Swietenia Puspa Lestari: Sambil Menyelam, Lestarikan Lautan - Urban - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Selasa, 9 November 2021 06:15 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Swietenia Puspa Lestari: Sambil Menyelam, Lestarikan Lautan

    Prestasi membanggakan ditorehkan wanita Indonesia di kancah internasional. Tenia (26), di usianya yang masih muda sudah berhasil masuk dalam daftar 100 perempuan berpengaruh di dunia pada 2019 versi media Inggris BBC. Tak berselang lama, ia pun masuk daftar "30 Under 30" Forbes Asia tahun 2020. Aksinya memang bukan abal-abal. Pemilik nama lengkap Swietenia Puspa Lestari ini memungut sampah dari dalam lautan sambil mengajari warga di pesisir pantai untuk memilah sampah.

    Dibaca : 431 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Semua kepedulian itu berawal sejak usianya masih dini ketika masih tinggal di Kepulauan Seribu. Saat itu, ayahnya masih menjabat sebagai Kepala Badan Nasional di sana. Ayahnya mengajari Tenia berenang, snorkling hingga akhirnya berani menyelam.

    Tak heran jika Tenia sudah begitu lekat dengan laut. Ditambah lagi, kondisi laut yang indah dan bersih, membuat ia semakin jatuh cinta pada birunya samudera. Ia pun kerap menyelam menikmati kecantikan laut di Pulau Pramuka sambil menemani ayahnya bekerja. Pantas jika ia telah mendapat lisensi diving sejak masih duduk di bangku SMP.

    Dengan lisensi itu, Tenia telah melakukan 1.000 penyelaman di sejumlah lokasi. Tempat menyelam favoritnya adalah Pulau Komodo, Raja Ampat dan Pulau Maratua. Dari pengalaman menyelam itulah justru Tenia menemukan masalah yang membuat api revolusi mentalnya menyala: sampah di lautan. "Aku benar-benar merasakan perbedaan kondisi laut, saat aku kecil sekitar tahun 2003-2007 dan saat aku kuliah sekitar 2012-2017. Saya resah melihat sampah mulai berserakan di laut," ujarnya.  

     

    Bangkitnya Revolusi Mental

    Sebagai seorang penyelam, Tenia memang sangat sering menemui sampah berserakan di pantai atau permukaan laut. Bahkan ia pernah mempertaruhkan nyawa, hanya untuk mengambil sampah yang ada di lautan dalam dengan arus yang cukup kencang.

    Ia pun sedih dengan kenyataan bahwa Indonesia disebut sebagai produsen sampah di laut terbesar kedua setelah Cina. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut jumlah sampah plastik yang masuk ke laut mencapai sekitar 1,29 juta ton per tahun.

    Kegetirannya bertambah kala menyadari ketimpangan antara realita di lapangan dan teori yang ia pelajari di kampus. Jiwa Tenia tergerak. Semangat revolusi mental justru membangkitkan tekadnya untuk melakukan pelestarian laut. Ia sempat ingin menjadi volunteer di NGO yang bergerak di bidang lingkungan. Namun, ia tidak menemukan organisasi yang secara spesifik fokus pada isu sampah di pinggir pantai dan bawah laut.

    Saat tahun ketiga dirinya menimba ilmu di jurusan teknik lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2015, perempuan kelahiran 23 Desember 1994 ini akhirnya membentuk Divers Clean Action (DCA). DCA adalah LSM pemuda dan komunitas yang berfokus pada masalah sampah laut dan pinggiran pantai.

    Mengajak dua orang rekannya, yaitu M. Adi Septiono dan Nesha Ichida yang juga senang menyelam dan punya ketertarikan di isu yang sama, Tenia menyulut kerjasama dan gotong royong bersama warga untuk membersihkan sampah pinggir pantai dan di bawah lautan.

     

    Terbangunnya Perubahan

    Pertemuannya dengan orang-orang yang juga punya minat yang sama pada tahun 2015 itu, membuatnya semakin yakin untuk berkontribusi pada masalah waste management di daerah pesisir. "Di tahun 2015, aku ketemu dengan orang-orang yang juga suka menyelam. Kita sama-sama kesal dan punya kebiasaan yang sama saat diving yaitu membawa pulang sampah di laut dengan menaruhnya di pelampung kita."

    Selama kurang lebih satu tahun, Tenia dan rekan-rekan di komunitasnya rutin membersihkan daerah pesisir dan laut di Kepulauan Seribu. Upayanya bukan tanpa kendala, mulai dari ejekan karena suka memungut sampah, berjibaku dengan sampah yang kotor, sampai sulitnya mengubah mindset warga pesisir untuk tidak membuang sampah sembarangan.

    Pengalaman pertamanya memungut sampah di kepulauan itu pun masih dikenangnya.  Ketika itu ia berjibaku dengan bermacam-macam sampah, dari popok dan pembalut bekas pakai, hingga belatung yang menggerogoti sampah-sampah organik. “Awal-awal jijik rasanya, bahkan mau nangis. Tapi inget lagi niatnya untuk lingkungan, untuk kebaikan.  Saya suka diledekin, mbak ngapain mulung sampah?” ujarnya sambil tersenyum.

    Mengubah kebiasaan masyarakat pesisir yang sering tidak peduli dengan kebersihan laut, juga tentu tidak mudah. Ia mengatakan warga sering berdalih sampah laut berasal dari daratan.

    Tak kurang akal, ia membuat eksperimentasi GPS Modelling. Tenia dan anggota DCA lain pun melakukan percobaan untuk membuktikan pada masyarakat bahwa pemahaman itu tidak seluruhnya benar. “Kami buktikan dengan penelitian. Kami membuat GPS modelling dengan berat sampah, lalu kami buang dari pulau ini. Ternyata dalam waktu tiga sampai tujuh hari, sampahnya balik lagi ke sini,” ujarnya. Dari sanalah, masyarakat jadi tahu ketika mereka buang sampah sembarangan, sampah bisa terbawa arus kemudian kembali ke pulau lagi.

    Tantangan lainnya, kata Tenia, adalah resistensi masyarakat yang mengatakan apa yang disosialisasikannya, mengenai pemilahan sampah hingga imbauan pengurangan plastik, membuat mereka repot. “Kami bercandain lagi saja (masyarakatnya) bahwa lebih ribet lagi kalau pulaunya penuh dengan sampah,” ujarnya.

    Bersama Divers Clean Action, dirinya melakukan empat pilar untuk membersihkan sampah laut. Diantaranya Marine Debris Research, Campaign & Workshop, Community Development, CSR & EPR Facilitator. Ia juga mulai menjalin koneksi dengan pihak pemerintah serta kementerian dengan cara membantu kegiatan riset dan memberikan data sampah laut kepada mereka. Padahal DCA awalnya dibentuk hanya untuk memuaskan hasrat para penyelam yang peduli terhadap keindahan laut tetapi lautnya mulai tercemar oleh sampah.

    Namun, DCA pada akhirnya juga mengimplementasikan program kolaborasi lingkungan dengan lembaga penyelaman, mengambil peran sebagai fasilitator untuk pengembangan masyarakat pesisir, dan melakukan berbagai kampanye dan pelatihan.

    Kegigihannya tak berhenti sampai di situ saja. Tenia juga membuat undangan untuk komunitas wartawan yang hobi menyelam untuk ikut aksi pada Hari Peduli Sampah Nasional 2016. Sejak itu, berita tentang sampah plastik semakin terdengar gaungnya di media massa.

     

    Terus Bergerak

    Di awal gerakannya, Tenia juga membangun kerja sama dengan salah satu restoran cepat saji ternama. Saat tawaran kerja sama itu datang, Tenia tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu untuk sekadar melakukan acara clean up yang cuma dilakukan sekali saja. Ia menantang perusahaan ayam goreng tersebut untuk melakukan perubahan mendalam dengan mengubah bahan material alat makan mereka. Salah satunya adalah sedotan.

    Kampanye pengurangan sedotan sekali pakai tersebut, dinilai Tenia cukup berhasil. Berdasarkan data pada tahun 2017, diumumkan bahwa pengurangan sampah sedotan plastik menurun sampai 91% di semua gerai restoran tersebut.

    Ia meyakinkan mereka lewat bukti foto sampah-sampah sambal kemasan yang ditemukan di Kepulauan Seribu, yang bahkan tidak memiliki gerai restoran tersebut. Tak usai di situ saja, gerakan ini pun menular kepada restoran cepat saji lain. "Restoran-restoran lain di 2018 itu, gak lagi menggunakan sedotan plastik."

    Saat membersihkan laut dari sampah, Drivers Clean Action menghipun data sejak 2019 dan menemukan bahwa yang paling berat adalah sampah tekstil. Dia mengatakan bahwa tekstil di Indonesia belum tergolong dengan baik.

    Kasus lain terkait sampah di laut adalah kawasan mangrove. Ia berkata bahwa pada daerah tersebut rawan sampah yang menumpuk. "Ketika saya bebersih di mangrove Menjangan, kasus sampahnya jika tidak dibersihkan bisa tebal setinggi 30 cm. Hal-hal seperti itu terjadi," ucapnya.

    Teknis bebersih sampah yang dilakukan DCA seperti memetakan area 50 meter persegi dan melakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Area yang dimonitor itu juga dilihat apakah itu merupakan daerah wisata atau tidak.

    Tindakan di pantai juga disesuaikan dengan pasang surut dan data yang disederhanakan. Sampah juga dibedakan berdasarkan jenisnya. Setelah bebersih sampah, hasilnya akan diarahkan ke bank sampah untuk dikelola atau ke TPS. DCA mulai berfokus di Pulau Seribu dan beberapa pulau di kota lain seperti Palu, Lampung, dan Lombok.

    Karena tingginya antusiasme dan support masyarakat atas gerakan yang mereka bentuk, Tenia dan teman-teman terus membesarkan DCA. Banyak pula pihak yang kemudian tertarik dan mendukung DCA bukan hanya dari kelompok penyelam. Masyarakat lain pun ikut tertarik dan bergabung. Hingga pada akhirnya tahun 2017 mereka mendirikan yayasan untuk menaungi DCA dengan nama Yayasan Penyelam Lestari.

    Organisasi yang telah resmi menjadi yayasan tersebut, kemudian memberi wadah program untuk para pemuda tanah air yang juga punya ketertarikan pada isu lingkungan. Setiap perwakilan daerah diberikan kebebasan untuk membuat gerakan yang dinilai relevan dengan isu kearifan lokal. Contoh gerakannya adalah "Gajahlah Kebersihan" di Lampung, serta "Seangle" di Palu.

     

    Ketika Dunia Mengakuinya

    Tenia sudah memulai revolusi mentalnya dengan komunitas kecil, lalu bekerja sama dengan perusahaan, kerja sama dengan pemerintah, akhirnya bisa menduplikasikan program-program organisasi ke pelosok daerah. Berkat integritasnya pada penyelematan lingkungan itulah, media luar menyematkannya sebagai perempuan inspiratif. "BBC adalah media luar pertama yang melegitimasi kegiatan kita. Mereka bilang, saya masuk list '100 Inspiring and Influential Women'," tutur Tenia.

    Prestasi terkini yang diraih kemudian oleh Tenia adalah menjadi bagian dari daftar "30 Under 30" oleh Forbes Asia. Perempuan kelahiran Bogor ini masuk dalam bidang social entrepreneurship. “Mereka menilai pekerjaan saya itu membuat orang lain terpacu untuk berbuat lebih banyak lagi," tambah Tenia.

    Ia berujar bahwa penghargaan-penghargaan itu seperti hadiah untuk orang tuanya yang sempat tidak menyetujui langkahnya untuk mendirikan DCA. “Ketika saya bilang ingin serius menjalankan pekerjaan ini, mereka bilang ‘ngapain?’ Mereka sempat menyayangkan mengapa saya memilih jalur profesional di pekerjaan ini,” kenangnya.

    Namun, Tenia tak lantas mengikuti kata orang tuanya. Ia justru berusaha membuktikan bahwa dirinya bisa membesarkan ‘bayi’-nya menjadi organisasi yang berdampak positif bagi lingkungan. Ketika hal ini terwujud, pada akhirnya sang ayah, Sumarto, dan ibu, Darmastuti Nugroho Sumarto, memahami bahwa yang dilakukan Tenia benar-benar serius, dan kini mereka pun ikut mendukung.

    Keseriusan dan integritas Tenia memang tak diragukan. Untuk memperdalam pengetahuan tentang pentingnya menanggulangi isu sampah, konservasi, dan lingkungan, Tenia memutuskan berangkat ke Amerika Serikat. Di sana, ia mempelajari berbagai informasi-informasi penting seperti pemetaan, clean up, dan bagaimana membuat kampanye yang terstruktur dengan baik.

    Tenia juga pernah menjadi salah satu delegasi dari acara "Obama Foundation Leaders: Asia-Pacific". Ia bahkan ditunjuk sebagai peserta yang mempresentasikan profil Barack Obama.

    Dalam perkembangannya, kini organisasinya memiliki 1.500 relawan yang bekerja di Indonesia dan Asia Tenggara. “Karena, ketika kita bersih-bersih pantai dan laut, kita tidak hanya menemukan sampah dari produk lokal, tapi juga sampah dari tetangga-tetangga kita. Jadi, kita mengajak teman-teman se-Asia Tenggara untuk membantu masalah persampahan ini, karena yang terbantukan tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara mereka masing-masing,” ujar Tenia

     

    Bergiat di Masa Pandemi

    Di tengah meningkatnya sampah kemasan plastik akibat aktivitas 'delivery' dan 'takeaway' saat pandemi COVID-19, Tenia pun membentuk koalisi Pawai Bebas Plastik bersama organisasi pejuang lingkungan lainnya. "Kita sadar kalau kampanye saja tidak cukup, jadi kita mengajak pelaku e-commerce, datang ke kantornya, membuat webminar dan menawarkan pilihan alternatif kemasan yang sebenarnya bisa lebih murah," ujarnya.

    Selain itu, aktivitas DCA tetap konsisten berjalan menyesuaikan kondisi pandemi. Yang membedakannya hanyalah lebih banyak ruang pertemuan dan koordinasi lewat online saja. "Kita melakukan semua koordinasi, bikin SOP, dan webinar. Selain itu, kita juga sibuk memperbaiki program agar bisa tetap berjalan normal setelah pandemi," tutur Tenia.

    Walau begitu, tetap ada kegiatan yang berjalan di lapangan pada daerah-daerah tertentu yang saat itu belum menerapkan sistem Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Selebihnya, Tenia mengarahkan timnya untuk berfokus kepada kampanye pengolahan sampah di rumah. “Di daerah yang memberlakukan PPKM, kita mendukung program pemerintah daerah aja. Misalnya, kalau pasukan oren butuh sesuatu, akan kita kumpulin datanya dan berusaha bantu fasilitasi," papar Tenia.

     

    Lestari Tetaplah Lestari

    Menjadi pejuang lingkungan bersama anak muda lainnya, Tenia juga sering mendapat 'japri' di sosial media. Semisal soal "eco-anxiety".  Tenia bertutur, kebanyakan anak muda merasa khawatir dan tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan dari dampak perubahan iklim. Selain bertanya apa yang dilakukannya sudah progesif atau tidak.

    The American Psychological Association (APA) pertama kali mendefinisikan eco-anxiety pada tahun 2017 sebagai rasa takut kronis akan kehancuran lingkungan. Temuan studi dari Greenland hingga Australia mengungkapkan terjadinya lonjakan jumlah orang yang melaporkan stres atau depresi terkait permasalahan iklim. Begitu juga pengaduan yang diterima oleh Tenia.

    Karena itu, menurut Tenia sangatlah penting untuk menjaga kesehatan mental dengan membicarakan perasaan yang khawatir atau kecemasan yang ada kaitannya dengan perubahan iklim kepada orang lain. Banyak pula anak-anak Indonesia yang merasa upaya mereka tidaklah akan cukup untuk membuat perubahan dalam jangka panjang.

    Itu sebabnya, Tenia juga menyadari kalau pekerjaannya jauh dari kata tuntas. Emosi dan rasa lelah sering ia rasakan melihat apa yang disosialisasikannya pada warga belum berjalan sempurna. Namun, ia sadar bahwa perubahan tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Walau demikian, upaya mengubah perbaikan bersama terus menyala di dadanya.

    Meski dipandang sebelah mata dari masalah usia, gender, hingga penampilan fisik, Tenia tak tergoyahkan. Baginya, perempuan hebat adalah mereka yang berani memperjuangkan mimpinya, bisa work-life balance dan memberikan dampak sosial. "Mungkin, memang masih banyak yang suka nge-judge, berasumsi seenaknya, atau membatasi kegiatan kita. Tapi, kalau kita sudah tahu kita maunya apa, kita merasa bertanggung jawab, dan bisa memenuhi tanggung jawab itu, then, go for it! Jangan takut!," tegasnya.

    Menurutnya kebijakan dan aksi nyata dari pemerintah Indonesia untuk menangani kerusakan lingkungan semakin membaik dibandingkan lima tahun lalu, tapi tetap butuh perhatian dan kerjasama yang lebih kuat dari berbagai pihak. "Kita butuh solusi yang radikal, kebijakan yang radikal," ujar Tenia.

    Revolusi mental salah satu anak muda Indonesia yang punya banyak mimpi ini, tetap membawanya melangkah pasti menuju impiannya. Hingga kini, Swietenia Puspa Lestari tetap menjadi gelombang perubahan bagi kelestarian dan keindahan pantai dan lautan.*** 

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.