Sepak Bola Olimpiade Tokyo 2020, Finalis Sesuai Prediksi, Tetapi Banyak Laga Kurang Greget - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Brasil

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 5 Agustus 2021 17:00 WIB

  • Olah Raga
  • Topik Utama
  • Sepak Bola Olimpiade Tokyo 2020, Finalis Sesuai Prediksi, Tetapi Banyak Laga Kurang Greget

    Laga-laga sepak bola putra sejak babak fase grup hingga babak semi final, dari apa yang saya lihat dari layar kaca, di luar dugaan, rasanya banyak yang kurang greget. Padahal semua tim diisi oleh pemain muda yang otomatis memiliki speed lebih di luar teknik, intelegensi dan personaliti. Sebab laga tanpa penonton, bukan alasan  pertandingan berjalan kurang menarik, karena Copa America 2021 pun tetap menegangkan dan seru meski tanpa penonton di stadion. Semoga partai perebutan perunggu, perak, dan emas akan berbeda, ada greget.

    Dibaca : 1.512 kali

    Bila didukung fakta-data akurat, prediksi bisa tepat. (Supartono JW.05082021)

    Pesta sepak bola putra enam zona Benua di Olimpiade Tokyo 2020 telah sampailah pada puncaknya, yaitu laga final yang akan dimainkan pada Sabtu (7/8/2021).

    Dari catatan prediksi yang saya tulis pada 21 Juli 2021, sebelum kick off cabang sepak bola, sesuai fakta dan data serta sejarah, saya menempatkan 6 tim favorit unggulan yang akan melaju hingga partai puncak, babak final. 

    Sesuai fakta, data, sejarah, saya menempatkan Brasil sebagai unggulan pertama. Berikutnya, Spanyol unggulan kedua. Unggulan ketiga, keempat, kelima berturut-turut adalah Jerman, Prancis, dan Argentina. Sementara Jepang sebagai unggulan keenam.

    Mengapa urutan unggulan seperti demikian? Berikut adalah alasannya:

    (1) Brasil.
    Sebagai juara bertahan olimpiade, Brasil tak diragukan lagi menampati posisi tim unggulan. Terlebih, dalam skuat tim Samba ini, Dani Alves ditunjuk oleh manajer Andre Jardine masuk dalam skuad 22 pemain Brasil. Sebagai pemain veteran, Dani dianggap akan mampu menjadi panutan karena akan jadi starter dalam setiap pertandingan.

    Selain Dani, Brasil diisi oleh pemain Everton, Richarlison, pemain Arsenal, Gabriel Martinelli, dan pemain Sevilla Diego Carlos, serta pemain muda lain yang tentu akan bersinar dan merepotkan setiap lawan.

    (2) Spanyol
    Tim berjuluk La Furia Roja juga tak kalah dengan Brasil. Didukung pemain-pemain berkualitas di setiap posisi seperti Unai Simon, Pedri, Mikel Oyarzabal, Pau Torres, Dani Olmo, dan Eric Garcia, semuanya telah unjuk gigi dan berperan penting di Euro 2020.

    Bahkan saat Spanyol mencapai semi-final, Pedri yang bermain untuk Barcelona, sangat sensasional dan menerima penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Eropa 2020. Sehingga Spanyol digadang akan mampu menembus final.

    Manajer Spanyol, Luis de la Fuente memiliki banyak pilihan dan La Furia Roja didukung oleh pasukan yang siap meraih sukses di ajang Olimpiade Tokyo.

    (3) Jerman
    Sebagai runner-up Olimpiade Rio, Jerman tentu tak ingin gagal lagi. Kali ini, meski tak dihiasi pemain seperti Brasil dan Spanyol yang lebih sarat pengalaman, Stefan Kuntz memboyong anak didiknya yang berpengalaman saat juara Piala Eropa U-21 2021 dan Runner-up Piala Eropa U-21 2019 ke Olimpiade Tokyo 2020. 

    Dari generasi runner-up Piala Eropa U-21 2021 ada beberapa nama seperti Marco Richter, Nadiem Amiri, dan Benjamin Henrich, sedangkan dari generasi juara Piala Eropa U-21 2021 ada Amos Pieper, Arne Maier, Ismail Jakobs, dan Anton Stach.

    Dengan mengabaikan kegagalan timnas senior Jerman di Piala Dunia 2018 dan Euro 2020, Kuntz percaya diri Jerman muda akan menembus final kembali, yang dulu pernah diraih Jerman Barat, sebelum Jerman bersatu di Olimpiade Montreal 1976.

    (4) Prancis
    Meski Les Bleus memiliki beberapa masalah dengan klub yang menolak untuk melepaskan pemain mereka, namun Prancis tetap diisi oleh pemain berpengalaman.

    Di dalamnya ada pemain yang meraih Piala Dunia, Florian Thauvin, lalu ada Andre-Pierre Gignac, Teji Savanier. Berikutnya ada bek AC Milan Pierre Kalulu, gelandang Hertha Berlin, Lucas Tousart dan bek Paris Saint-Germain, Timothee Pembele, akan membikin penggemar Prancis yang kecewa di Euro 2020, terhibur di Olimpiade Tokyo

    (5) Argentina
    Argentina muda, tentu akan terlecut prestasi Lionel Messi dan kolega setelah menjadi juara Copa America 2021. Terlebih, Argentina menunjuk skuat yang cukup berpengalaman untuk Olimpiade Tokyo.

    Di dalamnya ada kiper Cadiz Jeremias Ledesma, sebagai senior. Didukung striker CSKA Moscow, Adolfo Gaich dan gelandang Brighton & Hove Albion, Alexis Mac Allister. Selain itu juga ada gelandang Spartak Moscow, Ezequiel Ponce dan bek kiri Lens Facundo Medina.

    Karenanya, pelatih Fernando Batista berharap bisa menyamai angkatan 2008, ketika pemain seperti Lionel Messi, Sergio Aguero, Angel Di Maria dan Ezequiel Lavezzi meraih medali emas.

    (6) Jepang
    Sebagai tuan rumah, Jepang juga saya unggulkan. Pasalnya, Samurai biru telah menunjuk skuat yang kuat untuk Olimpiade Tokyo.

    Sebut saja bek tengah Sampdoria, Maya Yoshida, bek kanan Urawa Red Diamonds, Hiroki Sakai dan gelandang Stuttgart, Wataru Endo adalah tiga pemain senior yang akan jadi panutan pemain muda seperti bek kanan Bologna, Takehiro Tomiyasu dan penyerang PSV Eindhoven, Ritsu Doan, ditambah beberapa pemain muda berbakat Tomiyasu, Doan, dan Takefusa Kubo (pemain yang dijuluki Messi dari Jepang) yang semuanya berada di level atas. 

    Untuk itu, Hajime Moriyasu, sebagai pelatih juga dimudahkan oleh keberadaan pemain muda bertalenta dicampur dengan pemain berpengalaman untuk menembus partai final.

    Unggulan 1 dan 2 sesuai prediksi

    Dari catatan prediksi itu, ternyata 3 tim yang saya unggulkan mampu menembus semi final. Bahkan tim yang saya unggulkan di posisi 1 dan 2, akhirnya benar-benar menggenggam tiket final Olimpiade Tokyo 2020.

    Di sisi lain, tim yang saya unggulkan di posisi 3, 4, dan 5, malah melempem. Dan, Jepang sebagai unggulan 6, mampu menyodok hingga ke babak semi final. Sayang, Jepang yang terlalu percaya diri, akhirnya dikalahkan oleh Spanyol, tim unggulan 2 dengan sebiji gol karena kelengahan pemain belakang di sisa waktu extra time kedua.

    Melempemnya Jerman, Prancis, dan Argentina, yang bahkan kesulitan meladeni tim kejutan, menjadi kesempatan tim kuda hitam, Meksiko dan Korea Selatan. Sayang, di 8 besar, Meksiko dan Korea Selatan harus saling bunuh hingga Korea Selatan tersingkir. Meksiko pun menembus semi final bersama tim unggulan 1, 2, dan 6.

    Partai semi final pun dilalui. Meksiko harus takluk dari unggulan 1, Brasil via adu pinalti. Unggulan 2, Spanyol pun membuktikan diri mampu meraih tiket setelah menghempaskan unggulan 6, Jepang.

    Dari catatan, fakta, dan data sejak fase grup hingga semi final, maka dalam perebutan tempat ketiga yang akan dihelat Jumat (6/8/2021) Jepang harus membuktikan diri sebagai unggulan 6 dan  wajib mampu menumbangkan kuda hitam Meksiko. Tetapi, sebagai tim kuda hitam, Meksiko yang sudah merasakan dihajar Jepang di fase grup, tentu akan melawan demi meraih perunggu.

    Untuk perebutan emas, Brasil tentu akan dengan sekuat daya membuktikan diri sebagai tim unggulan 1 sekaligus juara bertahan, untuk mengandaskan Spanyol. 

    Kurang greget

    Laga-laga sepak bola putra sejak babak fase grup hingga babak semi final, dari apa yang saya lihat dari layar kaca, di luar dugaan, rasanya banyak yang kurang greget. Padahal semua tim diisi oleh pemain muda yang otomatis memiliki speed lebih di luar teknik, intelegensi dan personaliti.

    Sebab laga tanpa penonton, bukan alasan  pertandingan berjalan kurang menarik, karena Copa America 2021 pun tetap menegangkan dan seru meski tanpa penonton di stadion.

    Semoga partai perebutan perunggu, perak, dan emas akan berbeda, ada greget.




    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.