Timnas Piala AFF Dicegah FIFA, Digembosi PT LIB, Diremehkan Vietnam, Tak Dipandang Malaysia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

STy

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 14 November 2021 16:14 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Timnas Piala AFF Dicegah FIFA, Digembosi PT LIB, Diremehkan Vietnam, Tak Dipandang Malaysia

    Semangat STy dan pasukan, diremehkan Vietnam, dipandang sebelah mata oleh Malaysia, dan digembosi oleh PT LIB dan Klub Liga 1, semoga di bawah tangan Anda, STy, Garuda dapat meraih trofi Piala AFF yang perdana. Aamiin. STy dan Indonesia, yakin bisa!!!

    Dibaca : 352 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jelang Piala AFF 2020 yang akan bergulir Desember 2021 di Singapura, timnas Indonesia, ternyata terus menjadi sorotan. Terbaru, media Vietnam Thethao247, secara terang-terangan menyebut bahwa FIFA cegah Timnas Indonesia untuk raih gelar Piala AFF 2020. Tulusan dalam Thethao247, media olahraga Vietnam yang cukup mengemuka di ASEAN ini tak pelak langsung dikutip oleh beberapa media di Indonesia.

    Sepertinya, Thethao247 akan terus mengulik timnas Indonesia dari segala sisi, sebabnya dalam tubuh timnas Indonesia kini ada Shin Tae-yong (STy). Selain itu, dalam pemberitaannya, tersirat pesan antara was-was hingga intrik meremehkan yang sejatinya itu semua ditujukan untuk apa.

    Bila ditelisik, Thethao247 pun menyebut bahwa musuh timnas Vietnam telah dicegah oleh FIFA dalam ambisinya meraih gelar Piala AFF. Kata musuh tentu dimaksudkan karena keduanya berada dalam Grup yang sama, yaitu grup B Piala AFF 2020.

    Mengapa dicegah FIFA?

    Apa yang ditulis thethao247, ternyata karena Thethao247 mencium juga adanya larangan FIFA teerhadap salah satu pemain naturalisasi Indonesia, Marc Klok, untuk membela Timnas di ajang Piala AFF 2020, karena sebab dokumen yang belum dilengkapi.

    Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Seolah Thethao247 memukul FIFA, tetapi sebenarnya memukul lebih keras Indonesia. Pasalnya, thethao247 juga menilai bahwa Marc Klok belum cukup lama tinggal di Indonesia, kurang dari lima tahun (sejak gabung ke PSM Makassar di tahun 2017). Padahal syarat membela Timnas wajib lebih dari lima tahun. Jadi, sejatinya, sepertinya, Thethao247 sedang mengejek Indonesia karena mau memasukkan pemain naturalisasi yang belum memenuhi syarat, demi dapat bersaing dengan Vietnam.= Sebelumnya, media ini juga sudah meremehkan timnas Indonesia karena menulis berita dengan judul Raja Runner-up Piala AFF tidak Memberi Tekanan pada Pelatih.

    Tak hanya Thethao247 yang terus mengulik timnas Indonesia, pasukan STy pun dipandang sebelah mata oleh pelatih Timnas Malaysia, di Piala AFF 2020 kali ini.

    Sikap meremehkan dan memandang sebelah mata itu, sejatinya saya yakini hanyalah psywar (perang urat syaraf) oleh mereka, pasalnya kini Pengawa Garuda ditukangi oleh STy, yang dalam kiprah terbarunya, berhasil memoles timnas senior dan mampu melibas Taiwan dalam play-off Kualifikasi Piala Asia 2023. Siginifikan pula saat menakodai timnas U-23 yang hanya kalah tipis dari timnas Australia yang memiliki ranking 34 di FIFA.

    Artinya, sikap meremehkan dan memandang sebelah mata itu, hanya bagian dari permainan kata-kata, karena sebenarnya, mereka kini juga was-was dengan timnas Indonesia.

    Mengapa TheThao247 menyebut Raja Runner-up Piala AFF tidak Memberi Tekanan pada Pelatih? Ternyata hal itu cukup beralasan. Faktanya, pencapaian tertinggi timnas Indonesia di Piala AFF selama ini, hanya bisa meraih juara kedua.

    Sejak Piala AFF pertama kali bergulir pada 1996, Garuda memang belum pernah sekalipun menyabet trofi di ajang ini. Prestasi paling hebat adalah menjadi runner-up sebanyak lima kali, yaitu pada 2000, 2002, 2004, 2010, dan 2016. Padahal ada 4 negara yang pernah sukses memboyong pulang trofi Piala AFF. Mereka adalah Thailand (5 kali), Singapura (4 kali), Vietnam (2 kali), dan Malaysia (1 kali).

    Lebih miris, TheThao247 juga mencium bahwa target yang diusung timnas Indonesia di Piala AFF edisi ke-13 ini tidak ada. Hal ini dikutip dari pernyataan Sekjen PSSI, Yunus Nusi yang menyebut tidak memberikan target khusus bagi STy untuk menjuarai Piala AFF 2020. Meski begitu, STy tetap bertekad akan membuat yang terbaik dan maksimal di Piala AFF.

    Ironisnya lagi, TheThao247 menyebut pernyataan Yunus Nusi berseberangan dengan keinginan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan yang menargetkan timnas Indonesia juara.

    TheThao247 pun langsung menyindir bahwa target Indonesia menjuarai Piala AFF 2020 terlalu tinggi karena akan bertemu lawan-lawan yang berat di Grup B, seperti Vietnam, Malaysia, Kamboja, dan Laos. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir Garuda dianggap tidak mempunyai prestasi menonjol di sepak bola.

    Bahkan TheThao247 pun kembali menyindir dan menulis, tidak ada tim di Asia Tenggara saat ini yang bercita-cita menjadi juara Piala AFF seperti Indonesia. Indonesia adalah tim runner-up terbanyak dengan 5 kali mencapai final tetapi semuanya harus kalah. Sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga tidak punya prestasi yang menonjol, selain sekadar meraih medali perak pada cabang olahraga sepak bola putra pada Sea Games ke-30 di Filipina 2019.

    Setali tiga uang dengan TheThao247, pelatih Malaysia menyebut bahwa Vietnam menjadi lawan yang perlu dikhawatirkan di kawasan Asia Tenggara, Indonesia justru tidak disebut sama sekali. Padahal, ketiga negara berada di grup yang sama. Terlebih lagi, Skuat Garuda sering menjadi batu sandungan Harimau Malaya di berbagai turnamen regional.

    “Meskipun kami tidak pernah menang dalam beberapa pertandingan melawan Vietnam secara keseluruhan kami tidak jauh berbeda. Saya pikir di kawasan Asia Tenggara, Vietnam dikhawatirkan oleh tim kami,” ujar Cheng Hoe dilansir dari NST, Selasa (9/11/2021).

    Dari pernyataan Cheng Hoe, tersirat bahwa dia tak mamandang timnas Indonesia sama sekali. Luar biasa. Tetapi benarkah begitu? Atau pernyataannya memang disengaja karena dalam hatinya sudah was-was dengan timnas Indonesia karena ada STy. Dan Cheng hanya sekadar menghibur dan menenangkan diri.

    Digembosi PT LIB dan Liga 1

    Sudah diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh Vietnam dan Malaysia, nasib timnas Indonesia pun digembosi oleh PT LIB dan para manajer Liga 1. Apakah STy harus menerima pengalaman yang sama, merasakan pembatasan pemanggilan pemain timnas Indonesia seperti yang dialami Alfred Riedl.

    Pasalnya, atas kepentingan-kepentingan yang bukan untuk atas nama negara, PT Liga Indonesa Baru (LIB) rupanya lebih mendengarkan keluhan Klub Liga 1 daripada kepentingan timnas. Bahkan PT LIB sampai mengambil langkah tegas dalam manager meeting Klub Liga 1, Jumat (5/11/2021) demi membatasi STy memanggil pemain untuk timnas.

    Hasilnya, STy dipastikan tak bisa memanggil pemain terbaik Indonesia sesuai pilihannya demi membela Garuda di Piala AFF 2020, karena dibatasi hanya boleh memanggil paling banyak dua pemain dari tiap klub Liga 1 agar tidak "mengganggu" jalannya kompetisi.

    Aneh kebutuhan pemain untuk timnas, justru dianggap mengganggu Klub Liga 1. Di mana nasionalime PT LIB dan para manajer/pelatih Klub Liga1? Sementara, Vietnam sampai menjuluki Indonesia Raja Runner-up, pelatih Malaysia pun tak memandang Indonesia. Sangat kontradiksi dengan kenyataan.

    Seharusnya PT LIB dan Klub Liga 1 Mendukung timnas yang terus jadi bulan-bulanan Vietnam dan Malaysia baik di luar lapangan maupun di dalam lapangan.= Benar, Piala AFF tidak masuk kalender FIFA, tetapi dia adalah gengsi sepak bola di Asia Tenggara, Indonesia belum pernah sekalipun memboyong pialanya, karena Klub tak nasionalis dan mementingkan bisnis.

    Memilukannya lagi, pemanggilan pemain oleh STy pun sempat diprotes pelatih Liga 1, padahal pemain itu memang dibutuhkan dan layak berada di timnas.

    Bukannya membela timnas, PT LIB justru lebih memilih mendengar keluhan Klub, sehingga mengambil langkah tegas dalam manager meeting, Jumat (5/11/2021).

    "Liga 1 jalan terus bersamaan dengan Piala AFF, ketika manager meeting dibahas apakah Liga 1 mau dihentikan atau tidak," ungkap Direktur Utama PT LIB Akhmad Hadian Lukita (8/11/2021).

    "Ternyata, klub sepakat Liga 1 tetap berjalan dengan catatan jumlah pemain dari setiap tim yang bisa ditarik ke tim nasional maksimal dua orang," jelasnya. Pembatasan tersebut bukan pertama kali terjadi bagi timnas Indonesia di ajang Piala AFF.

    Tentu kisah ini menjadi ulanga pembatasan yang sama pada Piala AFF edisi 2016 saat ditukangi mendiang Alfred Riedl. Piala AFF 2016 digelar bersamaan dengan kompetisi Indonesia Soccer Championship 2016. Karena dibatasi, maka Alfred Riedl hanya mampu membawa Indonesia menembus babak final. Di final, ditekuk oleh Thailand pada babak final dengan skor agregat 3-2.

    STy legowo

    Atas kondisi yang tak nasionalis ini, STy pun sepertinya legowo dan mematuhi pembatasan di atas dengan memanggil maksimal dua pemain dari satu klub. Cara lainnya, dengan materi pemain lokal yang terbatas, STy akan sangat mengandalkan pemain yang berkarier di luar negeri.

    Semangat STy dan pasukan, diremehkan Vietnam, dipandang sebelah mata oleh Malaysia, dan digembosi oleh PT LIB dan Klub Liga 1, semoga di bawah tangan Anda, STy, Garuda dapat meraih trofi Piala AFF yang perdana. Aamiin. STy dan Indonesia, yakin bisa!!!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.