Kuat Selama Menjadi Insoman Covid-19 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kegiatan Tracing dan Testing Covid-19 di wilayah Kutorejo, Mojokerto

019_Rizkya Fatika sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 November 2021

Minggu, 7 November 2021 16:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kuat Selama Menjadi Insoman Covid-19

    Essay ini menjelaskan pengalaman aku dan keluargaku saat menjadi insoman Covid-19 pada bulan juni tahun 2021. pengalaman ini menjadi salah satu pembelajaran buat kita semua akan selalu mematuhi protokol kesehatan agar mengurangi penyebaran Covid-19.

    Dibaca : 351 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                    

    Coronavirus Disease 2019 atau yang sering disebut Covid-19, saat ini telah menjadi perbincangan di seluruh penjuru dunia. Sebuah kejadian yang tidak terbayangkan sebelumnya akan menjadi seburuk ini. Fenomena yang mematikan semua aspek kehidupan di seluruh dunia, baik dari segi perekonomian, hubungan sosial, dan lebih terutama lagi pada dunia pendidikan. Hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan seluruh isi dunia akibat pandemi Covid-19. Selama pandemi Covid-19 ini pula, masyarakat terpaksa untuk tetap di rumah saja demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19

    Terkhusus saat diriku dinyatakan sebagai pasien OTG ( orang tanpa gejala ) beserta seluruh anggota keluargaku pada bulan juni tahun 2021. Itu bermula dari Ibuku sakit asam lambung sehingga dilarikan ke RSUD di tempat tinggalku. Rumah sakit tersebut memiliki aturan bagi semua orang yang ingin dirawat harus melakukan Swab terlebih dahulu. Pada waktu itu, ibuku melakukan Swab Antigen dengan hasil testnya negatif. Sudah lebih dari 3 hari dirawat, ibuku sesak napas setelah selesai azan subuh, dikarenakan pada malam itu disuntik obat asam lambung ke pada Ibuku. Pihak rumah sakit mengira ibuku memilki gejala Covid-19.  Dari kejadian itu, ibuku diminta melakukan Swab PCR dan pihak rumah sakit menyatakan hasil dari test tersebut ibuku positif Covid-19.

    Seluruh keluargaku bingung dan terkejut mendengar hasil tersebut. Ibuku meminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Setelah mendapat persetujuan dari pihak rumah sakit, ibuku di bawa pulang dan di tepatkan di kamar sendiri yang memiliki kamar mandi didalamnya. Dengan adanya peraturan di mana salah satu anggota keluarga terpapar Covid-19 maka seluruh anggota keluarga diminta melakukan Swab PCR di Puskesmas terdekat daerah tempat tinggal. Hal itu merupakan salah satu program yang dilakukan oleh pihak puskesmas. Setelah kami memenuhi panggilan untuk melakukan Swab PCR yang hasilnya akan dikabari oleh pihak Puskesmas.

    Kami tidak mempercayai bahwa ibuku terpapar Covid-19, karena ibuku merasa dirinya tidak memilki gejala dari virus corona. Selama ibuku menjalani masa isolasi kami sekeluarga fokus akan penyembuhan ibuku. Apalagi, kami yang statusnya masih dalam pantauan pihak Puskesmas. Awalnyaa, kami tidak telalu banyak memikirkan tentang perkembangan virus Covid-19 karena di lingkunganku masih terbilang aman dari pesebaran virus tersebut. Setelah itu, ayahku mendapat kabar bahwa kami sekeluarga positif Covid-19 dengan status OTG yaitu ayah, abang, kakak , aku dan adikku. Hal itu membuat kami syok dan bingung karena melihat kondisi kami sekeluarga sehat dan tidak memiliki gejala virus Covid-19.

    Banyak hal-hal yang rancu membuat kami sekelurga tidak menerima bahwa kami dinyatakan positif Covid-19. Pihak puskesmas memiliki program setiap 2 kali seminggu melakukan pengecekan suhu badan dan tingkat kadar oksigen terhadap keluargaku. Banyak kejangalan ketika kami sekeluarga dinyatakan OTG. Pertama, kami tidak merasa ada gejala virus Covid-19 sedikit pun. Kedua, saudara yang menjaga ibuku di rumah sakit memiliki riwayat penyakit diabetes, tetapi setelah melakukan Swab PCR dia dinyatakan negatif. Sedangkan, saudaraku merupakan orang kontak erat langsung dengan ibuku. Ketiga, surat hasil Swab PCR yang di uji oleh rumah sakit rujukan tidak langsung di keluarkan oleh Puskesmas, melainkan ketika kami sudah selesai melakukan isolasi seama 14 hari, surat itu baru diberikan dan tidak ditandatangani oleh pihak rumah sakit yang melakukan uji hasil Swab tersebut. Hanya saja kami tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut.

    Kami mengambil langkah untuk tidak memikirkan kejanganlan tersebut melainkan kami ingin melalukan perbaikan akan penyembuhan dari virus Covid-19, dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti berjemur di pagi hari selama 5 – 10 menit minum air putih hangat, makan makanan yang bergizi, minum susu beruang 2 kali sehari, vitamin, dan obat anti virus. Tidak hanya pola hidup sehat tetapi juga menjaga lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih dengan cara membersihkan setiap ruangan rumah. Lalu, melakukan penyemprotan alkohol atau desinfektan sekeliling rumah.

    Berjuang selama masa isolasi merupakan hal yang sangat tidak terlupakan. Awalnya melakukan aktivitas di luar ruangan, semua aktivitas menjadi terbatas terlebih lagi bagi Ayahku. Perkerjaannya menjadi terhambat dan uang pemasukan juga menjadi berkurang akibat tidak adanya uang tambahan berkerja di luar. Tidak hanya ayahku, ibuku juga berhenti sejenak dari usahanya dan membutuhkan waktu untuk masa pemulihan. Tidak menjadi buruk ketika kami dinyatakan positif Covid-19 tetapi kami optimis dan yakin bahwa pikiran yang sehat dapat melawan virus tersebut di dalam diri kita. Terpapar Covid-19 bukan hal yang memalukan melainkan kita harus tetap berfikir positif akan penyembuhan dari virus Covid-19 dan selalu menjalankan protokol kesehatan dengan selalu mencuci tangan, mejaga jarak dan memakai masker. Terlebih lagi, kami saling menguatkan dan menjaga satu sama lain.

    Rumor selama masa pandemi COVID-19 ini memang teramat sulit untuk dikendalikan, sehingga sangat wajar apabila terdapat beberapa kalangan yang mengalami kecemasan berlebih serta gejala kesehatan mental baru. Dari sudut pandang positif, media sosial sebenarnya memudahkan dalam penyebaran informasi mengenai Covid-19 karena dapat langsung menjangkau jutaan orang dalam satu waktu dengan sangat praktis. Namun, dikembalikan lagi pada pembaca agar dapat secara bijak memilah informasi yang akurat serta berasal dari sumber terpercaya. Dalam penyebaran informasi tersebut, perlu diperhatikan pula kata-kata yang akan disampaikan, seperti mengganti kata “korban Covid-19” menjadi “orang yang dirawat karena Covid-19”, dan sebagainya.

    Apabila literasi masyarakat sudah cukup baik, maka mereka akan mendapatkan informasi yang kredibel, sehingga dapat lebih waspada akan adanya terhadap Covid-19. Namun, realitanya masyarakat Indonesia memiliki tingkat literasi yang cukup buruk, sehingga tidak dapat menyaring informasi yang tersebar dengan baik. Hal tersebut mengakibatkan beredarnya banyak hoaks yang meremehkan ataupun melebih-lebihkan pandemi ini, sehingga masyarakat mudah terprovokasi tanpa mencari tahu kebenaran ataupun sumber informasi tersebut. Dengan begitu sebagai masyarakat Indoensia, mari kita saling bahu-membahu melakukan perubahan dari segala elemen yang ada demi menyudahi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Selalu patuhi protokol kesehatan, jaga kesehatan baik diri maupun lingkungan serta lakukan  vaksinasi demi mengurangi penyebaran virus Covid-19  dan harapan saya kita semua bisa mencapai cita-cita dan ambil bagian dalam pembangunan di Indonesia dapat terwujud.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik 019_Rizkya Fatika sari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.