Mengukuhkan Kembali Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Riza Dwi Febrianti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Oktober 2021

Minggu, 24 Oktober 2021 15:40 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengukuhkan Kembali Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Persatuan

    Membahas mengenai fungsi dan peran bahasa Indoensia yang harus kembali dikukuhkan atau diperkuat agar jati dirinya tidak hilang diterpa oleh majunya zaman.

    Dibaca : 448 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda pada Oktober 1928 silam, menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi sekaligus bahasa persatuan negara Indonesia. Hal tersebut membuat bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi untuk mempersatukan berbagai perbedaan di negara yang kaya akan keanekaragaman ini. Melalui bahasa Indoensia, masyarakat ang terdiri dari berbagai latar balakang sosial dan budaya yang berbeda, mampu dengan mudah melakukan komunikasi dengan satu sama lain.

    Hal tersebut ternyata tidak berjalan dengan baik dan mudah. Ada berbagai tantangan yang dilalui bahasa Indonesia apa lagi di zaman yang semakin canggih. Arus globalisasi yang dengan cepat masuk dalam kehidupan masyarakat, mengakibatkan berbagai dampak negatif yang tidak hanya berpengaruh terhadap pola kehidupan mayarakat, akan tetapi juga berdampak pada bahasa persatuan yang ada di negara ini.

    Masuknya berbagai norma, bahasa, dan budaya dari negara lain yang semakin cepat dan mudah, membuat bahasa Indonesia semakin kehilangan jati dirinya. Banyak sekali masyarakat yang sekarang ini tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mereka cenderung memilih untuk menggunakan bahasa asing atau bahasa gaul yang dinilai lebih kekinian.

    Permasalahan tersebut, membuka mata kita bahwa fungsi dan peran bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi nasional perlu dikukuhkan lagi. Pergeseran fungsi dan peran bahasa Indonesia yang semakin turun harus kembali ditingkatkan dengan berbagai cara.

    Cara pertama, adalah dengan meningkatkan rasa kebanggaan dan juga rasa memiliki terhadap bahasa Indonesia. Sebagai masyarakat yang paham akan sejarah bangsa, sudah sepatutnya kita memiliki rasa bangga dan juga rasa memiliki terhadap bahasa Indonesia. Dengan memiliki rasa bangga dan rasa memiliki, peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi akan semakin kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan berbagai rintangan yang datang.

    Cara kedua adalah dengan meningkatkan fungsi bahasa Indonesia. Masyarakat harus kembali paham bahwa fungsi bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi biasa saja. Bahasa Indonesia memiliki fungsi lain yang tidak kalah penting, yaitu sebagai tolok ukur kemajuan bangsa. Oleh karena itu, warga Indonesia harus kembali menanamkan kecintaan dan kepeduliannya terhadap bahasa Indonesia. Masyarakat harus sadar bahwa bahasa Indonesia itu penting, dan nilai-nilai yang ada didalamnya harus dibangkitkan kembali.  

    Dibulan yang memiliki kenangan perjuangan ini, merupakan awal yang baik untuk memulai perubahan. Mempelajari bahasa Indonesia dengan lebih baik dan benar, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan langkah yang baik untuk kembali mengukuhkan fungsi dan peran bahasa Indonesia yang semakin menghilang. Berusaha untuk selalu menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dengan selalu menjunjung tinggi bahasanya merupakan pembuktian terhadap rasa cinta dan peduli kita terhadap bahasa Indonesia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.079 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.