The Dream Team, Jejak Grandmaster Catur Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

GM Novendra Priasmoro saat mengikuti turnamen di eropa yang menghantarkannya meraih gelar GM.

Raiders Marpaung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juni 2020

Selasa, 7 September 2021 17:35 WIB

  • Olah Raga
  • Topik Utama
  • The Dream Team, Jejak Grandmaster Catur Indonesia

    Impian saya waktu itu adalah bahwa suatu saat nanti team Olimpiade Catur Indonesia akan diperkuat oleh pecatur yang semuanya bergelar GM. Mimpi tinggal mimpi karena sampai pada Olimpiade Catur ke-30 tahun 1992, Indonesia tetap saja baru memiliki tiga pecatur bergelar GM.

    Dibaca : 381 kali

    The Dream Team yang dimaksud dalam tulisan ini tidak ada kaitannya dengan team bola basket Amerika Serikat yang berhasil merebut medali emas dalam olimpiade Barcelona tahun 1992, dengan prestasi yang fenomenal mendominasi kompetisi cabang olahraga bola basket.

    Juga bukan team SCE (Sekolah Catur Enerpac yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Catur Utut Adianto) yang dibentuk sekitar tahun 2000 an terdiri dari beberapa pecatur remaja berbakat seperti Taufik Halay yang sekarang sudah bergelar International master (IM), Susanto Megaranto sekarang sudah bergelar grand master (GM), Andrean Susilodinata sekarang bergelar fide master (FM), Tirta Chandra Purnama sekarang bergelar International master (IM), dan Ferry Ferdiansyah yang sekarang sudah bergelar fide master (FM).

    Akan tetapi The Dream Team yang dimaksud dalam tulisan ini adalah hanya impian saya sebagai penggemar/pemerhati catur di Indonesia tentang team Olimpiade Catur Indonesia sejak tahun 1986 yang lalu, tepatnya sejak berakhirnya Olimpiade Catur di Dubai, Uni Emirat Arab, dimana dua anggota team catur Indonesia pada waktu itu yaitu Utut Adianto dan Ardiansyah berhasil meraih gelar GM menjadi pecatur kedua dan ketiga Indonesia yang bergelar GM.

    Impian saya waktu itu adalah bahwa suatu saat nanti team Olimpiade Catur Indonesia akan diperkuat oleh pecatur yang semuanya bergelar GM. Mimpi tinggal mimpi karena sampai pada Olimpiade Catur ke-30 tahun 1992, Indonesia tetap saja baru memiliki tiga pecatur bergelar GM.

    Pecatur kawakan GM Herman Suradiradja (rating Elo tertinggi 2380) menjadi orang Indonesia pertama yang meraih gelar GM tahun 1977 melalui serangkaian turnamen catur yang diikutinya di beberapa negara Eropa Timur. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah empat kali, yang pertama tahun 1966, kemudian tahun 1972, tahun 1978, dan terakhir tahun 1980.

    Prestasi yang diraih dari keempat Olimpiade tersebut adalah 20 point dari 40 partai atau 50 % dengan perincian 10 kali menang, 20 kali remis, dan 10 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1947 itu antara lain juara dalam Kejurnas Catur 1975, juara dalam turnamen catur internasional di Primorsko Bulgaria 1977, dan juara dalam turnamen catur internasional di Plovdiv Bulgaria 1978.

    Kemudian pecatur terbaik Indonesia GM Utut Adianto (rating Elo tertinggi 2615) menjadi orang Indonesia ke dua yang meraih gelar GM tahun 1986 melalui salah satu Olimpiade Catur yang diikutinya di Dubai, Uni Emirat Arab, sekaligus menciptakan record pecatur termuda se-Asia Tenggara yang meraih gelar GM saat masih berusia 21 tahun. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah sembilan kali, yang pertama tahun 1982, kemudian berturut-turut dari tahun 1986 sampai dengan tahun 1994, tahun 2000, tahun 2006, dan terakhir tahun 2016.

    Prestasi yang diraih dari ke sembilan Olimpiade tersebut adalah 62,5 point dari 102 partai atau 61,3 % dengan perincian 45 kali menang, 35 kali remis, dan 22 kali kalah. Di samping itu Utut juga berhasil meraih medali perak perseorangan untuk pemain papan dua di Dubai tahun 1986 dan medali emas perseorangan untuk pemain papan satu di Istanbul tahun 2000. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1965 itu antara lain juara dua North American Open 2000, meraih medali emas Sea Games 2004, dan juara FIDE zone 3.3 Championships 2005.

    Selanjutnya pecatur yang kenyang pengalaman GM Ardiansyah (rating Elo tertinggi 2480) menjadi orang Indonesia ke tiga yang meraih gelar GM tahun 1986 melalui salah satu Olimpiade Catur yang diikutinya di Dubai, Uni Emirat Arab. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah sebelas kali, yang pertama tahun 1970, kemudian berturut-turut dari tahun 1972 sampai dengan tahun 1990 (kecuali tahun 1976), dan terakhir tahun 1996.

    Prestasi yang diraih dari ke sebelas Olimpiade tersebut adalah 76 point dari 144 partai atau 52,8 % dengan perincian 54 kali menang, 44 kali remis, dan 46 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1951 itu antara lain juara dalam Kejurnas Catur tahun 1969, 1970, 1974, 1976, dan 1988.

    Dalam Olimpiade Catur Ke-36 tahun 2004, sebenarnya PB PERCASI sudah dapat mewujudkan impian saya, karena saat itu setelah melalui kurun waktu 18 tahun Indonesia sudah memiliki enam pecatur bergelar GM sesuai dengan jumlah anggota team Catur Olimpiade yang terdiri dari empat pemain inti dan dua pemain cadangan.

    Pecatur senior GM Edhi Handoko (rating Elo tertinggi 2520) memimpin rekan-rekannya pecatur kelahiran tahun 1960 an mengikuti jejak GM Utut Adianto untuk meraih gelar GM, ia berhasil menjadi orang Indonesia ke empat yang meraih gelar GM tahun 1994 melalui Sirkuit Asia yang diikutinya di beberapa negara Asia. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah delapan kali, yang pertama tahun 1980, kemudian berturut-turut dari tahun 1982 sampai dengan tahun 1994 (kecuali tahun 1990), dan terakhir tahun 2000.

    Prestasi yang diraih dari ke delapan Olimpiade tersebut adalah 53 point dari 94 partai atau 56,4 % dengan perincian 34 kali menang, 38 kali remis, dan 22 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1960 itu antara lain menjuarai Kejurnas Catur tahun 1978, 1979, 1984, dan 1991. Medali emas PON 1985, medali perak Sea Games 2003, juara antar kota asia 1993 dan 1994.

    Kemudian pecatur tangguh GM Ruben Gunawan (rating Elo tertinggi 2467) menyusul menjadi orang Indonesia ke lima yang meraih gelar GM tahun 1997 melalui salah satu Turnamen Catur Internasional yang diikutinya di Jakarta. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah dua kali, yang pertama tahun 2000, dan terakhir tahun 2004 yang lalu.

    Prestasi yang diraih dari ke dua Olimpiade tersebut adalah 6 point dari 15 partai atau 40 % dengan perincian 4 kali menang, 4 kali remis, dan 7 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1968 itu antara lain juara kejuaraan Junior Asia 1983, menduduki peringkat 4 Kelompok Open Master Turnamen Japfa Chess 2005.

    Selanjutnya pecatur yang sudah matang GM Cerdas Barus (rating Elo tertinggi 2479) menjadi orang Indonesia ke enam yang meraih gelar GM tahun 2002 melalui salah satu Olimpiade Catur yang diikutinya di Bled. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah tujuh kali, yang pertama tahun 1984, kemudian dari tahun 1988 sampai dengan tahun 1990, tahun 1994 sampai dengan tahun 2000 (kecuali tahun 1998), dan terakhir tahun 2002.

    Prestasi yang diraih dari ke tujuh Olimpiade tersebut adalah 41,5 point dari 69 partai atau 60,1 % dengan perincian 25 kali menang, 33 kali remis, dan 11 kali kalah. Di samping itu ia juga berhasil meraih medali emas perseorangan untuk pemain papan tiga di Bled tahun 2002. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1962 itu antara lain juara Kejurnas Catur 1987, 1999, 2002 dan juara Telin Chess Tournament tahun 2011.

    Akan tetapi mimpi tetap tinggal mimpi, karena dalam Olimpiade Catur Ke-36 tahun 2004 yang lalu itu, PB PERCASI hanya mengirimkan seorang pemain yang bergelar GM yaitu GM Ruben Gunawan, dan hasilnya team Olimpiade Catur Indonesia terpuruk pada posisi ke 48 sehingga Ketua Umum PB PERCASI pada waktu itu Jefrie Geofanie mengundurkan diri.

    Selanjutnya Indonesia berhasil menambah satu pecatur lagi yang bergelar GM yaitu pecatur muda berbakat besar GM Susanto Megaranto (rating Elo tertinggi 2569) yang menjadi orang Indonesia ke tujuh yang berhasil meraih gelar GM tahun 2004 melalui Olimpiade Catur Ke-37 di Calvia, Mallorca, Spanyol, sekaligus memecahkan record gurunya sendiri GM Utut Adianto setelah berhasil meraih gelar GM pada usia baru 17 tahun. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah tujuh kali, yang pertama tahun 2002, dan berturut-turut sampai dengan tahun 2014.

    Prestasi yang diraih dari ke tujuh Olimpiade tersebut adalah 48 point dari 77 partai atau 62,3 % dengan perincian 34 kali menang, 28 kali remis, dan 15 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1987 itu antara lain meraih medali perak Sea Games 2004, juara first Asian University Chess Championship tahun 2015, juara FIDE zone 3.3 Championships 2019, dan juara 3 Chennai Open International Grandmaster Chess Tournament tahun 2019.

    Tahun lalu Indonesia berhasil menambah satu pecatur lagi yang bergelar GM yaitu pecatur muda berbakat besar GM Novendra Priasmoro (rating Elo tertinggi 2502) yang menjadi orang Indonesia ke delapan yang berhasil meraih gelar GM tahun 2020 melalui Kejuaraan Liberec Terbuka 2020 di Kota Liberec, Ceko. Pengalaman memperkuat team Olimpiade Catur Indonesia sudah dua kali, yang pertama tahun 2014, dan berikutnya tahun 2018.

    Prestasi yang diraih dari ke dua Olimpiade tersebut adalah 9.5 point dari 18 partai atau 53 % dengan perincian 7 kali menang, 5 kali remis, dan 6 kali kalah. Prestasi lain pecatur kelahiran tahun 1999 itu antara lain juara turnamen First Saturday GM February 2019, juara tiga turnamen Third Saturday Djenovici MNE - GM II-2019, juara dua turnamen First Saturday GM March 2019, juara tiga JAPFA Grandmaster Chess Tournament 2019, juara dua turnamen Asian Junior Chess Championship 2019 (OPEN) RAPID, dan juara turnamen 16th IGB Dato Arthur Tan Malaysian Open Chess Championship 2019.

    Mimpi semakin panjang, karena saat ini Indonesia tinggal memiliki empat pecatur yang bergelar GM yaitu Utut Adianto, Susanto Megaranto, Cerdas Barus dan Novendra Priasmoro. Empat pecatur bergelar GM lainnya sudah meninggal dunia yaitu Herman Suradiredja, Ardiansyah, Edhi Handoko dan Ruben Gunawan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.