Kisah Pendaki Gunung yang Nyambi Jadi Dokter - Urban - www.indonesiana.id
x

Tom Patey

anton sujarwo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2020

Rabu, 1 September 2021 06:04 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Kisah Pendaki Gunung yang Nyambi Jadi Dokter

    Mayoritas orang menganggap menjadi dokter adalah profesi utama, tapi tidak dengan sosok satu ini. Ia adalah salah satu manusia unik yang menjadikan mendaki gunung sebagai pekerjaan utama dan menjadi dokter adalah sambilan. Ia adalah salah satu legenda besar di atas gunung, ia juga pernah mendaki salah satu gunung tersulit di dunia. Berikut kisah lengkapnya.

    Dibaca : 1.009 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kisah ini dikutip dari buku Hari Terakhir di Atas Gunung karya Anton Sujarwo. Cerita tentang Tom Patey dan sederet pendakiannya yang mengagumkan adalah bagian kecil dari rangkaian cerita mountaineering karya penulis muda Indonesia satu ini. Buku-bukunya sendiri dapat Anda lihat disini.

    Buku Hari Terakhir Di Atas Gunung

    Profesi utama dari Thomas Walton Patey pada dasarnya adalah seorang dokter, bukan seorang pendaki profesional. Namun dilihat dari kenyataan yang dilakukannya setiap hari, maka ia lebih tepat untuk dikatakan sebagai seorang pendaki gunung yang nyambi menjadi dokter. Kecintaan Patey pada tebing-tebing dan gunung telah menarik begitu banyak perhatian dan waktunya. Ia jauh lebih memprioritaskan untuk datang sendirian ke medan-medan pendakian yang masih murni dan misterius daripada duduk di ruang praktiknya dan menunggu pasien datang. Meskipun tidak menganggap dirinya sebagai salah satu pendaki besar dalam abad para legenda, namun tidak dapat disangkal prestasi dan pencapaian yang diraih Tom Patey selama kegiatan mountaineeringnya, masih sulit dicari tandingannya hingga saat ini, khususnya di Skotlandia yang menjadi tanah tempat Patey dilahirkan.

    Tom Patey dilahirkan pada tanggal 30 Februari 1932 di kota Ellon, Skotlandia. Pedidikan dasar dan sekolah menengah Patey dihabiskannya di Ellon Academy dan Robert’s Gordon College di kota Aberdeen, sementara untuk materi kesehatan dan kedokteran, dipelajarinya di University of Aberdeen. Tom Patey adalah seorang siswa yang pandai dan cerdas. Dibalik tingkah lakunya yang agak sedikit nakal, ia memiliki pemikiran dan otak yang jenius. Tahun 1955 Patey lulus dari University of Aberdeen dan ia meraih gelar MB ChB. Di Indonesia kita mungkin bisa menyamakan gelar Tom Patey ini sebagai S.Ked atau Sarjana Kedokteran.

    Dengan segala potensi kepandaian dan kemampuannya dalam ilmu kedokteran dan keperawatan, sebenarnya Tom Patey dapat dengan mudah menjadi seorang dokter ahli berpenghasilan besar pada rumah sakit-rumah sakit utama Skotlandia. Namun pemikiran dan jiwa petualangannya yang sederhana, membuat Patey memutuskan untuk menjadi seorang dokter umum di kota kecil Ullapool.

    Pemilihan kota Ullapool sebagai tempat menetap bagi Tom Patey adalah karena pengaruh dari jiwa penjelajahannya yang tinggi. Di Ullapool yang berjarak ratusan kilometer dari Aberdeen ini, terdapat begitu banyak pegunungan yang belum diekplorasi. Pegunungan Bheinn Ghoblbach di sebelah barat, pegunungan An Teallach di barat daya, Beinn Deard di bagian timur dan Ben Mhòr na Còigich di sebelah utara, telah membuat kota Ullapool demikian istimewa dalam pertimbangan Patey. Gunung-gunung terjal yang mengelilingi Ullapool jauh lebih menarik perhatian seorang Thomas Patey daripada jaminan kenyamanan dan kemapanan yang dapat ia temui di Aberdeen atau kota besar Skotlandia lainnya.

    Buku mendaki gunung Anton Sujarwo

    Ada cukup banyak sumber yang mengatakan waktu Tom Patey untuk menjadi pendaki gunung di Ullapool, lebih sering mengorbankan waktunya sebagai seorang dokter. Dan karena pandangan pada masa itu yang mengatakan (khususnya di Ullapool) bahwa mendaki gunung adalah pekerjaan yang tidak penting dan cenderung berkonotasi tidak baik, Tom Patey terpaksa melakukan hobi dan pilihannya itu secara diam-diam. Seorang dokter yang diharuskan memiliki kesan anggun, kharismatik dan tidak banyak melakukan kegiatan ‘kotor’, tidak dapat melekat dalam diri Patey. Seringkali ia menyembunyikan perlengkapan pendakiannya yang kotor dan bau di balik bagasi mobil saat ia berpapasan dengan seorang penduduk yang bertanya kemana tujuannya.

    Perkenalan pertama kali Tom Patey dengan dunia climbing dan mountaineering terjadi pada saat ia menjadi salah satu anggota pramuka. Namun saat di Universitas Aberdeen, Patey untuk pertamakalinya menunjukkan bakat dan kemampuannya yang tinggi dalam pendakian gunung. Selama menjadi pemimpin Lairig Club (Aberdeen Mountaineering Club, semacam Mapala di Indonesia), Tom Patey telah menunjukkan banyak prestasinya dengan melakukan pendakian dan eksplorasi di Pegunungan Lochnagar dan yang lainnya.

    Tidak seperti para pendaki pionir lainnya, Patey dapat dikatakan lebih cuek dan tidak perduli untuk urusan pencatatan dan data-data. Banyak dari tebing-tebing dan pegunungan Skoltandia yang berhasil ia daki namun tidak ia ceritakan atau ia tulis sebagai bagian dari koleksinya. Patey beralasan bahwa jika sebuah gunung yang didaki akan tetap menjadi sesuatu yang menawan dan menarik bagi setiap orang ketika masih terjaga orisinalitasnya.

    Selain itu alasan Patey untuk membuat beberapa rute first ascentnya di Skotlandia tetap tak tercatat adalah supaya para pendaki selanjutnya masih tetap dapat merasakan antusiasme yang tinggi ketika mereka mencobanya nanti. Salah satu prestasi monumental dan fenomenal yang berhasil diukir oleh Tom Patey di Skotlandia adalah saat melakukan pendakian traversing (pendakian lintasan) Pegunungan Cuillin Ridge pada musim dingin di tahun 1965. Winter traversing Cuillin Ridge sendiri dianggap sebagai tantangan tertinggi dalam dunia mountaineering di Inggris dan Skotlandia karena kesulitan teknis yang disediakan tempat ini. Dalam melintasi Cuillin Ridge saat itu, Tom Patey ditemani oleh Hamish MacInnes, David Crabbe, dan juga Brian Robertson.

    Sebelum melakukan traversing yang melegenda di negaranya sendiri, sebelumnya Tom Patey telah membukukan sebuah pendakian mengagumkan lain pada ekspedisinya di Karakoram. Tahun 1956, tiga tahun setelah Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil mencapai puncak Everest untuk yang pertamakalinya, Tom Patey bersama dengan beberapa orang pendaki Inggris berhasil menaklukkan ‘Benteng Terakhir’ yang ada di pegunungan Karakoram. Yang dimaksud dengan Benteng Terakhir Karakoram adalah sebuah gunung setinggi 7.276 meter yang lebih populer dengan sebutan Muztagh Tower.

    Buku mendaki gunung

    Gunung sangat teknis ini dinamakan ‘Benteng Tearkhir’ adalah karena fotonya yang diambil oleh Vittorio Sella tahun 1909 dimuat dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1941, yang di bawah poto tersebut dimuat sebuah tulisan yang berbunyi ‘The Last Citadel’ yang artinya menara terakhir atau benteng terakhir.

    First ascent Muztagh Tower saat itu memiliki kisah yang menarik juga untuk kita ceritakan, dimana dua kubu pendaki Eropa saling berebut tahta untuk menjadi yang pertama penakluk The Last Citadel. Kubu pendaki pertama datang dari Perancis dengan para pendakinya yaitu; Guido Magnone, Robert Paragot, Paul Keller, André Contamine dan François Florence. Sementara itu kubu kedua datang dari Inggris dan Skotlandia dengan komposisi para pendaki mereka antara lain; John Hartog, Joe Brown, Ian Davis McNaught dan juga Tom Patey. Perlombaan ini pada akhirnya dimenangkan oleh tim Inggris, mereka tercatat mencapai puncak Muztagh Tower pada tanggal 6 Juli 1956, lebih cepat dari para pendaki Perancis yang mencapai puncak itu pada tanggal 11 Juli 1956, atau lima hari setelah kehadiran Tom Patey dan kawan-kawan.

    Dalam pendakian Muztagh Tower ini, salah satu sisi ketangguhan (sekaligus kontroversial) Tom Patey diceritakan oleh Joe Brown. Di antara pancaran silau sinar matahari yang membias di atas permukaan salju, batu dan juga es di Last Citadel, Patey hampir selalu tidak menggunakan kacamata, benda yang sangat krusial untuk mengantisipasi snowblind atau kebutaan salju.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.