Beragama untuk Mengasah Kepedulian Sosial, Belajar dari Romo Mangun - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Putu Suasta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2019

Jumat, 5 November 2021 07:49 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Beragama untuk Mengasah Kepedulian Sosial, Belajar dari Romo Mangun

    Tak pernah habis alasan bagi kita untuk selalu menghidupkan kembali sosok Romo Mangun dan menemukan relevansi teladan hidupnya dalam praktek kehidupan sehari-hari. Terlebih di era sekarang di mana perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terus melesat untuk memfasilitasi pemenuhan hasrat dan nafsu manusia.

    Dibaca : 1.157 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Putu Suasta, Alumnus UGM dan Cornell University

    Tak pernah habis alasan bagi kita untuk selalu menghidupkan kembali sosok Romo Mangun dan menemukan relevansi teladan hidupnya dalam praktek kehidupan sehari-hari. Terlebih di era sekarang di mana perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan terus melesat untuk memfasilitasi pemenuhan hasrat dan nafsu manusia.

    Ada kenderungan semakin menipisnya kepedulian dan kepekaan sosial di era ini karena semakin banyak orang yang hanya sibuk dengan diri sendiri dan kelompoknya karena merasa bisa memenuhi seluruh kebutuhan dan hasratnya hanya melalui perangkat kecil berbasis internet. Paradoksnya, tempat-tempat ibadah tak pernah sepi. Semakin banyak orang yang memeluk erat kehidupan religius sehingga media-media sosialpun bertabur kutipan-kutipan suci.

    Sementara itu semakin sedikit bukti yang bisa kita saksikan bahwa kesalehan dan ketekunan beribadah berbanding lurus dengan kepedulian pada sesama dan semangat toleransi. Para pemimpin agamapun seringkali gagal menunjukkan kepedulian sosial sebagai buah dari kedalaman ilmu agama yang digelutinya. Dalam kondisi seperti inilah saya sering tergoda untuk mengenang kembali Romo Mangun. Walaupun saya memeluk agama dan menghidupi iman yang berbeda Romo Mangun, praksis keagamaan yang dijalankannya selama hidup saya pikir tetap relevan untuk diteladani, termasuk juga oleh para penganut agama lain.

    Dalam berbagai kesempatan telah sering kita dengar atau baca alasan Romo Mangun memilih jalan hidup sebagai pemuka agama (Katolik). Dari kata-katanya kita bisa menangkap bahwa bagai Romo Mangun menjadi pemuka agama merupakan kesempatan untuk lebih dekat dengan orang-orang kecil (wong cilik) sebagaimana pernah dikutip oleh Toto Rahardjo dalam salah satu esainya:

     “Mengapa saya memilih jadi Pastor karena saya beragama Katolik. Seandainya saya beragama Islam mungkin saya akan memilih pesantren. Sebab bagi saya di situ adalah tempat paling dekat dengan rakyat kecil. Menjadi Pastor paling tidak 80 % berurusan dengan wong cilik, entah di kota, entah di desa”.

    Status sebagai pemuka agama tidak menghalangi Romo Mangun untuk berjuang bagi kaum lemah dari agama manapun, bahkan status tersebut menjadi dorongan moral baginya bahwa buah dari kesalehan dan penghayatan iman adalah berbakti bagi sesama. Ini semakin jelas kita pahami ketika membaca alasannya memperdalam ilmu arsitektur. Menurut pengakuannya, studi arsitektur adalah penugasan dari Gereja, tetapi dalam penugasan tersebut dia melihat kesempatan untuk membantu masyarakat kecil. “Semula arsitektur itu bukan cita-cita saya, namun karena tugas Gereja. Saya pikir arsitektur juga tidak hanya milik orang kaya, orang kecil juga berhak, maka ya saya jalani saja”. Katanya sebagaimana dikutip Toto Rahardjo dalam esainya.

    Ilmu yang dia dapatkan dari studi arsitektur tersebut kemudian dia terapkan untuk membantu masyarakat kecil yang terancam penggusuran, salah satunya di tepi kali Code di mana sekarang museum Romo Mangun berdiri untuk mengenang jasanya.

    Hingga awal tahun 1980-an kawasan tersebut terkenal sebagai pemukiman kumuh dan tidak diakui pemerintah sehingga diwacanakan untuk digusur. Rumah-rumah di sana lebih layak disebut gubuk yang terbuat dari kardus bekas, sebagian berdinding anyaman bambu dan lebih miris lagi, tak sedikit yang menggunakan sampah plastik sebagai dinding tempat tinggal sebagaiman bisa kita saksikan dalam foto-foto dalam buku “Merawat Nilai-Nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal” (Surnayati, 2016). Kepada penduduk yang termarjinalkan seperti itulah Romo Mangun datang mengulurkan tangan dan menerapka ilmu arsitektur yang dipelajarinya.

    Dia membangun rumah bertingkat dengan pondasi dan tiang kokoh di tanah miring pinggir sungai. Ketika banjir datang akibat luapan kali Code, penghuni bisa pindah dan menyelamatkan barang-barang ke lantai atas. Pemukiman-pemukiman di sana menjadi lebih layak huni bukan saja hanya karena bangunannya lebih kokoh dengan warna-warni cat yang semarak, tetapi karena Romo Mangun juga membangun tempat bermain anak, tempat rapat (semacam balai desa) dan fasilitas-fasilitas sederhana tapi bersahaja yang dibutuhkan masyarakat kecil untuk dapat menjalani kehidupan lebih berkualitas.

    Kita tahu penduduk yang menghuni pinggiran kali Code dan merasakan langsung mamfaat karya Romo Mangun bukan umat atau jemaat dari Gereja yang dilayani Romo Mangun, tetapi dia benar-benar memposisikan mereka semua sebagai sudaranya dalam kemanusiaan. Dia tidak hanya berhenti membantu dalam penyediaan pemukiman layak, tetapi juga berjuang bersama mereka yang lemah dan termarjinalkan ketika kebijakan penguasa tidak berpihak kepada mereka. Kita telah mendengar banyak kisah bagaimana Romo Mangun bahkan hingga mempertaruhkan nyawa dengan ikut berjuang bersama masyarakat yang terancam pengusuran, melindungi orang-orang yang dikejar-kejar penguasa karena menyampaikan suara-suara kritis sebagai bentuk pembelaan kepada masyarakat kecil.

    Tiap kali berkunjung kembali ke Jogja dan melihat geliat kehidupan di sekitar Kali Code yang telah berubah menjadi salah satu objek wisata, kontras dengan keadaan tahun 1980-an masa di mana saya juga menuntut ilmu di kota tersebut, selalu terbesit niat untuk menemukn jejak-jejak keteladanan Romo Mangun. Demikian juga ketika bertemu dengan para mantan murid, pengagum dan sahabat-sahabatnya yang berasal dari lintas agama, suku, daerah bahkan negara, selalu terbesit pertanyaan “mampukah saya mentransformasikan iman yang saya jalankan menjadi cahaya terang bagi semua orang yang saya jumpai di dunia ini?”.

    Ikuti tulisan menarik Putu Suasta lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.