Bonsai Kelapa: Trend Tanaman Hias Kekinian - Analisis - www.indonesiana.id
x

bonsai Kelapa

Maya Vica Ristia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Oktober 2021

Kamis, 21 Oktober 2021 13:15 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bonsai Kelapa: Trend Tanaman Hias Kekinian

    Bonsai kelapa merupakan salah satu tanaman yang digandrungi para kolektor tanaman hias. Harga jualnya yang cukup menjanjikan menjadikan tanaman ini semakin bernilai tinggi. Pembuatannya pun tidak serumit yang kita bayangkan. Pemilihan bibit serta perawatan bonsai kelapa ini menjadi kunci utama keberhasilan penbuatan bonsai yang coba dibahas dengan bahasa yang ringan di bawah ini.

    Dibaca : 336 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bonsai Kelapa: Trend Tanaman Hias Kekinian

    Dewasa ini masyarakat kian gandrung dengan tanaman hias. Terlebih akibat dampak dari Pandemi Covid-19 yang membatasi segala aktivitas masyarakat hingga segala system yang berusaha dijangkau melalui. Sehingga Sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk meluangkan waktunya mempercantik rumah dengan berbagai model tanaman hias yang banyak dijual di pasaran.

    Bonsai kelapa menjadi salah satu jenis tanaman hias yang banyak dilirik para pecinta tanaman hias maupun para kolektor. Bonsai kelapa merupakan tanaman kelapa yang dikerdilkan. Dengan ukurannya yang mini serta penampakan batang serta daun yang tumbuh dari batok kelapanya membuat bonsai ini terlihat lebih unik dari jenis bonsai lainnya. Hal ini menjadikan bonsai kelapa sangat cocok jika dijadikan sebagai tanaman hias. Terlebih penempatan batok kelapa di atas tanah dalam pot memberikan ciri khas tersendiri mengenai bonsai ini.

    Pohon kelapa (Cocos nucifera) sendiri merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang banyak tersebar di wilayah tropis. Kelapa adalah anggota tunggal dalam marga Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae. Arti kata kelapa dapat merujuk pada keseluruhan pohon kelapa, biji, atau buah, yang secara botani adalah pohon berbuah, bukan pohon kacang-kacangan.

    Sementara itu, bonsai adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Penanaman (sai) dilakukan di pot dangkal yang disebut bon. Istilah bonsai juga dipakai untuk seni tradisional Jepang dalam pemeliharaan tanaman atau pohon dalam pot dangkal, serta apresiasi keindahan bentuk dahan, daun, batang, dan akar pohon, serta pot dangkal yang menjadi wadah, atau keseluruhan bentuk tanaman atau pohon.

    Tidak semua jenis pohon kelapa cocok untuk dijadikan bonsai. Menurut penuturan salah seorang warga pembuat bonsai kelapa di Desa Banjarsari, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar bernama Bapak Liyan, ada beberapa varian pohon kelapa yang dapat dijadikan alternatif bonsai. Jenis kelapa gading merah, kelapa gading susu, kelapa gading hijau & kuning, serta kelapa albino cocok untuk dijadikan bonsai. Beberapa jenis kelapa tersebut dianggap cocok karena memiliki beberapa karakteristik yang sesuai untuk dijadikan bonsai.

    Kelapa gading merah memiliki warna merah kekuning-kuningan. Warna yang cukup menarik sepadan dengan aspek perawatannya yang cukup rumit serta membutuhkan pupuk yang cukup banyak. Berbeda lagi dengan jenis kelapa gading susu. Jenis kelapa ini memiliki warna putih dan sering tumbuh di daerah subtropis. Kelapa gading susu juga sering dijadikan pengganti pohon palem di rumah. Sementara untuk kelapa gading hijau & kuning merupakan jenis kelapa yang warna batang serta daunnya sesuai dengan penamannya. Jika kelapa gading hijau, batang dan daunnya dominan berwarna hijau sedari tunas. Sedangkan kelapa gading kuning batang dan daunnya berwarna kuning sedari tunas. Yang terakhir adalah kelapa gading albino. Sesuai dengan penamaannya, kelapa albino cenderung putih tidak pucat polos, dan jauh lebih putih dari kelapa gading susu.

    Langkah awal yang harus diperhatikan adalah pemilihan kelapa yang berkualitas. Kelapa yang dipakai hendaknya kelapa yang sudah tua sehingga mempercepat proses tumbuhnya tunas. Ukuran kelapa sendiri diusahakan tidak terlalu besar namun memiliki batok yang tebal untuk meminimalisir keretakan saat proses penumbuhan nantinya.

    Langkah selanjutnya adalah dengan meletakkan bibit yang belum tumbuh tunas pada tanah dengan kandungan air yang cukup cenderung lembab. Nantinya, bibit akan tumbuh tunas kurang lebih selama 1-2 minggu. Setelah tunas mulai tumbuh, bersihkan batok dari sabut-sabut hingga rapi.

    Setelah itu, posisi batok kelapa yang sudah mulai tumbuh tunas dapat diletakkan sesuai keinginan. Bisa diletakkan secara vertikal agar batok kelapa dikelilingi akar dan tanaman tumbuh tinggi. Atau, bisa juga diletakkan secara horizontal yang bisa membuat bonsai kelapa unik Anda nanti mirip dengan rumah siput.

    Untuk media tanamnya sendiri terdapat dua macam pilihan, yaitu media tanam berupa tanah dan media tanam berupa air. Kedua-duanya tentu memerlukan pot atau tempat lain untuk mewadahi media tanam tersebut. Jika menggunakan media tanam berupa tanah, pemilihan pot yang dapat mengikat air guna menjaga kelembaban media tanam perlu diperhatikan. Alternatif pemilihan pot tersebut dapat berupa pot dari tanah liat. Media tanam berupa tanah dengan campuran arang sekam serta pupuk yang mengandung kotoran kambing, EM-4, dan kapur dolomit yang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman dapat menjadi pilihan.

    Untuk pemilihan media tanam berupa air, pemilihan wadah ataupun pot juga tidak kalah penting. Diameter lubang pada pot yang digunakan harus lebih kecil dari diameter batok. Hal ini bertijuan untuk menyangga posisi batok agar tetap kokoh berdiri. Ketinggian dari pot juga tidak boleh kurang dari panjang akar bonsai kelapa yang sudah tumbuh untuk meminimalisir patahnya akar. Pemilihan pot dari kaca yang transparan akan sangat menambah nilai estetika dari bonsai kelapa karena posisi seluruh akar dapat dilihat dari luar.

    Nutrisi yang harus diberikan pada tanaman bonsai kelapa yang ditanam pada media berbasis air ini dapat berupa pupuk yang biasa digunakan untuk tanaman hidroponik. Alternatif lainnya adalah dengan memasukkan aspek hewan seperti ikan-ikan kecil untuk hidup di dalamnya. Zat sisa yang dihasilkan dari ikan ini dapat digunakan sebagai pupuk alami bagi tanaman bonsai kelapa ini.

    Tahap terakhir ini bisa dikatakan sangat menentukan hasil akhir dari tanaman bonsai kelapa yang dibuat. Proses penyayatan bagian tunas paling bawah bibit bonsai yang sudah tumbuh sekitar 15 sampai 20 cm perlu rutin dilakukan agar tunas bonsai tidak menghasilkan batang yang tumbuh memanjang. Hindari menyayat tunas yang masih muda agar tidak membusuk. Penyayatan ini dilakukan minimal 3 kali sehari. Agar bentuk bonsai semakin indah, diperlukan alat bantu berupa kawat atau tali untuk membantu mengarahkan pertumbuhan rantingnya dengan mengaitkan ujung ranting ke bagian pangkal batang. Lalu untuk pemotongan ranting sendiri biasa dilakukan untuk membuang bagian ranting yang tidak diinginkan. Pemotongan ranting ini bisa dibuat melengkung ke dalam batang atau mendatar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.078 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.