran krusial karena dari sinilah akan lahir terobosan jalan keluar, namun ini berpulang kepada pemimpin apakah ia mampu menjadi inspirasi bagi anak buahnya atau tidak.

    Keberhasilan penanggulangan situasi krisis apapun pada akhirnya kembali kepada faktor kepemimpinan, khususnya bagaimana pemimpin mampu mengendalikan seluruh sumber daya yang dipunyai untuk menghadapi kegentingan. Keberhasilan itu bukan hanya bertumpu pada kewenangan atau otoritas, melainkan bagaimana menggunakan otoritas itu secara efektif.

    Jika ada pejabat yang tidak sepenuhnya menyadari situasi krisis, barangkali karena ia tidak cukup memiliki pemahaman mengenai apa yang sedang terjadi. Menjadi tugas pemimpin untuk ‘membangunkan’ para pejabat itu bahwa keadaan genting membutuhkan keputusan dan tindakan yang luar biasa, yang imajinatif, yang inovatif—bukan tindakan normal sebagaimana biasa.

    Jika pemimpin telah menjalankan tugas penyadaran kepada pejabat di bawahnya dan ternyata tidak berhasil, sebab ternyata para pejabat itu tetap rebahan dan mager, maka tidak boleh ada keraguan bagi pemimpin untuk mencopotnya Ia harus secepatnya menggantinya dengan orang lain yang lebih memahami situasi dan mengerti tentang apa yang harus dilakukan untuk keluar dari situasi krisis.

    Situas krisis menjadi batu ujian terpenting bagi pemimpin, apakah ia mampu membawa yang dipimpin keluar dari situasi krisis dengan cara yang benar, ataukah sebaliknya yang dipimpin akan terperosok lebih dalam terisap oleh krisis. Mengeluh perihal kinerja anak buah yang kurang sigap cukuplah menjadi buah renungan sendiri: apa kekurangan saya dalam memimpin dan bagaimana semestinya saya memimpin? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.