Menggali Makna Tasbih Melalui Kearifan Lokal - Analisis - www.indonesiana.id
x

kholis nujib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Oktober 2019

Selasa, 19 Oktober 2021 16:08 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menggali Makna Tasbih Melalui Kearifan Lokal

    Dalam tradisi lokal, tasbih yang biasa digunakan oleh para piyayi sepuh mempunyai makna wus menTAS ing sekaBIHane. Artinya sudah purna dari sifat-sifat gumantung dengan dunia. Dalam arti setiap tindakan amalnya dipersembahkan hanya untuk memperoleh ridho Allah.

    Dibaca : 422 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


    Oleh: M. Nur Kholis Al Amin


    Guys, menulis tentang kearifan lokal atau bahasa kecenya, tuh, dikenal dengan istilah local wisdom ternyata tidak membosankan, lo. Seperti ketika dihadapkan dengan belajar bersama-sama tentang salah satu alat yang umum digunakan sebagai salah satu sarana untuk ibadah, khususnya untuk mempermudah tergeraknya hati agar selalu berdzikir atau selalu ingat ( eling) pada Allah, di setiap butiran-butiran yang telah dianyam menjadi satu kesatuan yang utuh, yang biasa digunakan oleh orang-orang sepuh.

    Apa itu? Tak lain ya tasbih atau kalau lughot/ logat saya biasa ngucapin tasbeh, bukan yang model tasbih digital loh, tapi tasbih bulet-bulet dari kayu ataupun biji-bijian. Terus apa dong hubungannya dengan kearifan lokal? Kok seperti gak nyambung gini...

    Ya, kalau menggunakan teori integrasi-interkoneksi, bisa saja tuh dihubungin and gak salah juga, loh. Apalagi kalau ngomongin kearifan lokal, kan banyak banget toh akronim-akronim yang menyimpan makna tersirat, semisal: kucing, kukune runcing; tandur, ditata mundur (coba lihat tuh, para petani nanam padi gak ke depan nata bibitnya, tapi dari depan ke belakang, kecuali yang pakai mesin seperti sekarang ini); delamaan, dedalan marang kabecikan (jalan menuju kebaikan), dan juga tasbeh (wus mentas sekabihane).

    Dalam tradisi lokal, tasbih yang biasa digunakan oleh para piyayi sepuh atau dalam tulisan yang terdahulu disebutkan kang kinarang wongkang sepuh kui sepi ing hawa (yang disebut atau dinamakan orang yang sudah tua adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya), mempunyai makna wus menTAS ing sekaBIHane, artinya sudah purna dari sifat-sifat "gumantung" dengan dunia, dalam arti setiap tindakan amalnya dipersembahkan hanya untuk memperoleh ridho Allah. ( إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ )


    Jadi, hatinya sudah mulai terbersihkan dari dampak-dampak negatif nafsunya, (lawwamah, ammarah, suufiyah) dan mulai masuk pada jiwa yang muthmainnah (jiwa yang tenang). Sebagaimana telah disapa dalam al-Qur'an
    ﻳﺎ ﺃﻳﺘﻬﺎ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﻤﻄﻤﺆﻧﺔ، ﺇﺭﺟﻌﻲ ﺇﻟﻰ ﺭﺑﻚ ...... ﺇﻟﺦ .
    (Hai Jiwa jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu....)


    Akhirnya, ternyata tasbih yang sering kita lihat dan kita pakai, bisa menjadi salah satu sarana sebagai media untuk berdzikir dan mempunyai makna tersirat dengan "hidup yang telah purna dengan urusan dunia/ meminimalkan ego nafsu duniawi", yang telah dikenalkan oleh Para Sesepuh Tanah Jawa dengan istilah TASBIH (menTAS sekaBIHane).


    Semoga, dengan adanya perbedaan tetap saling mendoakan yang baik-baik, saling menebar rahmat, menebar kasih dan menebar kesejahteraan, walau hanya dengan doa yang terucap.
    #mohon maaf
    #semoga manfaat
    #Jangan saling menghujat
    #mari saling berdoa yang baik-baik



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.