Dies Natalis ke-70 UIN Yogyakarta dan Alasan yang Selalu Bikin Rindu Kepadanya - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Dies Natalies ke-70 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Taufiq Saifuddin

Penikmat Kopi yang sedang jadi peneliti di Pusat Polling Indonesia (PUSPOLL Indonesia)
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 September 2021 06:00 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Dies Natalis ke-70 UIN Yogyakarta dan Alasan yang Selalu Bikin Rindu Kepadanya

    Saya termasuk tamatan yang merasakan masa transisi IAIN ke UIN. Sehingga masih terekam jejak peninggalan kampus ini di ingatan. Sekira awal tahun 2005, masih terdapat dua tempat legendaris di kampus ini; Lembah Adab dan Tangga Demokrasi.

    Dibaca : 877 kali

    Perayaan, apapun bentuknya lekat dengan romantisme. Di dalamnya mengungkap hal-hal indah. Yang merayakannya tentu diliputi rasa bangga. Hal-hal demikian inilah kiranya akan digubah dalam tulisan ini. Dimaksudkan untuk merayakan Dies Natalis ke-70 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta yang jatuh pada tanggal 26 September 2021.

    Perhelatan ini tentu saja melibatkan Anda yang masih berkuliah maupun yang telah lulus. Oh iya, jebolan kampus ini setidaknya terbagi menjadi dua. Jika Anda lulus sebelum 2004, maka sematannya adalah alumni IAIN. Sementara yang lulus setelah tahun itu adalah alumni UIN. Di tahun itu pulalah perubahan nama IAIN menjadi UIN.

    Perlu sedikit menyinggung perubahan nama ini. Oleh karena terdapat ide besar setelahnya; integrasi-interkoneksi ilmu pengetahuan agama dan umum. Ide ini dicetuskan oleh rektor kala itu, Amin Abdullah. Menurutnya, integrasi adalah perpaduan kedua disiplin tersebut yang kadang kala berpunggungan. Sehingga dibutuhkan gagasan interkoneksi. Baginya, keilmuan apapun, baik keilmuan agama, keilmuan sosial, serta keilmuan alam tidak dapat berdiri sendiri. Setidaknya dari pendekatan integrasi-interkoneksi akan melahirkan sebuah kerja sama, baik dari segi pendekatan (approach) dan metode berpikir (process and procedure).

    Biar tidak oleng dengan teori-teori, nampaknya agak susah berpaling hati dari Kampus Putih ini. Semesterannya jauh dari kata mahal. Saat ini sistemnya menggunakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dikelompokkan berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua atau pihak yang membiayai. Kisarannya Rp400.000 – Rp7.500.000 di tiap semester. Jaman saya dulu hanya Rp300.000 per semester.

    Jauh sebelum pandemi melanda, UIN juga terkenal dengan “kantin kejujuran” yang tersebar di sudut-sudut ruang publik kampus. Terutama di depan kelas kuliah. Anda akan dengan mudah menemukan aneka jajanan ditawarkan dengan harga terjangkau. Kantin ini tak ada penjual yang menjaga, hanya ada info harga. Jadi harus jujur untuk membayar dengan cara menyimpan uang di tempat yang telah disediakan.

    Meski dari segi manajemen sangat tidak rapi, kebanyakan mengaku tetap bisa dapat uang jajan tambahan dari usaha itu. Bakat wirausaha oleh kebanyakan alumni UIN nampaknya diasah dari candradimuka kantin kejujuran.

    Saya termasuk tamatan yang merasakan masa transisi IAIN ke UIN. Sehingga masih terekam jejak peninggalan kampus ini di ingatan. Sekira awal tahun 2005, masih terdapat dua tempat legendaris di kampus ini; Lembah Adab dan Tangga Demokrasi.

    Kedua tempat ini sangat bersejarah dan saling berdampingan. Lembah Adab merupakan sebuah pelataran di samping Fakultas Adab, sementara Tangga Demokrasi adalah tangga Masijid UIN Sunan Kalijaga. Diskusi-diskusi ringan maupun berat seringkali dilakukan di Lembah Adab dan demonstrasi dilakukan di Tangga Demokrasi. Kadang kala, di tengah orasi kita harus berhenti sejenak ketika kumandang azan.

    Saat ini, ruang-ruang diskusi anak UIN telah bermigrasi seiring menjamurnya warung kopi di sekitaran kampus. Disanalah obrolan receh dan melangit dilakukan. Tradisi yang belum hilang adalah bebincang sambil menyeruput kopi dari satu gelas yang sama.

    Kopi seduh adalah jenis racikan yang sejak dulu digemari. Terdapat banyak istilah dalam pemesanannya. Untuk kopi hitam, ada semi dan AGM. Pembedanya di komposisi, kalau Anda pesannya semi itu artinya kopinya lebih dominan dari gulanya, AGM adalah singkatan dari agak manis, jadi ya gulanya agak lebih banyak. Kalau Anda seperti saya yang penikmat kopi susu, juga ada dua istilah, kopasus dan sukop. Ini juga perbedaannya ada di komposisi, kalau kopasus, kopinya lebih banyak dibanding susu, sementara sukop kebalikannya.

    Warung kopi yang seperti itu, menjamur di sekitar UIN. Terutama di daerah Sorowajan terdapat satu tempat bernama Kebun Laras. Di dalamnya semua warung kopi menyuguhkan kopi yang di seduh. Tidak usah khawatir kalau Anda diberikan sesuatu yang tidak sesuai pesanan, sang pemilik akan dengan senang hati menggantinya.

    ‎UIN Sunan Kalijaga termasuk kampus negeri yang ramah bagi kaum difabel. Tidak hanya menerima mahasiswa difabel, kampus ini juga dari segi fasilitas sangat mudah diakses oleh mereka yang berkebutuhan khusus. Mulai dari perpustakaan sampai ruang perkuliahan. Karena itulah UIN menjadi pelopor kampus inklusif pertama di Indonesia.

    Sekian alasan inilah yang melahirkan rasa bangga bari mereka yang pernah mengenyam pendidikan di kampus ini. Baik bagi mereka yang lulus cepat, lulus lama atau tidak lulus sekalipun, tetap saja memiliki kebanggaan dalam dirinya masing-masing. Sekali lagi, selamat Dies Natalis ke-70 untuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.