The Pain of Almost - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Lionita Mustika

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 November 2021

Jumat, 12 November 2021 16:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • The Pain of Almost

    We cant forget someone we almost have

    Dibaca : 4.303 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat pertama kali aku melihatnya…

    Pertama kali aku menyadari keberadaannya di dunia ini.

    Aku harap saat itu aku tidak berdiri di sebelahnya…

    Dan kuharap dia tidak tinggal di hatiku selama ini.

     

    Suatu hari di bulan Agustus, tahun 2009. Aku berdiri di samping seorang cowok berperawakan tinggi, kurus, dan sangat putih. Badannya sedikit bungkuk dengan raut muka yang datar dan mata yang sangat sipit. Saat itu, aku sedang tergila-gila dengan Super Junior. Pada saat itu belum banyak yang menggilai band K-pop seperti sekarang. Tapi pasti kalian dapat membayangkan, bagaimana aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.

    Namanya Adit.

    Ia duduk di kelas X-7, sedangkan aku di kelas X-3. Hampir setiap istirahat makan siang, aku menyempatkan diri untuk melewati kelasnya. Hanya sekedar untuk melihatnya sedang melamun, atau mendengarkan music dengan headphone besar berwarna putih itu sambal mengayun-ayunkan tangan seolah sedang bermain drum. Saat melihatnya makan di kantin, aku tidak ragu untuk memaksa teman-temanku agar bisa duduk sedekat mungkin dengannya. Aku pun mencari tahu dari beberapa temanku, ia masuk klub apa. Tapi ternyata, ia tidak masuk klub manapun dan fokus pada bandnya dan perform dari stage satu ke stage berikutnya.

    Adit adalah seorang keyboardist.

    Saat ia mengupload video cover permainan keyboard di akun facebooknya, aku diam-diam mendownload dan mendengarkannya berulang-ulang di komputer rumahku. Meskipun ia memainkan lagu Dream Theater yang sama sekali tidak aku mengerti.

    Sebegitunya aku ngefans padanya.

    Di tahun berikutnya, aku sekelas dengannya di kelas XI IPA 6. Dia duduk dengan Rizal, teman dekatku. Aku girang sekali, berharap aku bisa memanfaatkan Rizal untuk mendekati Adit. Hari-hari masuk sekolah sangat aku nantikan, aku berangan-angan bisa mendekati Adit. Tapi… kenapa Adit selalu punya pacar? Ia terkenal sangat setia dengan pacarnya, Fanya. Fanya adalah ketua OSIS dari SMA sebelah, yang sesekali datang ke sekolah kami untuk melihat Adit perform. Ketua OSIS yang cantik, beda sekali denganku yang hanya seorang dancer dengan keringat di sana sini.

    Aku tidak pernah bisa punya moment untuk mengobrol lama dengan Adit. Dia sering main ke luar kelas dengan teman-teman satu bandnya, jarang sekali bergaul dengan teman-teman sekelas. Rizal bilang kepribadiannya memang agak aneh, makanya hanya bisa akrab dengan teman-teman tertentu saja. Parahnya lagi, kami tidak pernah ada dalam satu kelompok kerja yang sama.

    Satu-satunya moment terdekatku dengannya, hanyalah waktu kami ada di perjalanan ke Surabaya. Kami naik di satu mobil yang sama, ia duduk persis di sampingku. Saar itu, si supir menyetir dengan ugal-ugalan sehingga pundakku dan pundaknya sering beradu. Aku tak pernah merasa se deg-degan itu. Ulah supir saat itu membuat kami semua yang ada di dalam mobil berasa sedang naik kora-kora. Menakutkan, tapi menyenangkan. Dan, entah kenapa, Adit menyandarkan kepalanya di pundakku. Saat itu, aku diam membeku, tak tahu apa yang harus kulakukan. Setelah sepuluh menit aku membiarkannya, aku ingat muka Fanya dan hatiku merasa ini bukan tindakan yang benar. Aku lalu mengguncang pundakku untuk mengusirnya. Ia sempat mencubit lenganku lalu berkata “Ish.”

    Entah kenapa aku melakukannya. Harusnya aku biarkan saja kepalanya bersandar selama yang ia mau. Ternyata saat itu Adit sedang putus dari Fanya, dan aku baru mengetahuinya dari Rizal beberapa hari kemudian. Aku tentu segera bersiap untuk menggunakan kesempatan dan mendekatinya, namun, suatu siang aku mendengar Rizal bergossip di kelas membicarakan Adit yang sedang PDKT dengan Nia, adik kelas yang sangat popular.

    “Tapi kan Adit aneh, kasihan si Nia,” celetuk Sabrina, salah satu teman sekelasku.

    “Nggak kok, orang katanya si Nia emang udah ngefans lama sama Adit,” jawab Rizal.

    Aku hanya bisa mendesah dan memandangi bayanganku di kaca jendela kelas. Selama apa sebenarnya Nia ngefans dengan Adit? Aku sudah ngefans dengannya dari saat MOS sampai akhirnya kami lulus SMA. Kisah cintaku yang bisa dibilang hanya sebatas kisah fans dengan idolanya. Adit. Nama yang akan aku simpan dengan bingkai yang indah di dalam hatiku. Hingga saat kuliah pun, aku sesekali masih mengecek akun facebooknya. Adit telah berganti pacar, adik kelas SMA yang tak kalah cantik dari Nia.

     

     

    “Assalamualaikum, Shena. Ini aku Adit,”

    Suatu sore di tahun 2014, aku menerima pesan whatsapp itu Pesan yang muncul tanpa pernah ditunggu-tunggu. Kenapa Adit menghubungiku? Apa yang bisa aku bantu?

    “Adit? Adit ahong?”

    “Haha iya, Adit ahong. masih inget nggak?”

    Ini orang bercanda ya? Oh iya aku lupa, Adit tak pernah tahu aku menyukainya.

    “Shena gimana kabarnya sekarang?”

    “Baik. Adit gimana?”

    Adit yang sudah kulupakan, mengetuk hatiku dengan tanpa kuduga-duga. Aku tak pernah menyangka ia akan menyapaku dengan cara yang seperti ini. Adit yang tanpa kuminta, membuka dirinya padaku. Ia bercerita tentang Ayahnya yang meninggal dua tahun yang lalu, yang membuatnya sempat depresi. Ia juga bercerita tentang dirinya yang akhirnya mampu bangkit dari depresinya dan mengikuti program internship di Jepang. Ia sangat menyukai negara itu dan menceritakan pengalaman-pengalamannya. Aku kembali membuka akun facebook Adit yang sudah lama sekali tak pernah kukunjungi lagi. Aku menemukan foto-fotonya dua tahun yang lalu. Tubuhnya yang kurus, semakin kurus dan kucel. Ingin rasanya aku berada di sisinya saat itu dan menemaninya. Andai aku tak melupakannya, andai aku masih sengefans itu padanya.

    “Shena, Adit sebenarnya ingin serius dengan Shena,” katanya.

    Bak disambar gledek, kata-katanya membuatku kaku dan garuk-garuk kepala. Kami baru mengobrol via whatsapp selama lima hari, dan tiba-tiba ia mengatakan itu padaku.

    “Kenapa Shena, Dit?”

    “Karena Shena cocok buat Adit,” jawabnya singkat.

    Aku tak pernah mengatakan bahwa sebenarnya aku sedang punya pacar. Namun, aku langsung memutuskan pacarku sore itu juga. Aku mengatakan pada pacarku, bahwa aku menyukai orang lain. Ya, memang segila dan sesuka itu aku pada Adit. Aku tak mungkin lagi memiliki kesempatan seperti ini. Aku ingin memilikinya, Aditku.

    Aditku yang kusayang, sayangnya ia tak seperti ekspektasiku yang sudah bertahun-tahun kubangun. Karena aku sangat menyukainya, aku selalu mengalah padanya. Aku mengalah saat ia ingin hubungan kami dirahasiakan saja. Aku mengalah saat ia tidak menghubungiku hingga berhari-hari dengan dalih ia memang orang yang seperti itu. Aku memendam rasa tersinggungku saat ia mulai mengkritik penampilanku dan memintaku kebih merawat wajahku dan bahkan menawarkan membiayai perawatan Aku mengalah naik kereta ke kotanya demi menemuinya. Adit yang kucinta. Saat bertemu dengannya, semua sakit hatiku sirna. Aku menghabiskan waktu terindah bersamanya, dan sedih sekali saat harus pulang ke kotaku. Meskipun hanya hubungan jarak jauh, aku sangat mengangaap hubunganku dengan Adit begitu istimewa. Meskipun ia tak pernah ada saat aku susah.

    Namun, kekosongan itu selalu ingin diisi oleh orang lain.

    Mungkin karena aku selalu mengalah dan memendam kekecewaanku padanya hanya agar hubungan kami terlihat baik-baik saja, aku menjadi sungai yang kering. Diego, salah seorang kakak kelas yang memang sudah lama mendekatiku, akhirnya perlahan-lahan mencuri hatiku dengan perhatiannya. Ia mengantarkanku dari Bogor ke Jakarta, saat aku masih takut untuk pergi ke Jakarta sendirian. Ia bahkan melewatkan interview kerja hanya untukku. Ia membantuku memperbaiki laptopku yang bermasalah, menjemputku di kala hujan, dan yang terpenting, menerimaku apa adanya.

    Sore itu di perpustakaan, diam-diam aku menitikkan air mata sendirian. Aku memutuskan hubunganku dengan Adit via whatsapp. Adit langusng menerima keputusanku tanpa pernah bertanya apa alasanku, Ia tak pernah menahanku bahkan langsung memblock kontakku saat itu juga. Mungkin memang hanya sesepele itu aku di matanya. Tapi, aku tak membencinya. Ekspektasikulah yang melukaiku. Adit tak pernah melukaiku. Aku hanya menyukainya tanpa tahu bahwa aku tak cocok untuknya.

     

     

    “Assalamualaikum, Shena. Minal aidzin wal faidzin, maafkan segala kesalahan Adit ya Shen,” sebuah pesan via Instagram dari Adit kuterima pada Idul Fitri tahun 2018. Ya, kami masih saling follow setelah kami putus bertahun-tahun yang lalu.

    “Waalaikumsalam Adit, minal aidizn wal faidzin juga, selamat lebaran buat Adit dan keluarga,” jawabku. Rasa rinduku kemudian memuncah hanya dengan sebaris pesan darinya.

    “Shena sudah lulus?” tanyanya.

    “Sudah, sekarang Shena udah kerja di Kementerian,” jawabku.

    “Wah, tembus Kementerian? Bukannya dulu Shena pengen kerja di developer?”

    Ternyata Adit masih ingat.

    “Iya, tahun kemarin Shena kerja di developer, tapi udah resign,” jawabku lagi.

    “Seandainya kita masih pacaran, tahun 2016 aku ke rumah kamu, tahun 2018 aku lamar kamu,” ucapnya.

    Aku tahu dia selalu serius denganku.Percakapan itu tidak asing bagiku. Sudah tidak mengejutkan untukku.

    “Tapi sayangnya kita putus,” jawabku. “Seandainya waktu itu kita balikan lagi.”

    “Shena, Adit nggak berani ngajak kamu balikan. Adit sadar udah nggak bisa ngejaga perasaan Shena waktu masih pacaran sama Adit.”

    “Dit…” jawabku menggigit bibirku dengan keras, “Shena juga nggak ngehubungin Adit lagi karena Shena udah mutusin Adit, Shena udah ngelukain Adit.”

    “Shena sekarang dimana? Apa boleh Adit ketemu sama Shena? Meskipun Shena jauh di Jakarta, Adit bakalan kesana.”

    Tak kuduga air mataku akan mengalir. Tak kusangka aku masih menyukainya sebesar ini. Kukira aku tak akan bergetar lagi karenanya. Tapi hanya karena pesan ini saja… aku….

    “Adit,” jawabku tercekat. “Shena udah nggak bisa, Shena nikah dua bulan lagi.”

    Besar ku berharap ia kali ini akan menahanku dengan lebih erat. Sedikit saja aku mendengar rayuannya, tentu aku akan goyah.

    Namun, Adit tetaplah seperti itu. Dingin dan jauh.

    “Baiklah Shena kalau begitu. Semoga bahagia ya.”

     

    Semoga bahagia.

    Aku pasti akan lebih bahagia, jika saat itu kau tak menghubungiku, Dit….

    Kenapa kau harus memiliki rasa yang tak sedalam milikku?

    Aku ingin kau mencintaiku lebih dari cintaku padamu. Sehingga aku tak melukai diriku sendiri, seperti yang kulakukan saat aku memilikimu.

    Aneh sekali. Bahkan ketika dua orang saling jatuh cinta, bahkan ketika mereka tak saling menghianati, bukan berarti semua bisa berjalan dengan indah.

     

     

    Musim dingin 2021. Aku sudah tak lagi menggunakan cincin pernikahanku. Diego tidak lama berada di sisiku, aku kehilangannya saat gelombang covid-19 di Jakarta. Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar dari kesedihan dan melanjutkan hidup. Musim dingin kali itu, aku sudah lima bulan tinggal di Tokyo. Aku melanjutkan studi masterku disini, sambil mengobati hati. Hari itu, pertama kalinya aku merasakan turunnya salju. DInginnya mengingatkanku padanya.

    “Shena?”

    Seseorang memanggilku dengan pelan. Aku memandang sosoknya yang hampir tak kukenali, kecuali karena muka yang datar dan mata yang sipit itu.

    “Adit?”



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali