Ketika Engkau Tak Punya Ide, Maka Vaksinlah - Analisis - www.indonesiana.id
x

Pemerintah Segera Vaksinasi Masyarakat Umum

Taufiq Saifuddin

Penikmat Kopi yang sedang jadi peneliti di Pusat Polling Indonesia (PUSPOLL Indonesia)
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 27 September 2021 07:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ketika Engkau Tak Punya Ide, Maka Vaksinlah

    Berbeda dengan kesimpang siuran yang terjadi di tahun lalu, dimana keterbukaan informasi tidak menjadi kunci dalam memerangi pandemi Covid19. Setidaknya saat ini kita semua telah selangkah lebih maju dalam kampanye dan ketersediaan warta terkait vaksin. Komunikasi yang memadai di tengah krisis tentu sangat dibutuhkan oleh publik sekarang ini.

    Dibaca : 470 kali

     

    Bukannya ingin memberi motivasi pada pembaca budiman sekalian. Tulisan ini dibuat selang setelah saat sedang malas-malasnya, dimana posisi badan ini tengah leyeh-leyeh, tidak memegang gawai apalagi baca buku.

    Tiba-tiba, samar-samar suara terdengar dari depan, “tok-tok”. Saya tetap pewe. Saat bunyi yang ketujuh, saya bergegas untuk membuka pintu. Kunci saya putar ke kiri dan pintu belum terbuka sepenuhnya, orang yang diluar menyapa, “Om”. Suaranya tak asing. Langsung saja kening saya mengerut, mengapa meski dipanggil om.

    “Eh Ibu RT”. Saya menyapa dengan santun. Beliau hendak mengajak untuk ikutan vaksin di sebuah SMP yang hanya berjarak selemparan batu orang dewasa dari tempat kami. Dijelaskan lagi, kalau birokrasinya tidak berbelit, nggak kayak kamu, diajak makan saja langsung nanya sudah nikah atau belum. Cukup daftar secara daring, tunggu sebentar, jarum suntik pun tertancap dilenganmu.

    Seperti kata beliau, Tuhan menyukai hambanya yang satset dan tidak kelamar-klemer. Saya ambil kesempatan emas itu.

    Cerdik-pandai pernah bilang, kala sedang tersudut hal buntung bisa jadi untung. Tidak sampai semenit Ibu RT pergi, saya langsung daftar vaksin. Musababnya sederhana, boro-boro mau ke luar kota, ke pusat perbelanjaan saja harus nunjukin sertifikat. Kalau kamu tengah jatuh cinta, keinginan untuk ngemall sedang menggebu-gebunya.

    Ternyata rebahan akut dimasa PPKM yang entah sudah level berapa ini bikin badan pegalnya tak ketulungan. Kalau hendak menjadikan rebahan selalu masuk dalam daftar keseharianmu, maka vaksinlah.

    Belum lagi, kalau kamu mau ikutan CPNS, sekarang sudah harus vaksin. Hari ini, untuk menggapai cita-cita, vaksin sudah kepalang jadi syarat. Namanya syarat, tidak dilalui ya tidak lulus. Yang paling menjengkelkan adalah ketika kamu anak rantau, berjumpa dengan keluarga di kampung halaman menjadi sesuatu yang mahal harganya.

    Berdasarkan penjelasan Ibu RT tadi, memang caranya tidak menguras terlalu banyak waktu rebahan kita. Meski saya sempat ikut dengar gosip ibu-ibu komplek yang ada Ibu RT juga disitu, kalau nantinya vaksin bakal berbayar. Tapi diberita-berita, pemerintah tepis isu itu.

    Bahan ghibah ibu-ibu itu ternyata berdasar pada informasi tanggal 11 Juli lalu di media daring. Karena pelaksanaan vaksin belum merata dan angka kematian semakin tinggi, Kimia Farma lalu mengumumkan penjualan vaksin gotong royong untuk individu. Beberapa petinggi negeri ini pun ikut mendukung, Puan Maharani dan Moeldoko.

    Kritik mewarnai media sosial, pemerintah terdesak dan akhirnya bergerak. Vaksin akhirnya dijamin oleh penguasa untuk tetap bisa didapatkan cuma-cuma.

    Oh iya, untuk jenis vaksin yang bagus, masih dari cerita Ibu RT, yang disadur dari forum gosip dan pengalaman pribadi, katanya Sinovac. Alasannya tidak bikin loyo setelah disuntikkan. Meski jenis yang lainnya juga tetap bisa menjadi pilihan. Ini kan hanya masukan.

    Terkait pilihan jenis vaksin, sebaiknya warganet mencari info lebih lanjut. Sambil rebahan juga boleh. Tugas saya yang terinspirasi dari Ibu RT ini adalah mengajak untuk ikutan vaksin.

    Berbeda dengan kesimpang siuran yang terjadi di tahun lalu, dimana keterbukaan informasi tidak menjadi kunci dalam memerangi pandemi Covid19. Setidaknya saat ini kita semua telah selangkah lebih maju dalam kampanye dan ketersediaan warta terkait vaksin. Komunikasi yang memadai di tengah krisis tentu sangat dibutuhkan oleh publik sekarang ini.

    Berdasarkan data (https://vaksin.kemkes.go.id/#/vaccines), per tanggal 18 September 2021, total vaksinasi dosis pertama telah mencapai 79.050.554 (37.96%), sementara vaksinasi dosis kedua angkanya 44.947.146 (21.58%). Tentulah jumlah ini belum mencapai separuh dari total populasi Indonesia.

    Seperti pepatah bilang, masih jauh panggang dari api. Ketersediaan vaksin dan kesediaan warga masih berpunggungan. Masalah pasokan vaksin lebih disebabkan karena didatangkan dari luar negeri, belum lagi persoalan anggaran mengitarinya. Sementara keengganan masyarakat untuk ikutan vaksin, karena memang ini melibatkan kerja ilmu pengetahuan kompleks.

    Saya telah membuktikan, setidaknya 7 dari 10 teman yang saya tanyai menjawab takut. Pasalnya, masyarakat tentu membutuhkan penjelasan yang massif serta logis untuk mau divaksin. Begitu juga dengan pengadaan vaksin, harus segera mendapatkan kejelasan target dalam kurun waktu tertentu. Sementara gaung iming-iming vaksin sebagai solusi mengendalikan pandemi terus merongrong.

    Akhirnya, kerja sama menjadi kata kunci. Semua pihak tentu harus terlibat. Vaksin yang telah menjadi solusi di negara lain, dimana penyebarannya sudah hampir merata. Pagelaran olah raganya sudah mulai ramai. Kita tentu sudah sangat rindu untuk kembali normal seperti sedia kala.

    Bila tidak, sampai keong racun tidurnya tak lagi miring pun, masa pandemi akan seperti sinetron Tersanjung, terus saja bersambung.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.