Petaka di Desa Wonopati - Part 2: Teror - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 23 September 2021 07:01 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Petaka di Desa Wonopati - Part 2: Teror

    Setelah setahun peristiwa pembunuhan Aki Cokro Ismoyono telah berlalu, seketika warga Desa Wonopati dikejutkan oleh rentetan pembunuhan misterius yang sangat mengerikan.

    Dibaca : 862 kali

    Satu tahun telah berlalu. Keadaan di Desa Wonopati sudah kembali normal. Warga kembali beraktivitas seperti dulu; bertani, berkebun, berternak, jaga toko, dan sebagainya, meskipun masih terlihat beberapa tentara yang berjaga di beberapa titik desa.  Namun seketika aktivitas normal itu pecah, akibat suara jeritan ibu-ibu petani yang sedang memanen padi di sawah. Warga yang mendengar jeritan tersebut segera berdatangan ke lokasi kejadian dan menemukan sebuah mayat pria dalam keadaan leher yang telah digorok hampir putus dengan sekujur tubuhnya tercabik-cabik. Kedua tangan dan kakinya terpotong, serta ditemukan tidak jauh dari lokasi tubuhnya berada, sehingga membuat orang yang melihatnya akan merasa ngeri. Wajahnya penuh sayatan, tapi masih dapat dikenali identitasnya, bahwa mayat itu bernama Panji. Burung-burung gagak mulai mengerumuni dan memakannya, mencongkel bola mata dan mengupas kulit beserta dagingnya.

    Lantas kejadian tersebut langsung membuat geger desa setempat. Berita-pun menyebar ke seluruh pelosok desa, hingga sampai di telinga Herman, yang kini adalah mantan anggota Pemuda Pembasmi Kelompok Merah. Dia mengetahui berita itu dari ayahnya yang kebetulan seorang petani, sekaligus salah satu warga yang menyaksikan dan membantu mengamankan mayat tersebut. Herman kian terkejut setelah mengetahui identitas dari mayat itu adalah Panji, seorang bawahan sekaligus temannya semasa masih jadi anggota Pemuda Pembasmi Kelompok Merah. Sontak dia menangis sesenggukan dengan hati yang sungkawa.

    ****

    Herman adalah seorang pemuda berusia 20 tahun. Dia hidup dalam kemiskinan bersama kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang petani dan ibunya adalah seorang pengrajin kain batik. Tetapi upah mereka masih belum cukup untuk memenuhi kehidupan mereka, sehingga Herman harus bekerja serabutan demi membantu keuangan keluarganya. 

    Sewaktu meletusnya peristiwa berdarah di Jakarta yang berujung pada pemburuan simpatisan dan anggota Kelompok Merah, Herman terdorong untuk ikut bergabung menjadi sukarelawan, meskipun dia buta politik dan tidak tahu apa-apa mengenai Kelompok Merah. Awalnya dia hanya bergabung demi mendapatkan upah. Namun setelah itu, berkat bimbingan dari pihak militer dan tokoh agama, dia makin mengenal Kelompok Merah dan membencinya.  Herman merasa yakin bahwa dia telah mengambil pilihan yang tepat, karena dia merasa itu adalah bagian dari tugas negara dan agama.

    Karena usia Herman yang masih di bawah 25 tahun, maka dia ditempatkan di Organisasi Pemuda Pembasmi Kelompok Merah. Di sanalah dia bertemu dengan teman-temannya yang akan menemaninya berburu selama setahun.

    ****

    Kesedihan campur murka telah mewarnai batin Herman beserta teman-temannya, terutama saat melihat kondisi mayat Panji yang sangat mengenaskan. Dia dimakamkan pada hari itu juga dengan diwarnai oleh kedukaan - terutama dari keluarganya - sekaligus kecurigaan warga. Banyak warga yang bertanya-tanya, apakah dia korban pembalasan atau anggota dari Kelompok Merah yang tersisa?

    Perihal tersebut membuat Herman dan teman-temannya jadi resah. Mereka berpikir bahwa itu adalah perbuatan dari Kelompok Merah yang melancarkan aksi balas dendam.  Sepulang dari pemakaman, mereka semua berkumpul di sebuah gazebo bambu yang terletak di pinggir sawah. Mereka mendesain rencana untuk mencari orang-orang yang melakukan aktivitas mencurigakan, demi ditangkap untuk diinterogasi, serta jika orang itu memiliki tanda-tanda dari simpatisan atau anggota Kelompok Merah, maka mereka akan segera mengeksekusinya untuk membalas kematian Panji.

    Walhasil, mereka semua sepakat atas rencana tersebut, sekaligus melancarkan aksinya pada malam itu juga. Ketika malam sudah tiba, mereka berkumpul di sebuah pos jaga keamanan yang terletak di pertigaan jalan yang dikelilingi oleh sawah. Lalu dari situ mereka mulai menjelajahi seluruh pelosok desa; di tengah keheningan malam yang diselimuti oleh kabut, mengganggu pandangan mata, sehingga harus berjalan pelan dan hati-hati. 

    Mereka mengitari desa - dari ujung ke ujung dan dari dusun ke dusun - tapi mereka tidak menemukan tanda yang mencurigakan. Para penduduk desa sudah tidak keluar rumah selepas magrib, sehingga menyisakan jalanan yang sepi. Sangat sedikit orang yang keluar rumah dan itu hanya para peronda.

    Selain itu, di beberapa titik wilayah telah dijaga oleh tentara yang sedang menerapkan jam malam, peraturan pemerintah yang melarang warga untuk keluar di malam hari, selain memiliki keperluan tertentu.  Setelah beberapa jam mengitari desa dan tidak menemukan orang atau tanda yang mencurigakan; akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri aktivitas tersebut.

    Kalakian mereka berpisah satu dengan yang lainnya dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka semua pulang berpasangan, kecuali Suparji yang memiliki rumah yang terpisah dari teman-temanya. Rumah Suparji terletak di daerah perbatasan timur desa, sehingga dia harus pulang sendirian dengan mengendarai sepeda ontel.

    Saat di perjalanan pulang, Suparji tidak sengaja melewati rumah Aki Cokro - terletak di sebelah kiri jalan dan terpisah oleh enam hektar sawah - yang kini sudah rata dengan tanah dan meninggalkan sebuah tiang pancang yang terbuat dari kayu jati. Suparji terus melaju melewati rumah Aki Cokro dengan santai dan menerobos kabut yang menyelimuti jalan. 

    Sewaktu Suparji sudah mendekati pengujung jalan, terlihat sebuah warung kopi yang diperuntukan untuk orang yang sedang jaga malam, beserta beberapa orang pengunjung yang sedang asik berkumpul. Setelah melihat warung itu, Suparji tergoda untuk singgah demi menikmati secangkir kopi hangat manis, agar menyegarkan tubuhnya yang sedari tadi menggigil akibat dinginnya malam. Lantas dia segera mengayunkan sepeda ke arah warung kopi itu.

    Di waktu yang bersamaan, di dalam warung kopi itu terdapat empat orang warga peronda dan tiga orang tentara yang sedang asik bermain kartu sambil minum kopi. Tiba-tiba mereka mencium bau amis yang membuat mereka saling bertanya-tanya. Di tengah kebingungan tersebut, salah seorang warga melihat dari kejauhan, sebuah cahaya sepeda ontel yang diselimuti oleh kabut - sehingga tidak dapat melihat si pengendara - sedang melaju ke arah warung kopi tempat mereka berada. Akan tetapi, mereka tidak mempedulikannya dan melanjutkan bermain kartu. 

    Namun semua pecah ketika si ibu penjual warung menjerit ngeri. Sontak mereka semua menoleh ke arah si ibu penjual warung menatap, dan mendapati seorang pria tanpa kepala dengan darah segar masih bercucur keluar dari leher - membasahi bajunya yang berwarna putih - sedang mengendarai sepeda ontel dengan tubuh yang kaku. Sosok itu menerobos kepungan kabut dan melaju ke arah warung. Sesampainya di sana, sosok itu menabrak sebuah meja kayu - tempat mereka bermain kartu - dan jatuh ke tengah kerumunan pengunjung. Sontak mereka semua berteriak histeris dan berlari pontang-panting tanpa arah, meninggalkan si ibu penjual warung yang terjatuh pingsan.

    ****

    Keesokan harinya, mayat itu berhasil diidentifikasi bernama Suparji dan segera dikebumikan pada hari itu juga. Suparji terpenggal saat sedang mengendarai sepeda oleh suatu benda yang tajam - setajam silet - hingga menciptakan sebuah potongan horizontal yang rapi. Kepalanya ditemukan tidak jauh dari lokasi tubuhnya berada.  Penyebab utamanya masih belum diketahui. Yang pasti bukan aksi perampokan, karena dompet Suparji masih tersimpan di dalam saku celananya. Lebih-lebih tidak ada juga tanda-tanda kekerasan atau perkelahian di tubuhnya.

    Hal ini tentu menimbulkan teka-teki misteri bagi pihak berwajib dan warga desa, sehingga menciptakan spekulasi yang beragam. Tidak sedikit warga desa yang mulai mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Berita peristiwa itu segera menyebar luas ke seluruh pelosok desa, sehingga menciptakan kegaduhan massal.

    Walhasil, pihak militer bersama keamanan rukun warga mulai memperketat aturan jam malam. Mereka akan menangkap siapa saja yang berkeliaran selepas magrib dan tidak segan membunuhnya jika orang itu melakukan perlawanan. Sebab pihak militer berasumsi bahwa pembunuhan itu merupakan aksi balas dendam dari Kelompok Merah.

    Ketika kegelapan mulai kembali menyelimuti desa Wonopati; sekaligus kabut-kabut turun dari gunung dan mengiringi kesunyian, membuat suasana desa kian mencekam. Semua warga tidak ada yang berani keluar rumah, kecuali warga yang bertugas ronda malam. Sebagian besar mereka takut akan kisah seram di warung kopi, terutama bagi mereka yang menyaksikan kejadian itu secara langsung.  Lebih-lebih dengan peringatan keras dari pihak militer, telah membuat mereka semakin tidak berani keluar rumah. 

    Seluruh anggota tentara di Desa Wonopati - berjumlah sekitar 50 orang - melakukan patroli di jalan-jalan utama desa, sedangkan para warga peronda berkeliling di seluruh pelosok rumah penduduk. Mereka semua dipersenjatai lengkap dan berkelompok. Seolah-olah situasi sedang berada di medan perang. Herman - bersama sisa temannya - terpaksa harus mengurung diri di dalam rumah, lantaran takut akan ketidaktahuan mereka mengenai peristiwa yang sedang terjadi. Ditambah dengan cerita seram yang dibumbui oleh mitos dan takhayul dari warga yang didengar seharian penuh, kian menciutkan nyali mereka. Meskipun begitu, mereka tetap akan berusaha mencari tahu penyebab kematian dua orang teman mereka dan berencana untuk melakukan aksi pembalasan.

    Perihal tersebut akan segera mereka diskusikan pada hari esok.  Suasana malam yang sepi seketika pecah, akibat suara jeritan histeris seorang perempuan dari sebuah rumah yang terletak di tengah perumahan penduduk. Walhasil, suara jeritan itu menarik perhatian para tetangga dan orang-orang yang berjaga di sekitar rumah tersebut. Mereka langsung berbondong-bondong mendatangi rumah itu dan menemukan sebuah pemandangan yang horor. 

    Di pekarangan rumah itu terdapat sebuah mayat seorang pria yang termutilasi, kedua tangan dan kakinya terpotong lepas - tercincang hingga menjadi empat potong - dari tubuhnya, wajahnya terdapat banyak luka sayatan yang buruk sampai sulit dikenali, kedua matanya bolong sehingga terlihat seperti sedang mengenakan kacamata hitam; rahang bawahnya putus - membuat lidah si korban dapat menjulur lepas ke bawah - memperlihatkan ekspresi yang horor. Tubuhnya koyak-koyak sangat parah. Darah tidak hanya bersibaran di atas tanah, tapi juga di dinding depan rumah, jendela, atap, hingga kandang ayam.

    Selain itu, mereka juga menemukan seorang perempuan muda dalam keadaan hamil tua yang sedang duduk dalam kondisi histeria di depan pintu rumah. Tubuhnya mematung di atas lantai dan menggeligis, sembari menatap mayat pria itu dengan ekspresi yang dahsyat.

    ****

    Pria itu berhasil diidentifikasi bernama Maruf - teman Herman - berkat keterangan dari perempuan muda yang ternyata adalah istrinya. Lantas dalam keadaan yang masih terguncang, istri Maruf bersaksi pada warga dan para tentara mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. 

    Istri Maruf bercerita, sewaktu dia sedang berbenah di ruang tamu bersama Maruf, seketika mereka mendengar suara yang sangat rusuh dari kandang ayam - terletak di pekarangan rumah - seakan sedang berhadapan dengan predator hutan. Lantas Maruf segera keluar untuk memeriksanya, demi memastikan bahwa ayam-ayamnya dalam keadaan aman.

    Selang beberapa waktu kemudian - setelah Maruf keluar rumah - terdengar suaranya yang menjerit ngeri, sehingga istri Maruf bergegas keluar menyusulnya. Di luar sana dia melihat tubuh Maruf bergetar ketakutan, menatap ke sebuah tempat yang kosong dan gelap, mengarahkan jari telunjuknya ke tempat tersebut sembari berkata, "Ka... kamu...?" dengan nada yang terbata-bata, seakan melihat sesuatu yang mengerikan dan dikenalnya.

    Istri Maruf tidak melihat siapa-siapa di tempat suaminya menatap. Tetapi saat dia hendak menghampirinya, seketika tubuh Maruf melayang ke udara dan terpotong-potong dengan sendirinya. Peristiwa itu terjadi dalam hitungan detik dan pecahan tubuh Maruf sudah berserakan di atas tanah. Darah bercipratan ke mana-mana, termasuk ke sekujur tubuh istrinya. 

    Alhasil, setelah mengingat kejadian tersebut, istri Maruf menjerit tidak keruan dan terjatuh pingsan. Lantas para warga segera menginapkannya ke salah satu rumah tetangga untuk dirawat dan melindunginya. Walhasil, peristiwa itu membuat keadaan kian ricuh, sehingga menghantui seluruh warga desa dan memberikan malam kelam yang panjang. ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Selasa, 19 Oktober 2021 06:46 WIB

    Sendiri Tak Pasti

    Dibaca : 276 kali


    Oleh: Vitto Prasetyo

    Rabu, 13 Oktober 2021 05:49 WIB

    Nukil Perempuan Puisi

    Dibaca : 415 kali

    Puisi / FIKSI


    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Senin, 11 Oktober 2021 10:01 WIB

    Terlambat

    Dibaca : 463 kali