Asa Adah Jadi Hafidzah, dari Pelosok Lombok Menuju Pesantren Takhasus Cikarang - Urban - www.indonesiana.id
x

Saadah

PPPA Daarul Quran

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Agustus 2020

Kamis, 16 September 2021 06:11 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Asa Adah Jadi Hafidzah, dari Pelosok Lombok Menuju Pesantren Takhasus Cikarang

    Namanya Sa’adatud Darain. Adah, panggilan akrabnya adalah putri kedua dari pasangan Imran dan Usniati. Gadis 16 tahun ini memiliki cita-cita menjadi hafidzah Al-Qur’an 30 juz.

    Dibaca : 1.299 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Namanya Sa’adatud Darain. Adah, panggilan akrabnya adalah putri kedua dari pasangan Imran dan Usniati. Gadis 16 tahun ini memiliki cita-cita menjadi hafidzah Al-Qur’an 30 juz.

    Dengan bekal hafalan 5 juz, saat ini Adah bertekad untuk bersungguh-sungguh menyelesaikan  hafalannya di Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang.

    Menyeberang pulau menjadi pengalaman tersendiri bagi Adah. Mengingat, ia lahir dan besar di Dusun Melempo, Desa Obel-Obel, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dengan dukungan penuh dari kedua orang tua, ia merajut mimpi di tanah Jawa.

    Setelah dinyatakan lulus seluruh seleksi Pesantren Tahfizh Daarul Qru’an Takhasus Cikarang, Adah memulai setoran hafalan secara online. Dengan kondisi tempat tinggal yang berada di pelosok, Adah merasakan betul kesulitan mendapatkan jaringan seluler.

    Setiap kali hendak setor hafalan, Adah harus berjalan 300 meter ke pantai untuk sekedar mencari jaringan. Terkadang Adah juga harus menunggu hingga berjam-jam untuk menyesuaikan dengan jadwal asatidz yang membimbingnya. Namun, itu semua tidak akan menghalangi mimpinya menjadi penghafal A-Qur’an.

    Selain aktif setoran hafalan online. Adah juga menyetorkan hafalannya secara langsung di Rumah Tahfidz Melempo, Lombok Timur, binaan PPPA Darul Quran. Dari sana pula  awal langkag Adah untuk menghafal Al-Qur’an.

    Selesai menyetorkan hafalan Al-Qur’annya, Adah tak lupa kewajibannya sebai seorang anak yakni membantu orang tua. Usniati, ibu Adah, memiliki warung kecil di rumahnya. Mereka juga menjual beberapa liter bensin. Setiap ada waku luang, Adah bergantian dengan ibu menjaaga warung.

    Bukan hanya bergantian menunggu warung, Adah juga kerap kali membantu ibu memanen jambu mete. Berasama sang ibu, ia memungut jambu mete yang jatuh dari pohonnya untuk kemudian menjualnya ke pengepul.

    Adah percaya bahwa untuk menjadi anak yang sukses dan membanggakan orang tua tidak hanya dilakukan dengan berprestasi di sekolah, tetapi juga dari hal kecil yang menyenangkan orang tua. Ia yakin hal itu bisa menjadi jalan seorang anak meraih kesuksesan dunia akhiat.

    Ikuti tulisan menarik PPPA Daarul Quran lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.