Satu Kata kesetiaan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Mainani (Rosewell)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Minggu, 14 November 2021 16:19 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Satu Kata kesetiaan

    Mahligai pernikahan yang di warnai dengan cinta,kesedihan,dan kesetiaan.

    Dibaca : 5.544 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    CERPEN : SATU KATA KESETIAAN

    Sebuah keindahan pelangi di lihat dari jutaan warna yang menghiasinya. Begitu pula dengan pernikahan akan indah di hiasi dengan cinta, kesedihan, kejujuran, kesetiaan yang menjadi warna saat mengarungi bahtera rumah tangga.

    Kebahagiaan rumah tangga dan hidup berkecukupan itu yang sekarang kami punya, tidak ada lagi yang aku harapkan dalam hidup serasa ini semua sudah cukup bagiku. Mendapatkan suami setia yang mencintaiku sepenuh hati merupakan anugerah paling indah.

    Namun, hari itu rusak dalam sehari saat suamiku berkata ingin menikah lagi. Derai tangis air mata tumpah seketika itu menahan luka hatiku.

    7 Tahun yang lalu.

    Aku Tania seorang wanita kampung yang menerima lamaran seorang pemuda kota Mas Dirga. Setelah menikah hidup kami diuji dengan bisnis Mas Dirga yang di ambang bangkrut. Saat itu dia malah bekerja serabutan untuk membiayai kehidupan kami. Bahkan terkadang aku harus pinjam uang sana sini untuk menutupi kekurangannya.

    "Mas... bagaimana buat makan besok, aku tidak mungkin pinjam mbak Arin lagi yang kemaren saja belum bisa di bayar." Ucapku. Mbak Arin adalah sepupuku yang tinggal di kota. hidupnya memang lebih berada ketimbang aku.

    "Sabarlah dek, Mas lagi usaha kan juga. Mau bagaimana mandor ku belum membayar gaji mas.." Mas Dirga tertunduk lemas, bingung mau berbuat apa.

    Mataku serasa berkaca - kaca saat itu namun kutahan, agar tidak menjadi beban lagi bagi Mas Dirga. Aku ingin sekali bekerja namun bagaimana dengan Fatimah anakku dan mas Dirga. Dia masih berusia 2 tahun tidak mungkin untuk aku tinggal bekerja. Lagi pula mas Dirga tidak mengizinkan aku bekerja. Karena tanggung jawab nafkah di tangan suami. Sebelum bisnis Mas Dirga jatuh kehidupanku masih bisa di bilang cukup.

    "Dek, maafkan mas ya saat ini tidak bisa memberikan kehidupan yang layak buat mu." Ucapan mas Dirga seketika membuyarkan lamunanku.

    "Ya mas, semoga semua cepat berlalu." Sebenarnya saat itu serasa aku tidak sanggup lagi apalagi mendengar rengekan putri kami yang sering minta jajan tapi aku tidak bisa memberikan.

    "Bu, Fatimah haus minta susu.." Fatimah bangun dari tidur siang mengucek mata nya dan bermanja di pelukan ku.

    Betapa rasanya saat itu aku ingin menangis mendengar permintaannya, bagaimana tidak, di dapur sudah tidak ada stok susu lagi.

    "Fatimah, putri ibu paling cantik ibu buat kan teh saja ya, susu nya lagi habis di warung tadi ibu sudah ke sana mau membeli." Ucapku, terpaksa berbohong pada putri kecilku.

    Fatimah mengangguk."Tapi kapan susu nya ada bu ?" Ucapnya lagi.

    "Nanti nak, bapak berangkat kerja dulu pulang kerja bapak bawakan susu buat kamu ya." Ucap Mas Dirga.

    Ku lirik mas Dirga seraya melarang nya jangan berjanji pada Fatimah.

    Beginilah kehidupan yang ku jalani, Aku berusaha tegar dan kuat berdiri mendampingi mas Dirga.

    Sore itu aku di kejutkan lagi mas Dirga pulang ke rumah dengan luka di kakinya. Dia berjalan setengah pincang.

    "Mas ada apa kenapa bisa begini ?" Tanyaku sembari memapahnya duduk.

    "Tadi ada bapak tua hampir saja terserempet motor dek, aku menolongnya jadi kakiku sedikit terluka."

    "Ya Allah mas kenapa sampai terluka begini, sekarang mau bagaimana kamu bekerja ?" jujur saja saat itu betapa aku bingung setegah mati, dengan kondisi begini bagaimana mas Dirga mau bekerja sementara kebutuhan rumah sudah mau habis itupun sudah sangat aku irit.

    "Sabar ya dek, masalah keperluan rumah coba kamu ke warung depan hutang dulu, ambil seperlunya saja nanti ada uang mas bayar."

    "Mas hutang yang ada saja belum di bayar, aku malu mas."Aku tertunduk lemas tidak tau mesti berbuat apa. Melihat kondisi mas Dirga seperti itu sangat dzalim kalau aku memaksanya bekerja.

    Akhirnya kuputuskan meminjam uang lagi sama mbak Arin, biarlah rasa malu ini ku tahan, habis mau bagaimana lagi.

    Di tambah lagi rengekan Fatimah yang menagih janji bapaknya membawakan susu buat dia. Aku juga tidak bisa menyalahkan anak sekecil Fatimah untuk memaksanya mengerti keadaan orang tua.

    Syukurlah mbak Arin saat itu mau meminjamiku sedikit uang. Beberapa hari mas Dirga hanya di rumah saja sembari memulihkan kakinya.

    Sementara kebutuhan rumah sedikit demi sedikit semakin berkurang.

    Aku melamun duduk di teras kemana lagi harus meminjam uang, rasanya sangat malu sudah aku harus menadahkan tangan lagi ke mbak Arin.

    Tiba - tiba sebuah mobil berhenti di halaman rumahku. Seorang pemuda berpakaian rapi, diiringi bapak tua keluar dari mobil mewah nya. "Permisi, benar ini rumah Pak Dirga ?" Tanya pemuda itu. Aku dengan sigap berdiri menghampiri.

    "Ya benar, mas siapa ? ada perlu apa dengan suami saya ?" Tanyaku heran.

    "Bisa saya bertemu pak Dirga ?"

    "Bisa mas, silahkan masuk." Aku mempersilahkan mereka masuk dan segera memanggil mas Dirga.

    Ekspresi mas Dirga terkejut melihat mereka seakan mas Dirga sudah mengenalnya. "Pak bagaimana bisa tau alamat rumah saya." Ucap Mas Dirga menyapa bapak tua di samping anak nya.

    "Kami menanyakan dengan mandor di tempat pak Dirga bekerja."Ucap pemuda itu.

    "Ada perlu apa bapak dan mas kemari ?"

    Aku yang sedari tadi duduk di samping mas Dirga pun penasaran.

    "Perkenalkan saya Dani anak dari pak Junaidi, kami ke sini mau mengucap kan terima kasih pada pak Dirga karena sudah menolong ayah saya yang hampir saja ketabrak motor."

    Mas Dirga tersenyum."Sudah kewajiban sesama mas untuk saling tolong menolong."

    Kemudian Pemuda itu beranjak dari duduknya keluar memanggil sopirnya.

    Sontak mataku terbelalak saat itu sopirnya masuk membawa banyak sembako dan kebutuhan rumah yang lain.

    "Apa ini mas kenapa banyak sekali." Ucap mas Dirga yang bingung sama halnya dengan ku."

    "ini hanya sekadar ucapan terima kasih dari kami."

    "Tidak perlu seperti ini mas Dani, saya menolong ikhlas." Mas Dirga ragu menerima semua ini.

    "Tolong pak jangan menolaknya." Ucap Dani.

    "Ya nak saya sudah selamat sehat seperti sekarang berkat pertolongan kamu." Sahut pak Junaidi.

    "Tidak pak, saya cuma perantara saja kebetulan lagi ada di situ."

    Mas Dani tersenyum pada kami sembari mengeluarkan amplop coklat besar.

    "Tolong jangan tolak pemberian kami, dan ini sedikit rezeki buat keluarga dan anak pak Dirga." Dia menatap Fatimah yang tengah asik bermain di teras saat itu.

    Aku dan Mas Dirga saling berpandangan, serasa tak percaya dengan apa yang ada di depan kami.

    Selang beberapa menit mereka berpamitan pulang.

    Aku dan mas Dirga masih seolah tidak percaya dengan semua ini, rumahku penuh dengan sembako bahkan untuk stok beberapa bulan akan tercukupi. Ku tatap amplop coklat yang ada di meja, sembari memandangi mas Dirga.

    Rasanya tanganku saja masih gemetaran melihat semua pemberian mereka yang memenuhi rumah.

    Di buka Mas Dirga amplop itu perlahan dan ku lirik isinya.

    Astaghfirullah....sontak aku dan mas Dirga bersamaan terkejut melihat uang sebanyak itu di dalam amplop.

    "Mas bagaimana ini ?" Tanyaku gemetar.

    "Mungkin ini rezeki dari Allah, dan jawaban dari doa kita juga kesabaran kamu selama ini." Seketika itu aku menangis terisak memeluk mas Dirga. Rasa syukur yang begitu besar kami panjatkan pada Allah atas semua rezeki yang telah di berikan pada kami saat ini.

    Mungkin ini lah yang di katakan orang akan ada pelangi indah setelah hujan badai, begitu pula kehidupan akan ada kebahagian setelah kesulitan mendera.

    Uang yang kami dapat kan kami pakai untuk modal membangun kembali bisnis Mas Dirga lagi..

    Selang 5 tahun bisnis mas Dirga maju pesat bahkan kami memiliki beberapa cabang di kota lain. Kehidupan kami berkecukupan bahkan lebih.

    Apapun yang bidadari kecil kami minta aku bisa penuhi.

    Namun tepat usia 7 tahun pernikahan kami, serasa di sambar petir di tengah hari terik mendengar permintaan mas Dirga yang ingin menikah lagi.

    Aku menangis terisak, seluruh bulir air mata banjir tumpah saat itu. "Kenapa harus menikah lagi mas ? Apa salahku sama kamu tolong katakan akan aku perbaiki ?" Aku benar-benar tidak bisa ikhlas dengan permintaannya yang satu ini.

    "Kamu tidak pernah punya salah padaku, Insya Allah aku bisa adil terhadapmu!" Ucapnya.

    "Kalau aku tidak ada kesalahan tolong batalkan permintaan kamu itu." Ucapanku sembari mengelus dada yang rasanya sesak.

    "Tapi aku menyukai perempuan ini Tan, aku tidak mau melakukan dosa makanya ku putuskan untuk menikahinya."

    "Mas hentikan omong kosong mu, kamu tidak melihat Fatimah anakmu." Aku menunjuk ke arah foto Fatimah yang terpajang di dinding rumahku.

    "Memang kenapa Tan, Fatimah sudah cukup besar dia pasti akan bisa menerima dan mengerti, lagi pula kamu tetap istriku yang sangat aku cintai." Ucapnya memohon bersimpuh di hadapan ku.

    Aku melangkah berdiri masuk ke kamar, rasanya saat itu aku tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut mas Dirga.

    Setiap hari selalu itu yang mas Dirga mohon padaku, bahkan aku tidak pernah menjawabnya.

    Berhari-hari aku berpikir jalan keluar dari masalah ini. Akhirnya malam itu setelah Fatimah tidur, ku putuskan untuk berbicara pada Mas Dirga.

    Aku duduk berhadapan dengannya di kasur, ku tatap lekat wajah suamiku.

    "Mas masalah permintaanmu aku sudah memikirkannya beberapa hari ini, Aku bisa merelakan kamu menikah, tapi tolong kabulkan permintaanku."

    "Baiklah aku akan kabulkan apapun permintaanmu." Wajah Mas Dirga sumringah mendengar ucapanku. Betapa sakitnya hatiku ini melihat raut wajahnya saat itu, seperti seorang suami yang tidak pernah aku kenal.

    "Ceraikan aku, dan biarkan Fatimah ikut dengan ku pulang ke kampung."

    Mas Dirga terkejut mendengar nya.

    "Tidak, aku tidak mau berpisah dari kamu."

    "Maaf mas itu permintaan aku, bukan kah tadi kamu bilang akan mengabulkan apapun permintaanku."

    "Tapi bukan permintaan seperti ini Tania." Ucapnya marah.

    "Bukan kah adil... aku dengan berat hati mengabulkan permintaanmu, dan aku harap kamu juga bisa mengabulkan permintaanku."

    Aku melangkah keluar kamar menjauh dari Mas Dirga dan malam itu aku tidur di kamar tamu.

    Tangisanku pecah saat itu, betapa kesetiaan mas Dirga gugur saat di uji dengan kekayaan.

    Mereka yang tidak pernah tau tentang arti satu kata kesetiaan tidak akan pernah bisa menghargainya.

    Lebih baik hidup sederhana seperti dulu tapi dia selalu setia mencintaiku, dari pada hidup bergelimang harta tapi dia malah mengorbankan dan menghancur kan mahligai rumah tangga yang selama ini ku bina seindah surga. Bahkan saat dia terpuruk sekalipun aku lah yang berdiri tegar di sampingnya...

    Aku kecewa padamu Mas, Hatiku serasa mati saat itu juga, Seperti sebuah bunga yang sudah kering hingga ke akarnya dan tidak akan pernah bisa hidup kembali.

    --Tamat--



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali