46 Napi Itu Manusia yang Berjiwa, Bukan Angka - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Clker-Free-Vector-Images dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 13 September 2021 18:54 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • 46 Napi Itu Manusia yang Berjiwa, Bukan Angka

    Kematian puluhan napi ini adalah tragedi kemanusiaan. Para napi itu tidak mampu melakukan upaya apapun untuk mengatasi api yang membakar sel mereka. Mereka tidak berdaya melawan amuk api yang menyala-nyala. Sebagai manusia, pejabat tertinggi mestinya tersentuh nuraninya, sebab ia tidak mampu menggunakan wewenangnya untuk menjaga keselamatan manusia yang dipidanakan dan dipenjarakan.

    Dibaca : 1.471 kali

     

    Kematian manusia, meskipun hanya satu, bukanlah sekedar angka. Sekalipun ia seorang narapidana, ia tetap berpeluang memperoleh kematian yang layak, sebab masih terbuka jalan baginya untuk menjadi manusia baik di hadapan Penciptanya. Siapapun bisa berubah, yang buruk tak selamanya buruk, sebagaimana sebaliknya. Namun, siapapun yang percaya bahwa setelah gelap akan terbit terang, ia layak menerima kematiannya secara cukup patut.

    Mereka, para napi yang meninggal dalam kebakaran di salah satu blok lapas Tangerang, jangan pernah dianggap dan diperlakukan sebagai angka. Bahkan, seandainya Anda menganggapnya angka, 46 adalah angka yang besar sebab menyangkut kematian dalam satu peristiwa. Mereka meninggal dalam keadaan terkurung dan terkunci. Tidak berkutik dan tidak mampu menyelamatkan diri dari amuk api. Ini tragedi kemanusiaan, bukan kematian biasa. Tidak patut menganggap kematian mereka sekedar statistik belaka.

    Jikalaupun keluarga napi ini diberi santunan, ini sesuatu yang sudah semestinya, tapi bukan berarti pertanggungjawaban kemanusiaan lantas hilang begitu saja. Dalam bikrokrasi ada jenjang-jenjang wewenang dan tanggungjawab, begitu pula dengan pengelolaan lapas. Orang yang memimpin pada tingkat lapas tidak dapat dianggap sebagai yang paling bertanggung jawab, sebab ia tidak memiliki wewenang penuh mengenai semua urusan di dalam lapas. Ada pejabat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, yang menetapkan kebijakan besar.

    Bila ada yang mengatakan bahwa kebakaran di lapas dan kematian puluhan napi itu jangan dipolitisasi, maka apa yang ia maksud politisasi? Jika pejabat tertinggi dalam jenjang wewenang dan tanggungjawab harus mengundurkan diri karena peristiwa ini, ini bukanlah perkara politik, melainkan konsekuensi dari jabatan. Tidak bisa seorang pejabat merasa senang karena dilimpahi wewenang mengatur ini dan itu, namun tidak bersedia mengemban tanggung jawab yang melekat pada wewenang itu manakala muncul persoalan. Tidak bisa ia berlepas tangan sepenuhnya dari tanggungjawab atas apa yang terjadi di bawah.

    Kematian puluhan napi ini adalah tragedi kemanusiaan. Para napi itu tidak mampu melakukan upaya apapun untuk mengatasi api yang membakar sel mereka. Mereka tidak berdaya melawan amuk api yang menyala-nyala. Mereka tidak mampu melepaskan diri dari kepungan api karena terkurung dan terkunci. Sebagai manusia, pejabat tertinggi itu mestinya tersentuh nuraninya, sebab ia tidak mampu menggunakan wewenangnya untuk menjaga keselamatan manusia yang dipidanakan dan dipenjarakan. Kebakaran dalam penjara merupakan gejala konkret kesalahan manajemen maupun kebijakan di tingkat atas yang terlihat di jenjang bawah.

    Lebih dari persoalan politik maupun hukum, peristiwa ini sarat dengan persoalan kemanusiaan: tentang bagaimana kita memandang manusia lain dan tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain, sekalipun manusia itu dinyatakan hakim sebagai kriminal. Berhentilah melihat jumlah korban kebakaran hanya sekedar angka yang tidak berarti apa-apa. Tataplah para napi itu sebagai manusia yang juga berhak atas kematian yang layak. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.