Sumbangan Nyata Pahlawan Relawan Covid-19 untuk Hentikan Pandemi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Minggu, 14 November 2021 16:37 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Sumbangan Nyata Pahlawan Relawan Covid-19 untuk Hentikan Pandemi

    KASUS positif Covid-19 di Indonesia kian menurun. Berdasarkan informasi dari data.covid19.go.id pada tanggal 15 Juli 2022, kasus terkonfirmasi positif pernah mencapai angka tertinggi hingga 56.757 orang. Namun sekarang kasus positif Covid-19 tidak lagi mencapai 1.000 orang setiap harinya.

    Dibaca : 167 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tak hanya itu, menurut data dari asia.nikkei.com, Indonesia berada di urutan ke-1 di Asia Tenggara dan ke-54 di Dunia sebagai negara dengan index recovery terbaik. Hal itu dapat terjadi berkat ketegasan pemerintah dalam melakukan pencegahan penyebaran Covid-19.

    Tapi tak bisa dilupakan pula adalah peran warga yang bersedia menjadi relawan penanganan Covid-19. Peran mereka sangat berarti dalam usaha menurunkan kasus positif Covid-19 secara cepat.

    Kita banyak belajar dari sikap mereka yang berani mengambil resiko demi membantu  orang lain. Di tengah suasana perayaan hari Pahlawan 10 November, para relawan ini adalah pahlawan sejati di era modern. Ribuan orang terjun langsung ke lapangan untuk bekerjasama dengan para petugas demi menghentikan pandemi.

    Data Kementerian Kesehatan menunjukan sepanjang Januari hingga September 2021, pemerintah telah merekrut lebih dari 7.000 relawan kesehatan. Jumlah ini belum termasuk relawan yang direkrut langsung oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

    Dengan adanya penurunan kasus Covid-19 ini, para relawan yang masih aktif bertugas sekitar 4.300 orang. Atas jasa mereka, pemerintah memberikan sertifikat penghargaan serta insentif. Pemerintah juga memberi santunan bagi petugas kesehatan termasuk relawan yang  gugur dalam penanganan pandemi Covid-19.

    Data Kementerian Kesehatan menunjukan sepanjang Januari hingga September 2021, Kemenkes telah merekrut lebih dari 7.000 relawan kesehatan. Jumlah ini belum termasuk relawan yang direkrut langsung oleh fasilitas pelayanan kesehatan.

    Dengan adanya penurunan kasus Covid-19 ini, para relawan yang masih aktif bertugas sekitar 4.300 orang.

    Selain mendapatkan sertifikat penghargaan mereka juga mendapatkan insentif dan santunan bagi yang gugur dalam penanganan pandemi COVID-19.

    Secara total pada tahun 2021 ini insentif tenaga kesehatan dan santunan kematian sudah dialokasikan sebesar Rp 9,078 triliun. Tapi berapapun besarnya santunan tidak pernah akan  sebanding dengan jasa-jasa relawan.

    Relawan yang ikut andil dalam penurunan kasus covid-19 di Indonesia pantas untuk menjadi teladan.

     

    Supir Ambulance

    Ika Dewi Maharani merupakan supir relawan perempuan pertama yang mengemudikan ambulance untuk pasien covid-19. Hal ini bermula saat Ika sedang menunggu wisuda di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Hang Tuah Surabaya. Saat itu, ia mendapatkan informasi dari dari Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) mengenai dibukanya lowongan relawan medis untuk mengemudikan ambulans pasien covid-19.

    Karena ia bisa menyetir dan memiliki keahlian dasar sebagai perawat, maka Ika pun ikut mendaftar jadi relawan. Meski pada awalnya ia sempat takut terjangkit, namun hal tersebut tidak mempengaruhi keinginannya untuk ikut mengabdi kepada negara. Ia juga mengaku tujuan mendaftar relawan tersebut untuk mendapatkan pengalaman dan dapat mempraktikkan ilmu yang diperoleh selama kuliah.

     "Saya melihat Jakarta terdapat pandemi. Kalau kita tak tangani dari pusatnya, ini akan menyebar. Saya mendaftar jadi relawan karena ada pengalaman saya pernah di rumah sakit," katanya.

    Perempuan asal Maluku Utara ini ditugaskan di rumah sakit Universitas Indonesia. Ia mengemban tugas untuk menjemput Pasien Dalam Pengawasan (PDP) serta pasien positif Covid-19 untuk diantar ke Rumah Sakit Universitas Indonesia agar bisa menjalani isolasi dan sembuh dari virus corona. Ika tinggal di mes yang telah disediakan oleh BNPB.

    Saat pagi sebelum berangkat menjemput pasien pertama, Ika wajib memastikan seluruh komponen mobil dalam kondisi siap. Jika semua dalam kondisi bagus, ia bisa berangkat menjemput pasien. "Kita perawat dan driver, teknisi juga. Dikasih tanggung jawab juga isi freon, aki, sampai kayak gitu. Kalau di ambulans ini pengalaman pertama bagi saya. Saya tak menyangka sebagai perawat evakuasi pasien dan jadi driver, jadi dobel," ucap Ika yang berasal dari Kabupaten Halmahera, Provinsi Maluku Utara.

    Meskipun saat bertugas Ika selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), namun ia juga selalu menjaga pola makan secara teratur dan istirahat yang cukup untuk menjaga imunitas tubuhnya. "Shift pagi dari jam 7 sampai jam 7 malam. Pertama saya harus makan dulu. Selesai absen kita makan, ada panggilan untuk kita rujuk. Setelah itu selesai, baru kita makan. Yang penting makan harus sehari tiga kali, multivitamin, dan susu," kata Ika Dewi Maharani menjelaskan.

    Selama menjalani tugas sebagai sopir ambulans, Ika memiliki suka duka. Sukanya yaitu Ika bisa ikut serta dalam penangan dan pencegahan Covid-19 di Indonesia semakin menyebar. Sedangkan dukanya, Ika tidak dapat sering bertemu dengan keluarganya, terutama anaknya yang bernama Yura.

    Langkah tersebut ia lakukan agar sang anak tidak berpotensi tertular penyakit Covid-19. Meski begitu ia selalu menelpon anak semata wayangnya tersebut setiap hari agar rasa rindunya dapat terobati.

     

    Bakti Sebagai Peneliti

    Relawan lainnya, Hana Krismawati merupakan alumni S-1 dan S-2 di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Pada tahun 2012, perempuan asli Solo,  Jawa Tengah ini merantau ke Papua. Ia menikah dengan laki-laki Papua dan bekerja di Balai Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Papua.

    Bidang Penelitiannya adalah mikrobiologi molekuler penyakit infeksi dan penyakit terabaikan, terutama kusta. Selama masa Covid-19 ini, Hana menjadi bagian dari tim yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan covid-19 di Papua dan Papua Barat. Ia ditugaskan untuk memastikan semua sampel dan spesimen yang dikirimkan ke laboratorium dalam kondisi baik. 

    Dalam unggahan di puanindonesia.com, ia menceritakan kisahnya saat sedang melaksanakan tugasnya di Papua. Pada tanggal 22 Maret 2020, kasus pertama positif covid-19 mulai terdeteksi di laboratoriumnya. Dengan adanya kasus pertama tersebut, perasaan Hana dan tim campur aduk.

    Mereka senang karena prosedur laboratorium sudah berhasil mendeteksi Covid-19. Namun mereka merasa tegang juga karena logistik yang tersedia sangat terbatas. Ketika itu, Reagen PCR  hanya cukup untuk menguji 50 sampel. Masker N95 dan 10 potong pakaian hazmat hanya cukup untuk untuk enam hari.

    Maka dari itu, atasan Hana menugaskannya untuk berangkat ke Jakarta dalam rangka mengambil keperluan logistik laboratorium sebelum Bandara Papua ditutup pada tanggal 24 Maret 2020. Pada tanggal 23 Maret 2020, ia pun berangkat ke Jakarta menuju Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan, di Jalan Percetakan Negara untuk mengambil segala kebutuhan di laboratorium, seperti masker, APD, hingga reagen.

    Beruntungnya, ia juga mendapatkan bantuan Satu koli APD berisi 100 pakaian hazmat, 10 kotak masker, dan 2 kotak N95 dari salah satu pengusaha bidang kesehatan di Jakarta. Dengan begitu, Hana berhasil membawa lima boks karton berisi kebutuhan APD untuk dua minggu, reagen untuk tes 500 sampel, dan berbagai kebutuhan lain untuk laboratorium. 

    Dalam unggahan di medsos, Hana mengaku ada suka dan duka selama menghadapi masa Covid-19 ini. Dukanya diantaranya yaitu kasus-kasus positif baru terdeteksi sebagai konsekuensi contact tracing yang makin gencar, membuat semakin banyak sampel yang harus diuji.

     Hal ini membuat relawan bekerja dari pagi hingga malam dan membuat mereka terus berada dalam balutan pakaian hazmat tanpa makan, minum, bahkan tanpa ke toilet. Sedangkan sukanya, yaitu banyaknya bantuan APD, fasilitas reagen dan logistik dari donatur, pemangku birokrasi dan gugus Covid-19 nasional, serta bantuan masyarakat. Itu adalah cermin  perilaku gotong royong yang mulia.

     

    True Beauty Of Life

    Cerita menarik lainnya dikisahkan oleh Dr. Debryna Dewi Lumanauw. Ia merupakan salah satu relawan dokter yang ditugaskan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. Hal ini menyebabkan wanita kelahiran Magelang ini tinggal di salah satu tower Wisma Atlet yang dijadikan penginapan bagi petugas medis.

    Berbekal ilmu kedokteran dari Harbor UCLA Medical Center, Amerika Serikat dan tercatat sebagai tenaga medis di Badan SAR Nasional sejak tahun 2018, Debryana memantapkan dirinya untuk ikut andil berjuang di garda terdepan menangani pasien Covid-19. Atas pengabdiannya tersebut, ia berhasil menjadi salah satu peraih penghargaan Indonesia Beautiful Women (IBW) 2021.

    Debryna mendedikasikan penghargaan ini kepada seluruh tenaga kesehatan di Indonesia. “Berani melangkah, berpegang teguh pada prinsip dan mengabdikan diri bagi orang lain adalah definisi dari the true beauty of life,” ucapnya.

    Debryna mengisahkan suka duka yang ia alami selama menjadi relawan medis. Meski ia sedih karena kasus positif masih terus ada, namun semangat para pasien membuatnya bahagia. Hal ini kemungkinan karena banyaknya sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Para pasien telah mengetahui informasi mengenai virus ini beserta bagaimana penanganannya.

    Ia juga bersyukur karena mendapatkan keluarga baru dari berbagai kalangan, baik sesama medis ataupun profesi lainnya. Debryna juga menjelaskan bagaimana cara ia menjaga imunitas tubuhnya selama menjadi relawan. Kiatnya antara lain dengan olahraga, makan yang baik dan teratur, minum vitamin suplemen serta menjaga kebersihan dengan rutin mencuci tangan.

    Kini, Debryna tidak lagi di Wisma Atlet Jakarta. Ia ditugaskan sebagai relawan dalam penanganan Covid-19 di Flores. Hal tersebut didorong dari pengalamannya bekerja di berbagai daerah dan menemukan fakta bahwa fasilitas kesehatan di sana tidak sebagus dan selengkap di ibu kota.

    Ia ingin adanya pemerataan layanan kesehatan di seluruh Indonesia. Setiap warga negara indonesia adalah satu jiwa. Jika ada satu bagian tubuh yang sakit, maka seluruh badan merasakannya. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.