Pai Yin - Betapa Susahnya Kembali Kepada Tradisi - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Pai Yin

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 10 November 2021 19:29 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Pai Yin - Betapa Susahnya Kembali Kepada Tradisi

    Era Reformasi adalah era dimana orang-orang Tionghoa menyadari hilangnya akar budaya mereka. Orang-orang Tionghoa berupaya mencari kembali akar budaya tersebut. Namun upaya tersebut tidaklah mudah. Novel ini berkisah tentang seorang pemuda Tionghoa asal Surabaya yang menjalin cinta dengan seorang gadis asal desa Gaosan, Provinsi Fujian. Kisah cinta yang menggambarkan lika-liku tumbukan budaya orang Tionghoa dengan budaya leluhur mereka di Tiongkok.

    Dibaca : 409 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Pai Yin

    Penulis: Lan Fang

    Tahun Terbit: 2004

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama        

    Tebal: 128

    ISBN: 979-22-0744-9

     

    Era Reformasi adalah era dimana orang-orang Tionghoa tersadar akan identitasnya. Setelah lebih dari 30 tahun mereka dipaksa untuk melupakan budayanya, di era Reformasi, mereka mencoba kembali mencari identitas yang hilang tersebut. Perayaan-perayaan budaya menjadi kemaruk. Khususnya saat Gus Dur memegang tampuk kepemimpinan. Liong dan barongsay muncul kembali di ruang publik dengan gegap gempita.

    Namun harus diakui bahwa gencetan selama 30 tahun telah membuat generasi yang lahir di atas tahun 1968 menjadi gagap terhadap budayanya. Bahkan banyak dari mereka – terutama yang tinggal di Jawa, telah kehilangan koneksi dengan akar budayanya. Anak-anak yang lahir setelah tahun 1968 rata-rata tidak lagi memiliki nama Tionghoa yang terdiri dari tiga suku kata. Akta kelahiran mereka sudah menggunakan nama Indonesia. Kalaupun mereka masih memiliki nama Tionghoa, biasanya hanya dipakai di kalangan yang sangat sempit, yaitu keluarga.

    Selain kehilangan nama, mereka juga pada umumnya kehilangan kemampuan berbahasa nenek moyangnya. Di rumah, mereka sudah menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lokal dimana mereka tinggal.

    Upacara-upacara religi memang mulai marak. Tetapi banyak dari anak-anak muda Tionghoa yang sudah terlanjur tidak memahami makna upacara tersebut.

    Meski orang Tionghoa kehilangan banyak budaya di masa Orde Baru, namun upaya mereka untuk kembali ke budaya tradisi kelihatan begitu nyata dalam kehidupan mereka di era Reformasi. Ada yang bisa ditangkap kembali dengan cepat, ada pula yang memerlukan waktu untuk memahami tradisi yang sudah hilang sejak mereka lahir.

    Novel pendek berjudul “Pai Yin” karya Lan Fang ini membahas tentang betapa sulitnya memahami tradisi yang telah hilang. Kisahnya adalah seputar cinta antara seorang pemuda Tionghoa asal Indonesia dengan seorang gadis asli Tiongkok. Kisah cinta dalam novel ini biasa saja. Namun Lan Fang mampu memanfaatkan kisah cinta yang sederhana tersebut untuk menggambarkan betapa rumitnya seseorang yang mencoba mencari kembali akar budayanya.

    Lan Fang memilih dua tokoh yang kontras dalam novel ini. Nico, sang tokoh lelaki adalah keturunan Tionghoa yang darahnya sudah tercampur dari sejak jaman Belanda. Sedangkan tokoh Pai Yin adalah seorang gadis Tiongkok yang orangtuanya masih memelihara tradisi dengan sangat ketat. Nico tinggal di Surabaya, sedangkan Pai Yin tinggal di Gaosan, Provinsi Fujian.

    Nico mendapat tugas untuk membenahi pabrik tekstil yang bermasalah di Gaosan. Di Pabrik tersebut ia bertemu dengan Pai Yin. Mereka berdua akhirnya saling jatuh cinta. Namun perjalanan cinta mereka tidaklah mulus. Sebab baik dari pihak Nico maupun pihak Pai Yin menentang perjodohan tersebut. Ibu Nico menganggap Pai Yin adalah gadis desa yang tidak terpelajar. Keluarga Nico berharap Nico menikahi Pasty, gadis pilihan ibunya. Menurut ibunya, Pasty adalah gadis yang lebih cocok dengan Nico karena mereka mempunyai budaya yang mirip. Nico dan Pasy dibesarkan dengan cara modern, multiras dan sama-sama berpendidikan tinggi.

    Sementara keluarga Pai Yin tidak menyetujui hubungan Pai Yin dengan Nico karena Nico tidak paham tradisi Tiongkok. Meski Nico memiliki darah Tionghoa, namun Nico tidak mengerti nilai-nilai luhur orang Tiongkok. Nico dianggap sebagai orang asing, meski Nico adalah peranakan Cina generasi keenam, tetapi ia tidak tahu tata cara dan tradisi Cina. Nico sudah tidak memiliki marga.

    Hubungan mereka menjadi semakin rumit karena Pai Yin ternyata hamil. Saat Nico menyampaikan alasan mengapa ia ngotot ingin menikahi Pai Yin, ibunya justru meminta Nico supaya menggugurkan saja kandungan Pai Yin.

    Nico yang berupaya untuk membawa Pai Yin ke Indonesia mengalami kegagalan karena Pai Yin sudah menghilang dari rumahnya. Upaya yang gigih dari Nico untuk mencari Pai Yin kandas. Namun tanpa sengaja, mereka bertemu di pesawat dalam penerbangan Surabaya ke Hongkong. Pai Yin ternyata telah menjadi pramugari. Pertemuan yang tidak disengaja ini membuat cinta mereka bersatu kembali. Nico akhirnya bertemu dengan anaknya. Mereka menjadi keluarga yang berbahagia. Kekuatan cinta antara Nico dengan Pai Yin telah mempertemukan mereka kembali.

    Novel ini terbit pertama kali tahun 2004. Tahun dimana orang-orang Tionghoa sedang mencoba kembali mengenali tradisi leluhur mereka. Di bagian penutup, Lan Fan menjelaskan latar belakang mengapa ia menulis kisah Nico dengan Pai Yin. Ia menyatakan bahwa konflik yang terjadi sebenarnya bukan hanya antara cina (saya memakai kata cina karena kata ini yang dipakai oleh Lan Fang) dengan pribumi. Tetapi konflik juga terjadi antar orang Tionghoa sendiri. Di kalangan Tionghoa juga terjadi pengkotak-kotakan berdasarkan seberapa dalam mereka memahami tradisi leluhur. Melalui novel ini Lan Fang membeberkan betapa rumitnya memahami kembali tradisi dan budaya yang sudah hilang.

    Memahami tradisi dan budaya yang sudah hilang berpuluh tahun memang tidak mudah. Namun cinta sering bisa menjadi pintu bagi upaya tersebut. 630



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.