Pejuang Lingkungan Dari Haruku, Ajarkan Pentingnya Tanah Adat - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Selasa, 26 Oktober 2021 11:23 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Pejuang Lingkungan Dari Haruku, Ajarkan Pentingnya Tanah Adat

    Menjaga budaya dan tradisi bukanlah perkara mudah, dibutuhkan ketabahan dan konsistensi untuk mempertahankannya. Adalah, Eliza Marthen Kissya Ketua Pemangku Adat Negeri Haruku, Maluku atau biasa dipanggil Kewang. Tanpa lelah, Om Eli terus menghidupkan tradisi para pendahulunya dengan mengedepankan kearifan lokal.

    Dibaca : 476 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keberaniannya, dalam menjaga tanah adat dengan membangkitkan kembali lembaga dan hukum adat mengenai pengelolaan lingkungan hidup agar tetap lestari dilakukannya sejak tahun 1979. Salah satu tugasnya adalah penyempurnaan hukum sasi (larangan adat) untuk melindungi populasi dan habitat ikan lompa di perairan Haruku.

    Bukan hal aneh, jika kakek 16 cucu ini di juluki pejuang lingkungan hidup. Berderet penghargaan diterimanya, baik dari pihak swasta maupun pemerintahan namun tidak membuatnya jumawa. Ia tetap berpedoman pada satu pemikiran, bahwa melestarikan lingkungan dan mengajarkan hal tersebut kepada anak-cucu Negeri Haruku. Selain itu, manusia tanpa lingkungan tentu akan mati.

    Hal Itu juga menjadi alasan mengapa dirinya begitu aktif membangun taman-taman konservasi di sekitar tempat tinggalnya, baik untuk burung, ikan, dan lain sebagainya. Tangannya yang terlihat kokoh dan suaranya yang bergetar terus berupaya mendidik masyarakat di daerahnya, agar taat pada aturan adat. Utamanya terkait sasi, atau larangan mengambil hasil sumber daya alam tertentu sebagai upaya pelestarian alam yaitu laut, hutan, sungai, dan sasi dalam negeri.

    Harapan yang sangat besar terbersit, dari dalam diri Eli kedepannya anak – anak Pulau Haruku bisa menjadi penerus perjuangan terhadap lingkungan kedepannya. Oleh sebab itu, ia selalu menggelorakan hal – hal sederhana kepada mereka mulai dari menanam pohon hingga membersihkan sampah di laut, juga membuat sanggar seni dan perpustakaan.

    Apa yang dilakukan Eliza Marthen Kissya adalah wujud nyata yang patut ditiru oleh generasi muda, bahwasanya membangun revolusi mental jangan setengah – setengah, totalitas tanpa batas dan percayalah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Terimakasih, pejuang lingkungan jasamu akan selalu menjadi suri tauladan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Suyatna, S.Pd

    1 hari lalu

    Surat dari Ibu

    Dibaca : 27 kali












    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.