Petaka di Desa Wonopati - Part 3: Harapan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 25 September 2021 08:40 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Petaka di Desa Wonopati - Part 3: Harapan

    Setelah terjadinya rentetan pembunuhan misterius yang menimpa tiga orang teman dari Herman, mereka-pun menjadi takut dan resah. Sampai pada akhirnya, salah seorang teman dari Herman yang bernama Usman, menyarankan untuk datang ke seorang dukun yang bernama Mbah Bhadrika, dengan alasan bahwa dia mampu menangani kasus tersebut.

    Dibaca : 839 kali

    Ketika matahari kembali menyinari Desa Wonopati, para warga mulai memakamkan potongan tubuh Maruf dengan diiringi oleh isak tangis memilukan dari istrinya. Herman bersama teman-temannya ikut datang ke pemakaman Maruf dengan hati yang ikut terpukul.

    Teror yang masih berlangsung telah membuat warga desa kian resah. Mereka semua mulai melakukan aksi-aksi yang dipercaya mampu menangkal serangan gaib, seperti menabur garam di sekitar pekarangan rumah, menggantung paku atau benda tajam, menanam bambu kuning di pekarangan rumah, membakar dupa, menyimpan bawang putih, sampai mewarnai dinding rumah mereka dengan warna merah. Para tentara yang skeptis akan hal gaib juga ikut melakukan aksi serupa.

    Di tengah kepanikan tersebut, tampak Herman bersama teman-temannya sedang berkumpul di sebuah gubuk pinggir sawah. Mereka berdiskusi akan solusi untuk menghadapi rentetan peristiwa yang menimpa tiga orang teman mereka dengan perasaan resah dan takut. Di tengah diskusi tersebut, seketika Usman mengatakan bahwa dia memiliki seorang kenalan yang berprofesi sebagai dukun bernama Mbah Bhadrika. Beliau adalah seorang dukun sakti di Desa Wonopati - pengganti Aki Cokro - dan tinggal di dalam hutan yang terletak di timur laut desa. Untuk mengunjunginya harus melewati jurang dan tebing yang terjal, sehingga membutuhkan - paling lama - setengah hari untuk tiba di rumahnya. 

    Setelah mendengar itu, mereka semua jadi semangat dan berencana ingin mengunjunginya pada hari itu juga. Tetapi Usman mengatakan bahwa akses menuju rumah Mbah Bhadrika sangat berbahaya, sehingga membutuhkan persiapan yang matang. Selain itu, Usman juga menyarankan pada mereka untuk datang ke sana di hari esok. Walhasil, mereka semua menyetujuinya.

    ****

    Ayam jantan mulai berkokok menyambut kedatangan matahari. Di tengah embun pagi yang segar, terlihat Herman bersama dua orang temannya - Wahyu dan Broto - sudah berkumpul di lokasi yang telah mereka tentukan sebagai titik kumpul, yaitu sebuah pos jaga yang terletak di perempatan jalan tengah sawah. Mereka semua menunggu kedatangan Usman dengan antusias. Namun setelah dua jam berlalu, Usman tidak kunjung datang, sehingga membuat mereka bertiga khawatir. Lantas mereka segera mendatangi rumah Usman dan berharap tidak terjadi hal buruk.

    Setibanya di rumah Usman, mereka bertiga segera disambut oleh ibunya Usman. Dia terlihat gelisah dan lekas mengatakan kepada mereka, bahwa Usman telah meninggalkan rumah sejak kemarin sore dan belum pulang. Alhasil, setelah mendengar itu, mereka semua terkejut. Keadaan kian memeranjatkan, saat ibu Usman juga menceritakan bahwa Usman dan Suparji juga bekerja untuk Mbah Bhadrika - sebagai pesuruhnya - sejak sebelum peristiwa pembasmian Kelompok Merah di Desa Wonopati. Informasi dari ibu Usman membuat perasaan mereka kian campur aduk, sehingga menodai rasa antusias mereka.

    Arkian, Ibu Usman memberikan sepucuk kertas berwarna cokelat kusam yang dilipat kecil kepada Herman, sambil mengatakan bahwa benda itu dititipkan untuk mereka saat datang mengunjunginya. Lalu Herman menerima kertas cokelat itu dan langsung membukanya, berisi sebuah peta yang menunjukkan rute ke rumah Mbah Bhadrika. Setelah itu, mereka semua segera pamit dan bergegas menuju ke sana.

    ****

    Setelah menempuh medan yang sulit, melewati jurang dan tebing terjal, serta memasuki hutan perawan yang lebat, terkesan mengerikan dan gelap, meskipun berada di tengah hari. Akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang dibangun dari batu bata; berukuran cukup besar; memiliki luas sekitar delapan hektar sawah. Menurut keterangan dari peta, itu adalah rumah Mbah Bhadrika. Jika dibandingkan dengan rumah Aki Cokro, rumah Mbah Bhadrika terlihat lebih besar dan diselimuti oleh atmosfer negatif.

    Sontak berbahagialah mereka bertiga saat melihat rumah suram dan mengerikan itu; seolah mereka sedang melihat rumah malaikat penyelamat. Lantas mereka menuju ke pintu rumah itu dan mengetuknya dengan santun.

    "Permisi," ujar Herman.

    Namun tidak ada balasan.

    "Kulonuwun," ujar Wahyu menimpali Herman sambil mengetuk pintunya lagi dengan lebih keras.

    Seketika pintu rumah itu terbuka saat Wahyu mengetuknya. Mereka semua saling bertatapan dan langsung mendorong pintu itu secara perlahan-lahan sembari berucap;

    "Kulonuwun, Mbah Bhadrika."

    Salam mereka lantas disambut oleh bau amis yang menusuk. Meskipun begitu, mereka masih tetap memasuki rumahnya; masuk ke ruang praktek yang kini terlihat sangat berantakan; seakan baru saja mengalami musibah. Banyak furnitur yang rusak dan berhamburan di mana-mana. Pemandangan itu telah membuat hati mereka jadi resah, sehingga mulai merasakan ada yang tidak beres dengan rumah Mbah Bhadrika dan segera mencari keberadaannya, termasuk Usman.

    Arkian, mereka mendapati sebuah pintu yang terletak di belakang ruang praktek, dengan sebuah percikan darah yang menodai lantai di bagian bawah sela pintu. Rasa penasaran kian membakar benak mereka untuk mendekati pintu itu dan membukanya. Pintu itu menyambungkan ruang praktek ke ruang keluarga yang memiliki kondisi jauh lebih parah dan mengerikan. Hampir semua barang di ruangan itu hancur dan berhamburan di mana-mana. Semua kaca jendela pecah dan bertebaran di lantai. Tetapi yang paling mengganggu adalah darah yang bepercikan dan menodai hampir seluruh penjuru ruangan, bersama potongan tubuh manusia - tidak diketahui identitasnya - yang bertebaran di mana-mana, sehingga menciptakan kesan yang mengerikan. 

    Tidak jauh dari tempat mereka berada, Herman melihat sebuah kamar tidur yang berada di dalam lorong kecil - terletak di sudut kiri lorong - mengarah ke dapur dan halaman belakang rumah, dalam keadaan pintu yang terbuka lebar dan terlihat sebuah bayangan yang menggantung di dalamnya. Mereka bergidik ngeri, tapi juga penasaran. Akhirnya Herman berjalan mendekati ruangan itu dengan penuh kewaskitaan, sedangkan kedua temannya mengikuti dari belakang. Setibanya di depan ruangan tersebut, Herman melihat mayat seorang perempuan yang tergantung di tengah ruangan dengan sehelai kain batik yang melilit lehernya. Matanya melotot dan menjulurkan lidah, memperlihatkan ekspresi ketakutan yang luar biasa mengerikan.

    Sontak mereka bertiga jadi histeris dan segera memutuskan untuk meninggalkan rumah Mbah Bhadrika. Ketika mereka hendak meninggalkan ruang keluarga itu, seketika terdengar suara dari dalam sebuah lemari kayu yang terletak di sudut ruangan dan bersebelahan dengan pintu penghubung ke ruang praktek, sehingga menimbulkan rasa giris. 

    Mereka saling memandang dengan ekspresi bimbang. Lalu Wahyu segera mendekati pintu lemari kayu itu, sambil menghunus pisaunya untuk bersigap akan suatu hal buruk. Tangan gemetar Wahyu mulai meraih gagang pintu lemari itu, lalu segera menariknya. 

    Sontak mereka semua terkejut, bahwa di dalam lemari itu terdapat Usman yang sedang bersembunyi dengan tubuh menggeligis dan wajah yang pucat dengan ekspresi menggambarkan sebuah kengerian yang tidak dapat dijelaskan, sehingga terlihat tidak sehat.

    "Usman?” tanya Herman yang terkejut, “Apa yang telah terjadi?”

    Usman menjawab dengan terbata-bata, sehingga menciptakan kalimat tidak utuh dan sulit dipahami.

    "Katakan pada kami! Apa yang terjadi?" ujar Wahyu sedikit mendesak.

    "Jangan takut! Kami ini temanmu!" ujar Broto yang berusaha menenangkannya.

    Dengan terbata-bata dan menangis sesenggukan, akhirnya Usman menceritakan peristiwa yang telah terjadi di rumah Mbah Bhadrika, sekaligus membuka sebuah rahasia yang telah ditutupinya.

    ****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Selasa, 19 Oktober 2021 06:46 WIB

    Sendiri Tak Pasti

    Dibaca : 299 kali


    Oleh: Vitto Prasetyo

    Rabu, 13 Oktober 2021 05:49 WIB

    Nukil Perempuan Puisi

    Dibaca : 416 kali

    Puisi / FIKSI


    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Senin, 11 Oktober 2021 10:01 WIB

    Terlambat

    Dibaca : 464 kali