Target Produksi Minyak 400 Ribu Barel per Hari PT Pertamina Hulu Rokan, Apakah Realistis ? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Sabtu, 21 Agustus 2021 10:34 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Target Produksi Minyak 400 Ribu Barel per Hari PT Pertamina Hulu Rokan, Apakah Realistis ?

    Banyak orang pesimistis bahwa PT Pertamina Hulu Rokan mampu mencapai target produksi minyak 400 ribu barel per hari di 2030. Tetapi dengan semangat, ambisi, dan visi luar biasa untuk menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak kelas dunia, pencapaian target tersebut bukannya tidak mungkin.

    Dibaca : 1.866 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Efektif tanggal 9 Agustus 2021 yang lalu, penantian selama 97 tahun akhirnya terwujud juga. Blok Rokan di Riau berpindah tangan atau alih kelola dari PT Chevron Pacific Indonesia ke PT Pertamina Hulu Rokan. Produksi minyak blok Rokan pada saat ini adalah sekitar 160 ribu barel per hari. Dan target produksi minyak di tahun 2030 yang harus dicapai oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai operator baru adalah 400 ribu barel per hari. Apakah target ini realistis? Mengingat sumur-sumur minyak peninggalan Chevron ini sudah banyak yang terkuras dan tua-tua.

    Bagaimana hitung-hitungannya sehingga target produksi minyak 400 ribu barel per hari di tahun 2030 ini dapat diperoleh? Alangkah indahnya seandainya saja di jaman keterbukaan seperti sekarang ini, PHR dapat menjelaskan kepada publik, bagaimana cara menghitung besaran target ini?. Khususnya dari lapangan-lapangan minyak mana saja yang masih berpotensi besar untuk dapat ditingkatkan lagi produksinya. Dan akan menggunakan metoda atau teknologi-teknologi apa saja? Musuh yang paling menakutkan adalah masalah waktu. Tahun 2030 tinggal 9 tahun lagi. Dan itu adalah waktu yang relatif sangat singkat untuk dapat membuat suatu program pengembangan lapangan minyak yang agresif.

    Metoda yang paling mudah untuk menaikkan produksi minyak adalah dengan melakukan mengeboran sumur-sumur minyak baru. PHR berencana akan mlakukan mengeboran 161 sumur-sumur minyak baru di tahun 2021. Mungkin masyarakat luas perlu juga memahami dengan baik bahwa dengan melakukan pengeboran banyak sumur-sumur minyak baru, maka produksi minyak tidak otomatis akan meningkat secara signifikan. Jumlah sumur-sumur minyak baru tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah kenaikan produksi. Karena banyak masalah-masalah yang terjadi di lapangan, yang mungkin saja dapat mengakibatkan produksi minyak dari sumur-sumur minyak baru tersebut tidak sebesar seperti apa yang diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah karena sudah tingginya kandungan air di dalam formasi, khususnya di lapangan-lapangan minyak tua.

    Dan yang perlu diingat juga adalah bahwa pemboran sumur-sumur minyak baru di lapangan-lapangan minyak lama tidak berarti akan menambah total jumlah produksi dari lapangan minyak tersebut. Melainkan sumur-sumur minyak baru tersebut hanya akan mempercepat waktu perolehan minyaknya. Tetapi lambat laun secara alamiah produksi minyaknya juga akan terus menurun. Kalau tidak ada upaya-upaya pekerjaan ulang, stimulasi, dan pemeliharaan, maka masa produksi dari sumur-sumur minyak baru, maupun sumur-sumur minyak lama tersebut kemungkin tidak akan berusia panjang.

    Kelihatannya tantangan untuk mencapai target produksi minyak 400.000 barel per hari di tahun 2030 ini cukup berat. Namun penentuan besarnya target tersebut dapat dimaklumi, karena target ini bertujuan untuk mendukung target Kementerian ESDM dalam memenuhi ambisinya untuk mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari di tahun 2030. Target produksi minyak 400.000 barel per hari ini kelihatannya akan dapat tercapai hanya apabila akan ditemukan cadangan minyak baru sekelas lapangan minyak Bekasap atau Bangko. Oleh karena itu kegiatan eksplorasi harus menjadi prioritas dan andalan utama dalam upaya untuk menaikkan produksi, selain upaya Enhance Oil Recovery (EOR). Tetapi untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan EOR tentunya akan memerlukan perencanaan dan studi yang cukup matang, dan memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu perlu dilakukan secara sangat berhati-hati dan penuh perhitungan yang seksama.

    Mengutip berita dari CNBC Indonesia tanggal 22 Juli 2021, Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan bahwa strategi jangka pendek dan menengah antara tahun 2022-2025 di antaranya adalah melakukan eksekusi program kerja peningkatan produksi secara masif, agresif, dan efisien, seperti monetisasi potensi low quality reservoir (Telisa). Masukan ini perlu mendapatkan perhatian yang sangat serius dari PHR.

    Untuk dapat mengimplementasikan rencana ini PHR perlu bijak untuk berani mencoba menggunakan teknologi-teknologi baru yang lebih efektif, efisien, dan ekonomis. Oleh karena itu PHR harus mau membuka diri terhadap masuknya teknologi-teknologi baru yang sesuai dengan kondisi di lapangan dengan resiko yang minimal. Kerjasama dengan tim Research Technology Innovation Pertamina perlu lebih ditingkatkan guna mempercepat proses asesmen terhadap masuknya teknologi-teknologi baru yang akan dilakukan ujicoba di lapangan.

    Salah satu teknologi pionir yang perlu mendapatkan perhatian PHR adalah teknologi Thermal Hydro-pneumatic Frac. Teknologi ini mengadopsi bahan bakar roket atau propulsi roket untuk menghasilkan super saturated steam guna memanaskan sumur-sumur minyak berat di lapangan minyak berat Duri. Minyak berat yang dipanaskan akan lebih mudah mengalir, sehingga akan lebih mudah untuk dapat dipompakan ke permukaan. Dengan demikian produksi minyak akan dapat meningkat. Teknologi baru ini berpotensi untuk menggantikan metoda lama Cyclic Steam Stimulation, atau yang lebih dikenal dengan Huffamp Puff. Teknologi pionir ini lebih praktis dan sederhana karena tidak memerlukan unit pengolahan air, dan lebih mudah pengoperasiannya.

    Mungkin ada baiknya PHR tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk mengejar target produksi minyak 400.000 barel per hari di tahun 2030. Tetapi harus lebih serius berkomitmen dan fokus terhadap upaya-upaya jangka panjang; yaitu untuk mencari ilmu, dan belajar dari pengalaman-pengalaman mengelola Blok Rokan yang telah ditinggalkan oleh Chevron tersebut. Mengapa ? Karena itulah yang sebenarnya yang telah dilakukan oleh Chevron sendiri selama bertahun-tahun beroperasi di Blok Rokan.

    Contoh yang paling jelas adalah bagaimana Chevron mengembangan lapangan minyak berat Duri yang merupakan lapangan minyak berat terbesar di dunia yang menerapkan teknologi EOR Steam Flooding. Chevron tahu bahwa Blok Rokan suatu saat tidak akan mungkin dapat mereka operasikan terus-menerus. Blok Rokan suatu saat akan habis masa kontraknya. Tetapi mereka tahu pasti bahwa mencari ilmu, dan belajar dari pengalaman-pengalaman mengelola Blok Rokan itu adalah sesuatu yang paling sangat berharga untuk dijadikan target mereka yang sesungguhnya.

    Mereka mendapatkan sesuatu yang paling sangat berharga, yang tidak semua perusahaan-perusahaan minyak lain memiliki kesempatan yang sama seperti ini. Karena dengan memiliki ilmu dan pengalaman-pengalaman yang sangat berharga dalam mengelola Blok Rokan ini, maka Chevron akan dapat menggunakan ilmu dan pengalaman-pengalamannya tersebut di mana saja, di Blok-blok minyak lain di seluruh dunia.

    Mungkin strategi Chevron inilah yang patut ditiru oleh PHR dalam mengelola Blok Rokan ke depan. Boleh-boleh saja target antara PHR dalam mengelola Blok Rokan adalah untuk mencapai produksi minyak 400 ribu barel per hari minyak di tahun 2030. Tetapi yang tetap harus menjadi fokus, komitmen, dan target utama PHR adalah mencari ilmu, dan belajar dari pengalaman-pengalaman mengelola Blok Rokan.

    Karena untuk mencapai target produksi minyak 400 ribu barel per hari di tahun 2030, pertama-tama PHR harus memiliki semangat, ambisi, dan visi yang luar biasa besarnya; yaitu untuk menjadikan Pertamina sebagai perusahaan minyak kelas dunia yang dikagumi karena keunggulan kinerjanya. Sehingga apabila minyak di Blok Rokan pada suatu saat nanti akan habis terkuras, Pertamina akan masih tetap memiliki modal pengalaman dan kemampuan besar untuk bisa bersaing dengan Chevron, dan perusahaan-perusahaan minyak kelas dunia lainnya untuk terus beroperasi di negara-negara lain di seluruh dunia.

    Terima Kasih Chevron. Selamat Datang Pertamina.

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.