Jangan Lupakan Hal Ini Saat Kebut Pembangunan KI di Luar Pulau Jawa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Potret Kawasan Industri. Sumber foto: Merdeka.com

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Selasa, 26 Oktober 2021 07:11 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Jangan Lupakan Hal Ini Saat Kebut Pembangunan KI di Luar Pulau Jawa

    Pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa sedang terjadi besar-besaran. Terlihat dari peningkatanya menjadi 35% di tahun 2021. Namun ada yang masih terlewati oleh pemerintah yang semangat membangun demi pemerataan ekonomi nasional, yaitu penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung.

    Dibaca : 645 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kawasan industri di Indonesia bertumbuh sekitar 47,2%. Masing-masing daerah industri di Indonesia memiliki persentase yang berbeda. Misalnya, pada tahun 2021 ini wilayah industri di bagian luar Pulau Jawa mengalami peningkatan yang signifikan, yakni dari 17,5% menjadi 37%. 

    Banyak dampak positif yang dapat diambil apabila pembangunan industri berada di luar Pulau Jawa, yakni membantu pemerataan ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana, membangun infrastruktur, dan membuka lapangan pekerjaan. Tidak hanya itu, dengan adanya industri yang berada luar Pulau Jawa dinilai memiliki berbagai kemungkinan yang baik bagi daerah dan juga negara.

    Tak heran jika Pemerintah serius dalam menggarap kawasan industri di luar Pulau Jawa. Sebagaimana hal tersebut juga dikatakan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada September lalu.

    Pembangunan industri di luar Pulau Jawa ini akan mengubah persepsi terhadap Jawa-Sentris dan digantikan dengan Indonesia-Sentris. Tentunya hal tersebut dilakukan demi mewujudkan pemerataan keuntungan dan memberikan dampak yang baik bagi perekonomian Indonesia.

    Sementara menurut Direktur Perwilayahan Industri Kemenperin, Igniatus Warsito pada (6/2/2021), pengembangan KI menjadi salah satu pusat ekonomi baru guna untuk mendatangkan APBD yang cukup besar.

    Nantinya tidak hanya berpengaruh terhadap APBD, sektor perindustrian juga akan mempengaruhi pendapatan negara. Berdadarkan data dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa pada periode Januari-Juni 2021 terdapat realisasi investasi secara kumulatif yang mencapai Rp442,8 triliun dan realisasi investasi terkhusus di luar Pulau Jawa bisa mencapai Rp113,8 triliun.

    Adapun keuntungan yang dihasilkan baik dari realisasi investasi dan sektor industri, di antaranya dapat dialokasikan untuk infrastruktur agar tetap berjalan di masa pandemi, menambah pundi-pundi negara, meningkatkan pendapatan domistik bruto hingga bisa mendatangkan teknologi baru dari luar negeri ke Indonesia yang nantinya akan berguna bagi keberlanjutan produksi di sektor perindustrian.

    Namun dibalik besarnya kontribusi KI kepada negara dan komitmen negara untuk percepatan pembangunan infrastruktur di luar pulau Jawa, ada satu hal yang tertinggal padahal sebenarnya penting. Pembangunan infrastruktur sebaiknya diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukungnya.

    Terutama untuk kawasan-kawasan yang berada di luar Pulau Jawa. Masih sering pula kita dengar kabar tentang putusnya jalan penghubung di daerah atau tidak banyaknya pilihan alternatif jalan menuju kawasan perindustrian.

    Permasalahan ini seolah-olah masih mengambang akan siapa sebenarnya yang harus turun tangan mengatasinya. Apakah perusahaan yang tetap bertanggung jawab membenahi fasilitas di ruang publik? 

    Hal-hal seperti ini tidak disadari dapat menjadi penghambat laju pembangunan dan pemerataan ekonomi Indonesia, terlebih jika menyasar percepatan pembangunan di luar Pulau Jawa.

    Perjalanan Indonesia menjajaki kesempatan menjadi negara dengan industri yang bergengsi masih terus panjang kedepannya. Semakin lama menunda permasalahan-permasalahan kecil, semakin lama pula mencapai tujuan. Dan jika permasalahan hanya dibebankan penyelesaiannya ke satu pihak saja, di saat cita-cita negara ingin merasakan keuntungannya bersama-sama, maka akan tidak adil serta semakin memperlambat lagi pembangunannya.

    Jadi, mau sampai berapa lama lagi Indonesia mengabaikan permasalahan yang terlihat kecil namun besar dampkanya ini? Bisakah Indonesia segera bahu-membahu mengatasi ini? Bagaimana pandanganmu?

     

    Ikuti tulisan menarik Chika Lestari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.