Benar dan Baik, Dua Sejoli Ketika Tanpa Bumbu. - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ketidakteraturan tulisan saling keterkaitan

kholis nujib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Oktober 2019

Selasa, 19 Oktober 2021 06:53 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Benar dan Baik, Dua Sejoli Ketika Tanpa Bumbu.


    Dibaca : 371 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: M.N.K Al Amin

    "Benar dan baik", mungkin kedua kata tersebut merupakan kata yang tak asing lagi kita dengar bahkan kita gelorakan.

    Mengenal dari dua kata tersebut (benar dan baik), jamak dari kita, terkadang terlalu mementingkan ego, sehingga benar dan baik hanya sebagai slogan belaka tanpa mau mengaplikasikannya ke dalam bentuk perbuatan/ tindakan nyata.

    Terlebih, apabila kita memiliki kepentingan untuk diri pribadi ataupun golongan tertentu atau to have dan to be dalam suatu komunitas tertentu.

    Alhasil, kita pun terlena oleh bahasa oral dan pengetahuan serta kecerdasan akal/ logika semata tanpa mau mengamalkan dalam bentuk nyata. Di sinilah, peran pesan para orang tua Jawa terdahulu dalam kalimat yang mudah dipaham agar mudah pula untuk dilaksanakannya, yakni ilmu kuwi kanthi laku atau ilmu itu harus dengan pengamalan.

    Sapaan ini telah banyak kita temukan di dalam ayat al-qur'an pada waqof (akhir ayat) dengan frase /kata تعلمون، تعقلون، تذكرون,تدبرون (mengetahui/mengerti, berakal, berdzikir, berangan-angan) yang diiringi pula dengan frase تعملون، تفعلون (agawe/ berbuat, beamal). Lebih lanjut, dalam Qur'an Surat As-Shof ayat 3 telah menjelaskan كبر مقتا عند الله أن تقول ما لا تفعلون. (Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu (hanya) mengatakan sesuatu yang tiada kamu kerjakan), ayat ini lebih mudah pula dikenal ditengah masyarakat dengan istilah jarkoni.

    Lalu, apa hubungannya tulisan ini dengan baik dan benar?

    Setidaknya, kita mampu mengoreksi dan bermuhasabah terhadap diri kita pribadi, bahwa sudahkah kita menebar kebenaran tanpa merasa menjadi paling benar. Dan sudahkan kita menebar kebaikan tanpa merasa diri kita paling baik, karena sesungguhnya orang yang berilmu tidak mencari pengakuan semata, namun mampu untuk mengamalkan dalam perbuatan nyata.

    #semoga kita bisa belajar menebar kebaikan dan kebenaran tanpa merasa paling baik dan benar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.