Banyak Blunder, Masih Pantaskah Sosok ini Menjabat di Pemerintahan? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi blunder atau kesalahan. Steve Buissinne dari Pixabay.com

Sutri Sania

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Januari 2021

Rabu, 29 September 2021 06:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Banyak Blunder, Masih Pantaskah Sosok ini Menjabat di Pemerintahan?

    Membuat kesalahan sebagai pemimpin adalah manusiawi. Tetapi jika anti-kritik, bahkan mempolisikan orang yang dianggap mencemarkan nama baik, padahal masih banyak urusanvkepada rakyat yang harus dipenuhi, apakah pantas menunjukkan sikap seperti itu? Apakah layak jadi contoh publik?

    Dibaca : 334 kali

    Ilustrasi berdebat

    Menjadi seorang pemimpin, tentunya harus siap dengan segala kritikan dari berbagai sisi. Seperti sosok penting yang nyaris seperti sahabat dengan Presiden RI, karena dirinya yang selalu ditunjuk untuk mengatasi berbagai permasalah yang ada di dalam negeri. Pejabat ini tidak luput dari kritikan, tidak hanya dari masyarakat namun juga rekan sesama pejabat, mantan menteri, aktivis, hingga epidemiolog.

    Kira-kira, apa saja, sih, yang dilakukannya sehingga menuai komentar dari berbagai kalangan seperti ini? 

    Yang teranyar dan masih hangat adalah ketika ia mempolisikan kedua aktivis, Haris Azhar (Direkur Lokataru) dan Fatia Maulidiyanti (Koordinator KontraS) atas pencemaran nama baik. Kedua aktivis tersebut menyebutkan bahwa sosok ini menguasai ‘gunung emas dengan potensi menjanjikan’ di Papua.

    Tidak hanya Haris dan Fatia. Sosok ini, didampingi 4 kuasa hukum serta menyerahkan urusan sepenuhnya ke anak buahnya, juga pernah membuat Said Didu dipanggil oleh Bareskrim Polri. 

    Said Didu kala itu hanya mengatakan bahwa pemerintah tidak memprioritaskan masalah kesejahteraan rakyat umum dan hanya mementingkan legacy, dalam sebuah wawancara di kanal YouTube pribadinya tentang pembangunan ibu kota negara baru di tengah pandemi Covid-19.

    Padahal hal itu tidak menyerang langsung sosok ini, sama seperti ketika ia membalas kritikan SBY kepada Jokowi dengan mengatakan SBY harusnya duduk manis layaknya BJ Habibie, karena negara ini sudah bukan diperintah SBY.

    Mendengar perkataan tersebut, Said Didu membalas bahwa Pemerintah Jokowi juga telah memberi harapan palsu kepada BJ Habibie. Tidak hanya itu, aktivis Natalius Pigai juga menyarankan SBY tidak perlu memusingkan obrolan sosok ini, karena katanya, sosok ini ‘is minuscule to compare’ (dengan SBY).

    Ketika ia menjadi ketua penanganan Covid-19, yang omong-omong tidak berjalan maksimal di PPKM darurat, tentunya kembali menuai kritikan kembali dari berbagai pihak. Keblunderan dirinya bermula ketika mengatakan pandemi sangat terkendali, di 12 Juli 2021.

    Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono kemudian berkomentar di akun twitternya @drpriono1 pada Selasa 13 Juli, mengatakan bahwa tidak mungkin terkendali dalam waktu dekat, karena ditangani secara amburadul.

    Berselang 3 hari kemudian, 15 Juli 2021, sosok ini tiba-tiba mengatakan varian Delta tidak bisa dikendalikan. Hal ini sontak memancing komentar dari Susi Pudjiastuti. Hanya 3 kata darinya, ‘Katanya kemarin terkendali’, membuat heboh jagat media sosial.

    Kritikan dari Susi tidak hanya itu. Kala sosok tersebut mengumumkan di publik akan melakukan razia gudang penimbun obat Covid-19, mantan menteri KKP itu kembali dibuat heran. Ia pun berkomentar, “Razia kok dikasih tahu” sambil membubuhkan ilustrasi seseorang menepuk jidat.

    Masih seputar Covid-19, pejabat yang juga anak dari Presiden Jokowi yaitu Gibran sebagai Walikota Solo, pernah bermasalah dengan sosok ini karena dirinya yang menyatakan kematian penderita Covid di Solo tertinggi dengan angka 877 kasus. Menurut Gibran, data yang disebutkan sosok tersebut tidak benar, karena dari semua kasus kematian, tidak semuanya pasien yang berasal dari Solo.

    Dengan banyaknya kritikan yang dilontarkan kepadanya, tidakkah seharusnya sosok ini berbenah diri?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.