Strategi Mengembangkan Moral Anak Usia Dini - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: The Center for the Advancement of Christian Education

Fidya Rizky

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Februari 2021

Kamis, 28 Oktober 2021 17:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Strategi Mengembangkan Moral Anak Usia Dini


    Dibaca : 295 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anak usia dini merupakan individu yang unik dan memiliki karakteristik sendiri sesuai dengan tahapan usianya. Masa usia dini (0-6 tahun) merupakan masa ke-emasan (The Golden Age). Pada masa ini, stimulasi seluruh aspek perkembangan memiliki peran penting untuk mengembangkan perkembangan selanjutnya. Perlu disadari bahwa masa awal-awal kehidupan anak merupakan masa terpenting dalam rentang kehidupan seorang anak. Pasa masa ini, pertumbuhan otak sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat.

    Mengingat pentingnya masa ini, penyediaan lingkungan yang kondusif harus disiapkan oleh para pendidik atau orang terdekat anak. Dengan menyediakan lingkungan yang kondusif dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya meliputi aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik motorik serta seni. Pendidikan anak usia dini diberikan diawal kehidupan anak untuk dapat berkembang secara optimal.

    Perilaku dan pengetahuan pada diri anak merupakan hal yang berjalan beriringan dan saling berkontribusi pada diri manusia. Pengetahuan akan mempengaruhi perilaku, sebaliknya perilaku akan mempengaruhi pengetahuannya. Keduanya menjadi hal yang penting dalam proses mendidik seorang anak yang masih belia agar di masa depan ia menjadi orang yang diharapkan oleh masyarakat. Melalui proses pendidikan yang baik, kebaikan pengetahuan dan perilaku akan menjadi garansi sebagai hasilnya. 

    Tertanamnya nilai moral yang mapan pada anak-anak akan membuatnya mampu berperilaku sopan dan santun kepada siapa pun, mampu menghormati orang lain yang lebih tua darinya, patuh kepada aturan, bersikap sabar, jujur serta mau menghargai orang lain (Nurhayati 3 dkk., 2019).

    Apa Itu Perkembangan Moral?
    Moral memiliki arti yang sesuai dengan bahasa latin yakni perilaku, adat atau kebiasaan. Pada kehidupan sosial, moral merupakan kesesuaian dan ketaatan terhadap aturan-aturan yang dibangun di sebuah masyarakat dan harus ditaati oleh setiap anggotanya. Dalam mengembangkan moral anak, saat anak masih berusia dini mereka diajarkan tentang benar dan salah. Pada usia selanjutnya anak diberikan pemahaman terkait mengapa sebuah perilaku dapat dikatakan baik dan salah. Faktor yang paling memberikan dampak bagi pertumbuhan perilaku anak adalah lingkungan sekitar mereka. Sehingga orang tua dan keluarga anak harus benar-benar dikontrol dan diawasi perkembangan dan pergaulannya.

    Perkembangan perilaku pada setiap anak tidaklah sama, ada yang perkembangan moralnya dinilai sangat patut dan ada pula yang memiliki perkembangan moral yang sangat kurang. Perkembangan moral merupakan salah satu proses perubahan yang terjadi sepanjang hidup manusia baik itu tingkah laku, budi pekerti, akhlak maupun pembentukan karakter pada anak seiring bertambahnya usia anak.

    Dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh pengembangan moralitas anak merupakan salah satu perubahan tingkah laku, perilaku maupun akhlak pada anak seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu, perkembangan moral pada anak sangat mempengaruhi masa depan anak. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan moral pada anak tidak ada dalam dirinya sewaktu dilahirkan, namun tumbuh dan berkembang selaras dengan kondisi lingkungan dan bimbingan dari orang tua maupun pendidiknya.

    Piaget menjelaskan bahwa ada 2 fase perkembangan perilaku anak yaitu moralitas kerja sama dan moralitas otonomi. Pada fase pertama anak berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mencoba untuk bekerja sama dengan orang-orang disekitarnya. Sedangkan pada fase yang kedua anak akan mencoba untuk beradaptasi dengan nilai-nilai dan aturan yang ada disekitar mereka.

    Apa saja strategi yang harus disiapkan untuk mengembangkan moral anak usia dini?
    1.    Menyiapkan lingkungan yang kondusif, bersikap edukatif dan mampu menstimulasi berbagai pengembangan.
    2.    Berikan dukungan secara kolaboratif dengan orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini.

    3.    Menyusun program kegiatan bermain yang bernuansa penanaman moralitas yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak untuk melakukannya.
    4.    Menitikberatkan seluruh strategi pengembangan moral bagi anak usia dini pada kemampuan mereka dalam membantu dirinya sendiri, mengenal teman sebayanya dan kemampuan mereka dalam bersosialisasi yang berawal dari kemampuan bermain sendiri kearah bermain bersama.
    5.    Menyiapkan kegiatan yang mampu menstimulasi kerja sama, toleransi dan saling setia kawan.
    6.    Menyiapkan media pendukung yang memungkinkan anak dapat bekerja sama.
    7.    Membawa anak kedalam situasi yang nyata untuk mengenalkan pendidikan moral atau field trip, seperti ke panti asuhan dan panti jompo.
    8.    Menyusun program bersifat kepemimpinan sebagai landasan penanaman sikap leadership dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas.

    Pendidikan Anak Usia Dini Untuk Si Kecil

    Dengan berbagai macam strategi pengembangan moral, sebagai orang terdekat kita diharapkan agar mampu membentuk karakteristik anak usia dini dalam bersikap, berprilaku, berkata dan sekaligus bersosialisasi sesuai dengan moralitas kehidupan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.