Tanya yang Terjawab - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Cendekiawan. Ilustrasi dari Convegni Ancisa, Pixabay

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 14 November 2021 16:12 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tanya yang Terjawab

    Setiap hari aku lihat ia berjalan seperti itu. Orang-orang selalu menyebutnya orang gila, karena memang penampilannya cukup memenuhi syarat untuk itu.

    Dibaca : 393 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    TANYA YANG TERJAWAB

    By. Em Fardhan

    .

           Lelaki bertampang dekil dan berbaju lusuh itu tengah berjalan dengan gontai. Hiruk pikuk jalanan ibu kota seperti tak di hiraukannya. Meski langkah kakinya terlihat begitu berat dan terseok-seok, terlihat ringkih dan mudah diterpa angin, tetapi kalau di perhatikan lebih teliti, sesungguhnya ia berjalan amat kukuh. Kakinya seperti menancap ke dalam bumi. Sorot matanya terlihat begitu tajam, membuat siapa pun yang beradu pandang dengannya menjadi gentar.

    Setiap hari aku lihat ia berjalan seperti itu. Orang-orang selalu menyebutnya orang gila, karena memang penampilannya cukup memenuhi syarat untuk itu.

    Setiap ditanya oleh orang yang simpati kepadanya akan kemana, selalu ia menjawab dengan pertanyaan pula, "Di mana Tuhan?". Itu yang selalu di suarakannya. 

    "Pasti tidak kuat dengan ilmunya," fatwa seorang anak muda dengan temannya pada suatu hari.

    "Mungkin ia belajar ilmu tinggi tapi tanpa guru, jadinya tersesat dan gila!" bisik Kang Tarjo, seorang tukang parkir yang biasa melihatnya.

    "Barangkali dia dulu bekas preman, sudah tobat dan sedang menjalani tirakat," ujar Pak Sholeh salah seorang satpam bank koperasi.

    Begitulah. Ia dinilai banyak orang dengan tuduhan yang macam-macam. Bukannya ia tak tahu, ketika orang-orang itu membicarakannya justru ketika lelaki itu lewat, tetapi sepertinya ia hanya tak mau tahu.

    Seperti biasa kalau siang menjelang, ia mampir di kedai Yu Minah, untuk makan siang. Aku tahu karena aku juga langganan di warung itu. Anehnya, ia selalu membayar dengan uang, tak mau ia meminta-minta. Lelaki gelandangan itu bisa punya uang darimana? Mencuri kah? Diberi orang kah? Entahlah. Yang pasti, setiap ia makan di kedai itu --meski selalu ia pesan menu yang sederhana-- ia selalu membayarnya. Setiap di beri gratisan oleh Yu Minah atau pengunjung yang kebetulan makan di tempat itu selalu saja ia tolak. 

    "Aku bukan pengemis!" katanya singkat.

    "Gelandangan tak tahu terima kasih!" umpat salah satu pengunjung.

    "Sudah miskin, belagu! Sombong!" hardik pengunjung yang lain.

    Tetapi seperti biasa, lelaki itu diam saja. Aku juga diam, lelaki itu tampaknya juga tak butuh dibela. Buktinya ia hanya diam saja dihina sedemikian rupa.

    Hingga pada suatu hari. Aku tak lagi melihat kemunculannya, baik berjalan di pinggiran jalan yang biasa ia berkeliaran, atau di warung Yu Minah ketika tiba makan siang. Aku seperti merasa kehilangan, mungkin karena setiap hari aku melihatnya, dan diam-diam mengaguminya. Mengagumi apa, entah. Aku juga tak bisa menjawabnya.

    Sampai beberapa hari kemudian lelaki itu tak nampak juga batang hidungnya. Tiba-tiba aku merasa kangen. Semoga lelaki itu baik-baik saja. Pikiranku sempat berkeliaran kemana-mana. Jangan-jangan dia sakit, tertabrak, di tusuk, dan banyak sekali ketakutan-ketakutanku tentang kemungkinan buruk yang menimpanya.

    Entah kenapa ada perasaan seperti itu. Padahal ia bukan salah satu dari keluarga, atau kerabatku. Teman pun bukan. Hanya aku sudah mengamatinya cukup lama. Dan rasanya hanya aku yang tak menilainya gila. Sejujurnya aku tak mengerti gila bagaimana yang orang-orang itu maksud? Ia tak meminta, tak mengganggu, dan tak membahayakan orang lain. Apakah hanya karena penampilannya buruk dan pakaiannya lusuh itu ia dianggap gila? Sedangkan mereka yang mengaku waras tetapi merugikan orang lain tetap dianggap waras? Apakah penampilan telah menjadi tolak ukur utama untuk menilai seseorang? 

    Aku hanya berpikiran bahwa lelaki itu mungkin seorang musafir, yang tak memiliki keluarga atau sanak saudara. Itu saja.

    Hari kian berlalu, dan aku tak kunjung jua melihatnya. Aku semakin kangen saja dengannya. Rasannya kini aku seperti kehilangan sesuatu dari bagian hidupku sendiri. Tetapi bagian mana? Entahlah, aku tak tahu pasti. Sebab rasa seringkali tak bisa diuraikan dengan kata-kata.

    "Assalamu'alaikum ...." Tiba-tiba uluk salam terdengar di kedai Yu Minah. Aku yang tengah mengunyah semangkuk soto terpaksa menelan cepat untuk menjawabnya.

    "Waalaikumussalam warahmatullah ..." Aku menjawab salam sembari melirik sang pemilik uluk salam tadi: seorang lelaki paruh baya dengan tampilan formil bak manager suatu perusahaan bonafid. Jasnya terlihat tebal. Kutaksir pasti harganya cukup mahal. Penjahitnya pun pasti kelas satu. Mataku kemudian menyapu bagian bawah, celana hitam licin, dan sepatu yang mengkilap. Dan wajahnya, astaga! Bukankah dia ….

    Lelaki itu duduk di sebelahku setelah usai menyalamiku. Kemudian ia memesan sesuatu yang tidak asing bagiku, sebab menu seperti itu tidak ada lagi yang pesan selain orang itu.

    "Apakah, Bapak ...?" Setelah mengamatinya cukup lama, aku memberanikan diri bertanya.

    "Ya, Nak. Kau masih mengenaliku rupanya?" jawabnya sembari tersenyum manis, tetapi tak memudarkan sedikitpun kewibawaannya.

    "Kok bisa?" hanya ucapan bodoh itu yang bisa aku keluarkan.

    "Apa yang tidak bisa, kalau Dia berkehendak apapun pasti terjadi, bukan?" ia menjawab pertanyaanku seperti ringan saja, tidak tahu bahwa begitu terheran-heran setengah mati.

    "Apakah bapak telah menemukan apa yang bapak cari selama ini?" aku mulai bisa bertanya dengan tenang. Aku ingat bahwa kemarin-kemarin hanya itu yang dicarinya.

    Setelah menyeruput teh tawarnya, ia menjawab, "Alhamdulillah, sudah."

    "Dimana, Pak? Boleh tau?" tanyaku penasaran juga.

    Sejujurnya, dalam lubuk hatiku yang terdalam apa yang tengah dicari lelaki itu juga mewakili keresahanku. Hanya saja mungkin hati dan jiwaku telah begitu letih oleh urusan duniawi, sehingga kerinduan itu tersingkir dan terselip entah di mana.

    "Di belakangmu." Dia menjawab masih dengan santai.

    Spontan aku menoleh ke belakang, tapi kosong. Hanya geribik bambu warung Yu Minah yang mulai usang dimakan waktu.

    "Jangan bercanda, Pak. Aku bertanya serius. Meski banyak orang yang menganggap bapak gila sebelumnya, tetapi aku tidak begitu, kok." Aku berkata seperti itu untuk menunjukkan aku simpati kepadanya, agar ia tak menganggapku tengah bercanda dengannya.

    Lelaki itu kembali tersenyum. Ia memandangku lekat. Matanya seperti menembakku dengan telak. 

    "Kalau kamu menoleh ke belakang, arah yang tak kau toleh itu menjadi belakang. Begitu kau menoleh kemana pun akan seperti itu. Jadi mana mungkin kau bisa melihat-Nya dengan matamu? Kau hanya bisa menangkap-Nya dengan cinta, ,dengan hatimu, bukan dengan matamu …."

    Lelaki itu terus berbicara panjang lebar, ia mengucapkannya dengan begitu tenang, tetapi di telingaku perkataannya terasa jelas dan menggema, seolah yang berkata itu adalah aku sendiri, sehingga bisa dengan jelas ku tangkap maknanya. Suaranya yang berwibawa itu seperti menggedor-gedor relung jiwaku. Tubuhku menjadi gemetar, keringatku mengucur. Aku mendengarnya seperti dihujani ribuan anak panah yang kemudian membuatku menangis terisak-isak. Sampai aku tak kuat lagi, dan menjadi gelap, aku tak sadarkan diri.

    ***

           Setelah siuman, aku menyadari kalau aku masih di kedai Yu Minah. Katanya tadi aku mendadak pingsan. Aku mulai mengingat kenapa aku bisa pingsan, oh, ya! Mana lelaki itu?

    "Yu, lelaki pakai jas yang ngobrol denganku tadi kemana?" Karena penasaran aku bertanya kepada Yu Minah.

    "Lelaki siapa to, Mas. Kamu kan tadi hanya di sini sendirian, terus tiba-tiba pingsan gitu, lho."

    Apa! Sendirian?

    "Jangan bercanda, Yu!" Aku melotot.

    "Mas, saya ini pedagang, bukan pelawak, buat apa bercanda. Mas yang jangan bercanda sama orang tua kaya saya, saya nggak ada waktu bercanda sama situ, " jawab Yu Minah sembari memberesi piring-piring kotor sisa makan para pengunjung. Benar juga, buat apa Yu Minah berbohong, tak ada untungnya juga.

    "Jadi beneran nggak bercanda, Yu. Masa tadi nggak lihat orang datang pakai jas dan pesan makanan. Lalu ngobrol denganku, Yu?" Aku masih belum percaya.

    "Demi apapun, Mas. Jangan aneh-aneh, ah! Lagipula apa untungnya aku berbohong, Mas? Nggak ada to?"

    Aku tak menjawab pertanyaan Yu Minah. Kuhempaskan badanku ke kursi yang aku duduki tadi ketika ngobrol dengan lelaki misterius itu. Mataku terbelalak ketika ada sebuah lipatan kertas di meja tempatnya ia tadi makan. Aku raih kertas itu, dan kubuka. Isinya sebuah tulisan Arab: laisa kamitslihi syaiun.

    Dan pandanganku mendadak gelap lagi.

     

    TAMAT.

     

    Surakarta, O5 Oktober 2021

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.