Ngobrol Santai dalam Wejangan Singkat untuk Menggapai Kebahagiaan bagi Para Sufi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Anas. Annie Spratt dari Pixabay

kholis nujib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Oktober 2019

Selasa, 5 Oktober 2021 17:39 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Ngobrol Santai dalam Wejangan Singkat untuk Menggapai Kebahagiaan bagi Para Sufi

    Buanglah perasaan marahmu, dengkimu, pada orang yang tidak menyukaimu, karena dia juga termasuk makhluk Tuhan. Doakan dia, sholawatilah dia. Hingga hatimu bisa tentram ketika melihat orang yang tak kau sukai.

    Dibaca : 378 kali

    Oleh: M.N.K Al Amin

    Setelah beberapa hari off dari dunia tulis menulis dengan bahasa bebas —tanpa menggunakan rumusan/pokok masalah, tujuan & kegunaan, kerangka teoretik, metode analisis, sumber data, sistematika pembahasan—ya, ternyata rasa rindu untuk sekedar menyalurkan hobi. Dengan menulis, juga sambil menunggu adzan maghrib berkumandang, ya, beginilah ngabuburit yang praktis dan ekonomis, yakni menulis.

    Sore ini, kudengar senandung kicauan burung dan samar-samar terdengar pula lantunan pengajian untuk menyambut datangnya maghrib. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk memfokuskan pendengaranku pada materi pesan yang disampaikan oleh Sang Guru.

    Terdengar begitu jelas dalam indera pendengarku dan begitu mudah masuk di dalam kalbu, serta pesan yang mudah untuk dimengerti (walaupun belum pasti mudah untuk dijalani). Ya, pesan dari Sang Guru tentang bagaimana mendapatkan kebahagiaan, dari percakapan kajian itu.

     

    Jamaah: Guru, kulihat engkau tak pernah sedih, bagaimana resepnya?

    Guru: sebagai manusia biasa dan seperti umumnya, saya pribadi pun juga merasakan sedih.

    Jamaah: lantas, kenapa engkau tak terlihat sedih, akan tetapi terlihat selalu tersenyum dan gembira?

    Guru: ketika aku sedih, bagiku itu hanya cukup untuk diriku dan Tuhanku, bukankah kita sebagai manusia dititahkan olehNya untuk taat dan patuh? Patuh juga dengan ketetapan yang telah digariskan olehNya.

    Saat rasa awalku yang berupa sedih muncul, maka aku harus bergegas mengingat Tuhan, dan aku berlatih untuk selalu memuji kesucian dan kebesaranNya.

    Jamaah: lalu, sebenarnya cara apa biar tidak sedih dan selalu bahagia?

    Guru: jangan mencari kebahagiaan, itu kuncinya. Karena apabila kalian mencari kebahagiaan, belum tentu kalian akan terbahagiaakan. Terlebih, jikalau target yang kau anggap bisa membuatmu bahagia meleset, kesedihanlah yang akan kau dapat. Bahkan, ketika keinginanmu tercapai, bahagiamu hanya sementara saja, karena kau akan selalu menginginkan "ini dan itu" yang selalu beranak pinak, yang tak mampu untuk memuaskan hawa nafsumu.

    Sehingga, berusahalah untuk nrimo/ qonaah setelah engkau berikhtiar, dan berusahalah untuk selalu menebar kebaikan dan doa bagi orang lain, lingkungan, dan alam.

    Buanglah perasaan marahmu, dengkimu, pada orang yang tidak menyukaimu, karena dia juga termasuk makhluk Tuhan. Doakan dia, sholawatilah dia. Hingga hatimu bisa tentram ketika melihat orang yang tak kau sukai.

     

    Akhirnya kau akan suka menebar kebaikan, doa, dan kemanfaatan bagi yang lain.

    ______________________________________________________________________________

    Setelah itu, kufokuskan perhatianku untuk memahami percakapan dari kajian tersebut ternyata sangat menohok bagiku...

    Begitu jauhnya aku dari mengolah nafsuku tuk menuju kebaikan...

    Ya, Allah...maafkanlah aku..

    #Refleksi diri



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.