Tutur Tinular, Sebuah Pitutur kagem Kula - Analisis - www.indonesiana.id
x

kholis nujib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Oktober 2019

Kamis, 23 September 2021 06:44 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tutur Tinular, Sebuah Pitutur kagem Kula


    Dibaca : 364 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Oleh: M. Nur Kholis Al Amin

    Sore itu, ketika matahari telah mulai merangkak dan perlahan menunggu terbenam di ufuk barat tuk menyapa malam. Saya mendapatkan wejangan yang sangat berharga dalam sebuah pitutur khas orang-orang sepuh. Dalam sudut pandang khazanah Jawa, kata sepuh mempunyai makna mendalam yang terumuskan dalam maksud kang kinaran wongkang sepuh kui, sepi ing howo, (yang dinamakan orang sudah tua (matang jiwanya) adalah orang yang sudah mampu mengosongkan/ meminimalkan keinginan hawa nafsu keduniawiaannya.

    Lantas, apa itu tutur tinular? Kok kayak judul film dengan tokoh Arya Kamandanu itu. Bukan itu maksudnya, yang dimaksud tutur tinular adalah pitutur (wejangan) yang baik yang sebaiknya ditularkan secara gethok tular atau (di sanadkan) di sampaikan dari satu orang ke orang yang lain.
    Seperti, wejangan di kala sore itu, sederhana, namun syarat dengan makna.

    Mukidi memberikan wejangan, "Nak, jangan heran kalau saat ini banyak yang nanyain status dan kesuksesan seseorang dilihat dari segi finansial, relasi keluarga, pekerjaan dan sebagainya.
    Misal pertanyaan yang umum itu gini ya nak:

    Ilustrasi Petani

    Bekerjanya di mana? Dados nopo (jadi apa)? Putranipun sampun pinten (anaknya sudah berapa)? Lenggahipun dateng pundi (mukimnya di mana)?  Dan itu nanti ya nak, yang ditanya, ya, jawab panjang lebar dengan penuh kebanggaan, gini-gitu."

    Lantas, mukidi pun menghela nafas panjang dilanjutkan wejangannya.

    "Nak jangan heran ya, di akhir zaman itu nanti, sudah jarang ataupun tidak ada yang menanyakan: sudah sampai manakah perjalananmu dalam meniti hidup ini? Bagaimanakah keadaan jiwamu dalam perjalanan ketuhananmu? Sudah tenang (muthmainnah) apa belum hidupmu?. Gitu ya nak, tidak usah menunggu usiamu tua, ya nak, untuk menjadi orang sepuh. Belajarlah sejak dini untuk menjadi orang sepuh."


    Ngunu sik yo le, sesuk ngangsu kaweruh maneh yo. Kui dadi pe-er sak-umurmu nganti entek. Nek wes ngerti terus dilakoni yo le.

    Mukidi mengakhiri tutur tinularnya pada saya.


    Semoga manfaat.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.