Empat Manfaat dari Manajemen Konflik yang Benar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Perundingan

imam mukhid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Juli 2021

Minggu, 1 Agustus 2021 05:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Empat Manfaat dari Manajemen Konflik yang Benar

    Konflik memiliki kesan negatif, juga di tempat kerja. Ketika bekerja sendiri. Kita bisa saja menghindar dari konflik dan bermain aman dalam mengambil keputusan maupun langkah kerja. Akan tetapi, saat berada dalam kelompok, konflik kadang tidak terelakan. Kita sebenarnya bisa mengambil manfaat dari sebuah konflik. Bagaimana caranya?

    Dibaca : 379 kali

    Konflik memiliki kesan negatif bagi siapa saja yang mendengarnya, termasuk ketika menghadapinya di tempat kerja. Ketika bekerja sendiri, kita bisa saja menghindar dari konflik dan bermain aman dalam mengambil keputusan maupun langkah kerja. Akan tetapi, saat berada dalam kelompok, di mana kita akan berinteraksi dan perlu bekerja sama dengan berbagai tipe kepribadian, jelas konflik tidak dapat terelakan.

    Konflik akibat perbedaan kepribadian di tempat kerja sangat umum terjadi di antara karyawan apapun posisinya. Konflik semacam ini di tempat kerja biasanya terjadi karena persepsi yang salah tentang sikap rekan kerja. Ketika tipe kepribadian yang berbeda bekerja sama, kemungkinan kesalah pahaman tentang karakter, dan tindakan satu sama lain menjadi tinggi. Misalnya, seorang karyawan introvert dan tidak terlalu ramah mungkin tampak sombong di antara anggota tim lainnya. Hal ini dapat menyebabkan masalah dan menghambat produktivitas tim.

    Hal serupa sempat terjadi pada diri saya. Dulu saya merupakan sosok yang pendiam dan cenderung kurang senang dengan keramaian, bahkan jika saya terpaksa harus bearda dalam kondisi tersebut, maka saya akan menarik diri untuk tidak telalu berkecimpung dengan keadaan pada saat itu. Sehingga timbul presepsi orang lain yang negatif tentang diri saya. Ada dari mereka yang mengatakan saya adalah sosok yang sombong, angkuh dan kurang pergaulan.

    Perlahan demi perlahan saya mengubah pola saya dalam bergaul. Dan akhirnya saya yang memiliki kepribadian sedikit tertutup memutuskan untuk berusaha menjadi sosok yang selalu periang dalam keseharian. Itu demi menghindari presepsi yang negatif orang-orang disekeliling tempat saya bekerja. Saya berharap mereka bisa mengenal saya lebih baik sehingga konsep negatif tentang diri saya terpatahkan.

    Seiring berjalannya waktu, ternyata itu semua tidak berjalan semudah dan semulus yang saya bayangkan. Dengan saya bersikap seperti itu, bukan berarti saya bisa menghindari berbagai konflik yang ada saat itu atau suatu saat yang kemungkinan akan terjadi. Hari demi hari saya jalani hingga membuat stigma orang-orang di sekeliling saya bahwa saya adalah orang yang friendly, periang, selalu ceria, dan dapat mencairkan suasana.

    Hingga pada suatu saat saya mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan. Saya memutuskan berdiam diri dan membatasi intensitas percakapan dengan orang-orang di sekeliling. Lantas dari pebedaan sikap saya yang terbilang cukup mencolok ini menimbulkan keheranan dan pertanyaan bagi rekan-rekan di tempat saya bekerja.

    Seketika ada salah seorang yang mencoba memberanikan diri untuk bertanya secara langsung kepada saya tentang apa yang saya sedang rasakan dan saya alami pada saat itu. Namun di sela-sela saya bercerita tentang apa yang sedang saya alami, alih-alih mendapat pengertian dan support, dia justru berbuat hal yang sebaliknya seraya berkata, “Alah, baru juga segitu, apa kabarnya gw dulu yang pernah sampai bla, bla, bla,” ucap dia. Kemudian tanpa fikir panjang saya pun langsung angkat kaki menjauh dari dirinya dan menceritakan kembali apa yang sedang saya alami kepada siapa pun yang menurut saya, mereka yang hanya sekedar ingin tau tanpa mampu mengerti.

    Dari kejadian ini saya belajar bahwa sejatinya bukan tentang ringan atau beratnya masalah yang tengah kita hadapi pada saat itu, melainkan tingkat kesabaran, ketahanan mental serta respon yang dimiliki oleh setiap orang itu pastinya berbeda dan tidak akan sama. Terlepas dari siapa itu dia, apa jenis kelaminnya & perbedaan umurnya. Itu yang jarang orang ketahui dan pelajari. Hal tersebut membuat saya merasa sedikit tidak nyaman karena seakan-akan saya terlalu memaksakan diri demi kepuasan sesaat orang-orang di sekeliling saya yang padahal itu bukanlah diri saya sebenarnya.

    Maka cara yang saya biasa yang saya lakukan ketika sedang dalam posisi tersebut adalah dengan menggunakan waktu me time saya dengan semaksimal mungkin sampai saya merasa cukup untuk bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. Saat me time itu saya bermain game, makan makanan favorit, menonton film atau yang lainnya.

    Di samping masalah yang sedang saya hadapi, saya tetap berusaha untuk tetap bersikap profesional dalam hal apapun. Karena saya yakin bahwa masalah itu akan datang dan pergi pada waktunya. Datang dengan tujuan menguji mental dan kesabaran kita. Mana kala kita mampu menyikapinya dengan cara yang baik maka masalah itu akan hilang dengan sendirinya. Begitu juga hal nya dengan konflik yang sering kali kita temukan dalam rumah tangga sebuah oraganisasi atau tim.

    Dari pemaparan pengalaman saya diatas saya berpendapat bahwa apabila dapat dikelola dan dituntaskan dengan baik serta bijaksana, konflik mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri dan tim dimana kita bekerja, seperti empat hal berikut ini :

    • Konflik memacu kreatifitas dan inovasi

    Terkadang, sebagian orang mengartikan harmoni sebuah tim sebagai pendapat yang selalu sejalan, bekerja penuh sukacita, dan memiliki kesamaan jalan pikir. Namun, keseragaman seperti ini justru mematikan dinamika tim. Konflik yang muncul karena perbedaan pendapat dan cara pandang, akan memicu percikan ide-ide segar yang bervariasi. Selanjutnya, inovasi akan sangat mungkin terjadi karena masukan yang tidak biasa menjadi sebuah opsi yang patut diperhitungkan.

     

    • Konflik memperbaiki hambatan komunikasi

    Semakin sering berhadapan dengan konflik, semakin besar pula kesempatan kita untuk mempelajari teknik komunikasi efektif dan memoles kembali kemampuan komunikasi kita. Pertama, konflik membuat kita belajar memahami karakter “lawan” dan pola komunikasi mereka. Selanjutnya, kita akan duduk lebih sabar menjadi seorang pendengar aktif. Tentu saja, diimbangi dengan ilmu mengendalikan emosi, kita pun menyingkap cara komunikasi terbaik ketika konflik datang.

    • Konflik mendorong tim untuk berkolaborasi

    Berdasarkan teori pembentukan tim yang dicetuskan oleh psikolog Bruce Tuckman, konflik masuk dalam tahap Storming dan jembatan menuju tahapan norming, di mana anggota tim mulai bernegosiasi dan membentuk konsensus sebagai penyelesaian konflik. Memang, konflik kerap menimbulkan perasaan tidak nyaman, namun menangani konflik adalah tanggung jawab seluruh anggota tim, bukan hanya pemimpin saja. Guna memastikan konflik bersifat konstruktif bagi tim, maka setiap anggota tim perlu tetap saling menghormati (meskipun mungkin saja tidak menyukai secara personal), sebagai cerminan sikap profesional dalam mengelola diri dan menjalankan tanggung jawab.

     

    • Konflik memperjelas batasan

    Kemunculan konflik membangkitkan sebuah kesadaran mengenai batasan-batasan, baik bagi anggota tim secara individu maupun kelompok secara keseluruhan. Adanya perselisihan dan perbedaan memberikan gambaran jelas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh, apa yang mampu dicapai dan mustahil diwujudkan, serta kapan tim harus maju maupun menahan diri. Pentingnya memegang integritas dan menjaga rasa hormat (mutual respect) turut tercetus dalam upaya penanganan konflik. Hal yang dipandang benar secara alasan dan logika, belum tentu menjadi hal yang patut diperjuangkan, Karena ada faktor emosional yang sedang berperan. Manajemen konflik menjadi sebuah keterampilan profesional yang patut dikuasai oleh setiap pekerja. Sangat penting pula bagi setiap perusahaan untuk memiliki protokol penanganan konflik, jika ada kemungkinan konflik mampu menggoyahkan stabilitas perusahaan dan produktivitas karyawan. Konflik bukan sebuah penyakit yang wajib dibasmi. Dengan penanganan tepat, ia mampu membangun Anda dan tim menjadi lebih baik.

     

     

     

     

     

    Source : Imam Mukhid_Mahasiswa Universitas SIber Asia



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.