Komoditas Karet Terdampak Pandemi, Bagaimana Nasib Petani Kecil? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Petani Karet. TEMPO/Prima Mulia

Salwa Rizqina Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Oktober 2021

Selasa, 5 Oktober 2021 10:54 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Komoditas Karet Terdampak Pandemi, Bagaimana Nasib Petani Kecil?

    Publikasi BPS pada 2019 menunjukkan sekitar 88,9% produksi karet alam Indonesia berasal dari keringat petani kecil melalui Perkebunan Rakyat. Mereka tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Bali, dan Maluku. Petaka terjadi. Selain Pandemi sebabkan penurunan produksi karet. Konsumsi dunia atas karet dan produk olahannya juga menurun. Itu menyebabkan penderitaan bagi sebagian besar petani karet Indonesia.

    Dibaca : 371 kali

    Karet alam yang berasal dari lateks tumbuhan karet (Hevea brasiliensis) dan karet buatan yang berasal dari pengolahan minyak bumi merupakan sumber daya yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sifat karet yang elastis dan tahan banting banyak diaplikasikan dalam transportasi (misalnya ban), industri (misalnya lembaran silikon), konsumen (misalnya pakaian), dan medis (misalnya tubing dan kabel).

    Menurut FAO tahun 2019, Indonesia adalah negara penghasil karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand dengan hasil produksi tahunan yang mencapai 3,4 juta ton. Sebagian besar hasil produksi karet Indonesia diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, China, dan beberapa negara lainnya. Produksi karet yang dihasilkan Indonesia telah memenuhi sekitar 29,8% dari kebutuhan karet dunia. Oleh karena itu, karet menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia yang mempunyai peran penting dalam perekonomian.

    Tingginya produksi karet Indonesia didukung oleh luasnya lahan perkebunan karet. Menurut Statistik Perkebunan Karet 2019 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), luas lahan perkebunan karet Indonesia mencapai 3,24 juta hektar. Perkebunan karet Indonesia tersebar di Pulau Sumatera (sebagian besar) dan Kalimantan, serta sebagian Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, dan Maluku. Oleh karena itu, produksi karet Indonesia didominasi oleh karet alam yang berasal dari produksi perkebunan.

    Penurunan Produksi Karet Alam

    Jika kita melirik sejarah, produksi karet alam Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2015 hingga tahun 2017. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2015, produksi karet alam Indonesia adalah sebesar 3,145 juta ton. Produksi ini meningkat pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing sebesar 3,307 juta ton dan 3,6804 juta ton.

    Penurunan produksi karet alam Indonesia mulai dirasakan pada tahun 2018. Berdasarkan data BPS, produksi karet alam Indonesia turun sebesar 0,05 juta ton dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,6304 juta ton. Penurunan masih berlanjut di tahun 2019, produksi karet alam Indonesia turun sebesar 0,3288 juta ton dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,3016 juta ton. Penurunan ini disebabkan oleh adanya serangan cendawan Pestalotiopsis pada tanaman karet. Penurunan produksi diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 di tahun 2020. Produksi tanaman karet pada tahun 2020 hanya mencapai 2,8846 juta ton, jumlah tersebut turun sebanyak 0,417 juta ton dari dari tahun 2019 atau 0,7458 juta ton dari tahun 2018.

     

    Ekspor Karet Alam Juga Menurun di Masa Pandemi

    Sebagian besar produksi karet alam Indonesia diekspor ke luar negeri. Menurut data UN Comtrade, pada tahun 2020 produksi karet alam yang diekspor mencapai sekitar 62,8% dari data produksi BPS.

    Sejalan dengan penurunan produksi karet alam pada tahun 2019, menurut data UN Comtrade, karet alam yang diekspor juga mengalami penurunan sebesar 308 ribu ton dari tahun 2018 yaitu sebesar 2,504 juta ton. Begitu pula dengan nilai ekspornya yang turun senilai 424 juta USD yaitu sebesar 3,527 miliar USD. Penurunan ekspor diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 di tahun 2020. Hal ini terjadi karena industri pada negara-negara pengekspor karet Indonesia misalnya Amerika Serikat dan Jepang mengalami kemerosotan. Pada tahun 2020, ekspor karet alam Indonesia  mengalami penurunan sebesar 223 ribu ton yaitu sebesar 2,280 juta ton. Begitu pula dengan nilai ekspornya yang turun senilai 515 juta USD yaitu sebesar 3,011 miliar USD.

    Negara yang paling banyak mengekspor karet alam Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, dan China. Menurut data UN Comtrade, pada tahun 2020, ekspor karet alam masing-asing negara tersebut berturut-turut adalah sebesar 449 ribu ton, 388 ribu ton, dan 329 ribu ton atau senilai 606 juta USD, 526 juta USD, dan 406 juta USD. Penurunan akibat pandemi ini terjadi pada ekspor Amerika Serikat dan Jepang, sedangkan ekspor dari China justru mengalami kenaikan dari tahun 2019. Kenaikan ekspor oleh China disebabkan oleh tingginya permintaan alat transportasi setelah lockdown berakhir.

     

    Bagaimana Nasib Petani Karet?

     

    Menurut publikasi BPS, pada tahun 2019, sekitar 88,9% produksi karet alam Indonesia berasal dari keringat petani kecil melalui Perkebunan Rakyat (PR) yang tersebar di sebagian besar provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan, Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Bali, dan Maluku. Selain terjadinya penurunan produksi karet akibat pandemi, konsumsi dunia atas karet dan produk olahannya pun juga menurun, khususnya pada negara-negara eksportir terbesar karet alam Indonesia yaitu Amerika Serikat dan Jepang. Hal ini menyebabkan harga karet pada tahun 2020 cenderung mengalami penurunan yang menyebabkan penderitaan bagi sebagian besar petani karet Indonesia.

    Pada April 2020, harga karet bahkan menyentuh titik terendah di masanya yaitu sekitar 12.000 rupiah/kg atau sekitar 4.000 rupiah/kg pada harga petani. Tidak sedikit petani karet di daerah Sumatera Selatan memutuskan untuk memapras sebagian atau seluruh perkebunan karetnya lantaran tidak sanggup membiayai perawatannya.

    Untuk mengatasi masalah ini, Indonesia bersama International Tripartite Rubber Council (ITRC) sepakat dalam meningkatkan serapan produksi karet dalam negeri guna menyeimbangkan penurunan pada ekspor sehingga harga karet dapat diselamatkan. Dengan demikian, harga karet diharapkan segera 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.