Duet Ganjar-Puan, Mungkinkah? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ganjar Pranowo. Facebook/\x40Ganjar Pranowo

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 28 Oktober 2021 18:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Duet Ganjar-Puan, Mungkinkah?

    Umpamanya saja, bila nanti nama Puan sukar untuk didongkrak lebih tinggi lagi, sedangkan Ganjar makin tidak terkejar, mungkinkah skenario Ganjar-Puan dijalankan? Sekaligus ini cara menghindari perpecahan?

    Dibaca : 1.423 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Sebagai fenomena anomali di lingkungan PDI-P, nama Ganjar Pranowo mencuat dalam survei calon presiden yang digelar berbagai lembaga. Nama Gubernur Jawa Tengah itu populer hingga kerap menempati peringkat atas survei-survei itu. Anomalitas Ganjar itu agaknya mengusik sebagian elite PDI-P, sehingga beberapa waktu lalu ia tidak diundang ke acara partai yang berlangsung di Jawa Tengah—provinsi yang ia pimpin sebagai gubernur.

    Bagi sebagian elite partai ini, harapan bahwa Puan Maharani akan mampu maju ke gelanggang pemilihan presiden 2024 demikian besar. Mereka berharap kepemimpinan Puan dapat berlanjut dari partai ke kabinet—sudah dilalui sebagai salah satu menko, lalu ke DPR—saat ini sebagai ketua, dan selanjutnya bisa ke Istana Presiden di masa mendatang. Peta jalan ke arah sana sudah kelihatan, walaupun Ketua Umum PDI-P Megawati belum menentukan siapa capres mereka.

    Popularitas Ganjar dianggap mengganggu upaya mengangkat popularitas Puan, yang dalam berbagai survei posisinya memang terlihat kurang menggembirakan. Ketenaran Ganjar juga menimbulkan kesan di mata masyarakat bahwa PDI-P tidak kompak. Penggunaan istilah celeng untuk menyebut arus bawah partai yang secara terbuka mendukung Ganjar menguatkan kesan bahwa sebagian elite PDI-P tidak sreg dengan langkah Ganjar. Tapi, mengapa tidak muncul larangan secara tegas?

    Meskipun populer menurut hasil survei, tapi Ganjar belum mendapat restu Mega sebagai figur yang menurut elite PDI-P memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa capres partai ini. Namun begitu, akhir-akhir ini sentilan kepada Ganjar cenderung berkurang. Apakah ini sekedar langkah taktis agar nama Ganjar tidak bertambah populer gegara sering diserang secara terbuka sehingga malah diliput media serta diviralkan medsos? Ataukah Ganjar dibiarkan melangkah sembari terus dipantau sampai sejauh mana ujung perjalanannya? Dengan cara ini, partai juga bisa memantau posisi capres potensial lainnya dalam survei.

    Andaikan Ganjar dibiarkan melangkah—relawannya sudah bergerak di berbagai daerah, entah sepengetahuan Ganjar atau tidak, mungkin saja partai membuat kalkulasi lain untuk menyiapkan rencana B atau C. Sebutlah rencana alternatif itu ialah mencalonkan Ganjar dan Puan sebagai pasangan capres-cawapres. Meskipun hasil survei bukan satu-satunya tolok ukur yang digunakan untuk menentukan pilihan siapa yang sebaiknya maju, namun hasil survei mungkin saja tidak bisa diabaikan oleh elite PDI-P, termasuk Megawati sendiri. Umpamanya saja bila nanti nama Puan sukar untuk didongkrak lebih tinggi lagi, sedangkan Ganjar makin tidak terkejar, mungkinkah skenario Ganjar-Puan dijalankan?

    Melepas Ganjar ke partai lain, misalnya, karena elite PDI-P lebih suka Puan yang maju, cukup berisiko karena Ganjar dapat membawa gerbong sebagian kader dan simpatisan PDI-P. Skenario duet ini mungkin tidak akan memuaskan elite pendukung Puan, apa lagi yang tidak menyukai Ganjar, namun lebih masuk akal bila tujuannya mempertahankan peran PDI-P di jagat perpolitikan serta untuk menjaga keutuhan partai. Tentu saja apabila Puan rela menjadi pendamping Ganjar.

    Untuk mewujudkan skenario duet Ganjar-Puan, tentu saja PDI-P harus mampu meraih minimal 20% suara pemilih legislatif sebagai syarat mengusung calon presiden sendiri. Meskipun meraih 20% untuk memenuhi syarat presidential threshold, tidak mudah bagi pasangan Ganjar-Puan untuk meraih kemenangan di pilpres. Partai-partai lain akan berusaha meraih kemenangan pula karena menganggap PDI-P sudah dua periode pemilihan berada di depan. Tiba waktunya untuk berganti peran.

    Skenario Ganjar-Puan mungkin tidak mudah diwujudkan dibandingkan misalnya bila PDI-P berkoalisi dengan Gerindra untuk mengusung duet 2P—Prabowo dan Puan. Kerjasama dua partai ini mungkin akan lebih mampu menggerakkan mesin partai dan meraih dukungan lebih luas. Jika skenario ini dipilih, berarti Ganjar dilepas. Mungkinkah Ganjar akan berlabuh ke partai lain dengan mengandalkan popularitas dan elektabilitas versi lembaga survei? Ataukah Ganjar akan dibuat patuh pada keputusan ketua umum partai dan menahan diri dari pencalonan? Untuk kepatuhan ini, boleh jadi tidak akan ada makan siang gratis. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.078 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.