Jadikan Taman Bacaan Tidak Sunyi Lagi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Sabtu, 16 Oktober 2021 07:46 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Jadikan Taman Bacaan Tidak Sunyi Lagi

    Make taman bacaan not silent again; jadikan taman bacaan tidak sunyi lagi. Taman bacaan di manapun harus tetap eksis sebagai antisipasi era digital

    Dibaca : 715 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Good people, make taman bacaan not silent again. Jadikan taman bacaan tidak sunyi lagi. Karena apapun yang terjadi dan dihadapi, taman bacaan harus tetap eksis. Alasannya bukan karena ingin dibilang baik. Apalagi keren-kerenan. Tapi untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia dari dampak negatif gawai atau gempuran era digital. Membaca bukan bermain. 

    Hari ini, berapa banyak anak-anak yang jadi penggila tiktok atau gim online. Bahkan ber-media sosial pun salah pakai. Hanya untuk berkeluh-kesah atau ekspresi yang tidak bermanfaat. Maka taman bacaan hadir untuk “mengimbangi” aktivitas anak-anak. Agar ada kegiatan yang positif, khususnya membaca buku di taman bacaan.  

    Good people, make taman bacaan not silent again. Karena taman bacaan bukan hanya tempat membaca semata. Tapi jadi tempat yang berperan penting dalam menciptakan masyarakat literat. Sebuah tatatan masyarakat yang mampu memahami realitas dan mau menerima perbedaan. Taman bacaan tidak hanya menjadi anak-anak berwawasan ilmu pengetahuan. Tapi lebih dari itu, mereka punya sarana untuk ber-ekspresi yang mampu mencerdaskan lingkungannya. Karena itu, Jadikan taman bacaan tidak sunyi lagi. Taman bacaan sebagai tempat yang menarik dan menyenangkan.  

    Good people. Ketahuilah, di luar sana. Masih banyak oang yang ingin kuat tapi membuat orang lain. Ada pula orang yang ingin sejahtera tapi membuat orang lain susah. Bereombol mencari kesalahan orang lain. Gemar mengorek aib orang lain. Tapi di saat yang sama, mereka tetap saja “berdiam dalam kebaikan”. Maka good people, jangan pernah biarkan energi habis untuk hal yang sia-sia. Sibuk untuk hal yang tidak bermanfaat.  

     

    Maka di taman bacaan, ada satu tekad terpatri kuat. Untuk selalu berbuat kebaikan sekalipun hanya melalui taman bacaan. Sambil mengubah “mind set” untuk menjadi masyarakat yang melek informasi baik. Sekaligus cerdas baik secara IQ, EQ dan SQ. Tentu, semua itu dapat dicapai melalui peran taman bacaan.

     

    Seperti apa yang dilakukan di TBM Lentera Pustaka. Saat berdiri 4 tahun lalu, tadinya hanya mengelola taman bacaan dengan 14 anak pembaca aktif. Untuk menyediakan akses bacaan. Tapi kini, TBM Lentera Pustaka sudah menjalankan 11 program lainnya. Mulai dari 1) TABA (Taman BAcaan) dengan 160 anak pembaca aktif dari 3 desa (Sukaluyu, Tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 9 warga belajar buta huruf, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 26 anak usia PAUD, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 14 anak yatim, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) dengan 8 jompo, 6) TBM Ramah Difabel dengan 3 anak difabel, 7) KOPERASI LENTERA dengan 28 ibu-ibu sebagai koperasi simpan pinjam untuk mengatasi soal rentenir dan utang berbunga tingg, 8) DonBuk (Donasi Buku) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan, 9) RABU (RAjin menaBUng) karena semua anak punya celengan, 10) LITDIG (LITerasi DIGital) seminggu sekali setiap anak, dan 11) LITFIN (LITerasi FINansial). Hingga akhirnya, taman bacaan mampu menjadi sentra pemberdayaan masyarakat. Gerakan literasi untuk semua, literasi yang lebih berdaya.

     

    Maka good people, make taman bacaan not silent again. Ada banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan di taman bacaan. Bergabunglah di taman bacaan. Baik sebagai pegiat literasi atau relawan. Biarkan saja orang-orang yang berkata-kat miring tentang taman bacaan. Karena sejatinya di taman bacaan, siapa pun tidak sedang berjuang untuk jadi orang baik. Apalagi dianggap orang baik. Tapi di taman bacaan, siapa pun hanya ingin berbuat baik secara nyata. Salam literasi. #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Suyatna, S.Pd

    1 hari lalu

    Surat dari Ibu

    Dibaca : 27 kali












    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.079 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.