Indikator Kesuksesan, Hadir - Analisis - www.indonesiana.id
x

Hadir

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 7 Oktober 2021 06:35 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Indikator Kesuksesan, Hadir

    Fenomena menyoal kehadiran yang selalu luput dari pembahasan di media massa dan ruang-ruang lain. Tetapi terus terjadi setiap saat. Padahal, masalah hadir dan kehadiran di setiap langkah gerak apa pun, dia adalah salah satu indikator utama untuk sukses dan berhasil.

    Dibaca : 350 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Kehadiran baik fisik mau pun bentuk lain, selalu menjadi energi yang memberi solusi. (Supartono JW.06102021)

    Hadir, itulah syarat mutlak bagi siapa saja yang ingin sukses dan berhasil baik dalam karier/pekerjaan, kegiatan sampingan, kegiatan sosial, hingga hobi. Jangan berharap apa yang dicitakan atau diidamkan akan berhasil bila diri kita tak hadir dalam hal yang kita citakan atau idamkan.

    Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna hadir adalah ada, datang. Bila hal yang kita citakan adalah hal yang berhubungan dengan pekerjaan atau kegiatan yang menguntungkan atau profit, para pemilik usaha atau kegiatan akan lebih dapat keuntungan berlipat bila selalu hadir di antara para pekerja atau bawahannya.

    Namun, juga tinggal ongkang kaki di rumah atau memantau dari tempat lain. Sebab, usahanya sudah dijalankan oleh para pekerja profesional yang sesuai bidangnya. Bila pekerjaan atau kegiatannya non profit apalagi sosial, maka para pemimpin atau pengurus tak bisa ongkang kaki hanya memantau dari rumah apalagi dari jarak jauh.

    Sebab kegiatan yang membutuhkan modal atau anggaran, harus dan wajib dicampur-tangani oleh para pemimpin atau pengurus. Dan, kehadirannya ke dalam lingkungan kegiatan bukan hanya sekadar wujud fisiknya saja.

    Tetapi kegiatan juga membutuhkan asupan pemikiran, asupan anggaran yang bisa jadi sumbangan/donasi dari.pengurus sendiri. Atau hasil dari menggandeng pihak lain, yaitu sponsor. Kegiatan sosial juga bukan hanya butuh kehadiran pengurus, para anggota juga wajib hadir dalam setiap langkah dan proses kegiatan.

    Apakah kehadirannya juga secara fisik atau asupan pemikiran, juga bisa jadi hadir donasi/sumbangan, pun anggota turut menggandeng sponsor. Sayang, jangankan berharap hal yang ideal tersebut, dalam kegiatan sosial, jangankan anggota, para pengurus pun tak meluangkan waktu demi hadir dalam undangan rapat kegiatan yang sudah direncanakan.

    Mungkin masalah kehadiran dalam kegiatan sosial masyarakat, banyak warga yang meski namanya tercantum sebagai pengurus atau anggota dari sebuah perkumpulan atau kelompok organisasi apalagi yang bernafas sosial, mungkin meneladani para anggota dewan yang katanya terhormat menjadi wakil rakyat.

    Meski pendapatannya miliaran dan diambil dari uang rakyat, dalam suasana rapat pun, sering nampak kursi kebesaran mereka kosong alias tak hadir.

    Bila ada perusahaan yang hingga puluhan tahun masih eksis, bertahan, dan terus sukses, tentu salah satu indikatornya adalah karena kedisiplinan kehadiran para pemimpin dan karyawannya yang bukan saja ada secara fisik.

    Tetapi kehadirannya juga membawa pemikiran, kreativitas, inovasi bagi kemajuan dan perkembangan perusahaan sehingga dengan itu semua, pendapatan perusahaan selalu untung.

    Bila ada kegiatan sosial yang hingga puluhan tahun masih bertahan meski tertatih, tentu karena tetap ada kehadiran pemimpin atau pengurus dan anggota yang tetap setia hadir secara fisik dalam panas dan hujan.

    Dalam semua jenis kegiatan yang diemban atau diusung. Bukan hanya hadir fisik, tetapi hadir pemikiran dan uang, meski harus dari kantong sendiri.

    Apakah saat di bangku sekolah dan bangku kuliah, bagi yang sudah mengenyam bangku sekolah dan bangku kuliah, kehadiran tidak menjadi salah satu indikator kelulusan mata pelajaran atau mata kuliah. Tidak menjadi indikator kelulusan sekolah atau kuliah?

    Mengapa, dalam praktik kehidupan nyata, terutama dalam kegiatan sosial yang para pemimpin atau pengurus atau anggotanya sudah ikrar menjadi bagian dalam grup atau kelompok, banyak yang berperilaku tak simpatik dan empatik, hingga hilang rasa malu, meski tak hadir secara fisik, apalagi kehadiran dalam bentuk lain?

    Bila mereka kecewa atau tak lagi suka atau tak lagi sepaham, mengapa masih ada dalam grup atau kelompok? Sangat ambigu!

    Itulah, fenomena menyoal kehadiran yang selalu luput dari pembahasan di media massa dan ruang-ruang lain. Tetapi terus terjadi setiap saat. Padahal, masalah hadir dan kehadiran di setiap langkah gerak apa pun, dia adalah salah satu indikator utama untuk sukses dan berhasil.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.