Relawan: Aset dan Pasukan Perintis bagi Politisi dan Partai - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Clker-Free-Vector-Images dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 14 November 2021 05:15 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Relawan: Aset dan Pasukan Perintis bagi Politisi dan Partai

    Sebagai kajian studi politik, fenomena relawan barangkali menarik untuk dikaji. Salah satu pertanyaan yang layak diajukan ialah: apa kontribusi relawan terhadap pengembangan demokrasi yang sehat dan adil serta menyejahterakan rakyat banyak?

    Dibaca : 1.148 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Seiring dengan masuknya musim hujan, bermunculanlah kelompok-kelompok relawan—bak cendawan di musim hujan. Bukan relawan yang bersiap-siap membantu masyarakat bila terjadi musibah banjir dan longsor, tapi relawan yang membantu politisi yang hendak berlaga di pemilihan presiden 2024.

    Dari berita media massa terlihat betapa sibuk para relawan-relawati ini: nyablon kaos, bikin spanduk, menggelar deklarasi pencalonan maupun konferensi pers untuk menyatakan dukungan. Sebagian kelompok relawan ini sudah menyusun alasan-alasan mengapa mereka mendukung atau mencalonkan figur tertentu. Sekaligus ini promosi untuk meyakinkan masyarakat.

    Entah kelompok relawan itu bergerak atas prakarsa sendiri atau didorong dan dibujuk pihak tertentu yang berkepentingan, entah sepengetahuan politisi yang dicalonkan atau pun tidak, yang jelas kelompok relawan memang ada dan sudah mulai bekerja. Nah, untuk bisa bekerja, butuh ketersediaan waktu, tenaga, pikiran, bahkan juga uang—semuanya sumber daya yang bernilai. Buat bikin kaos, spanduk, nyewa tempat untuk deklarasi dan konferensi pers, bikin selebaran, bahkan menulis cuitan di media sosial.

    Karena namanya relawan, maka kita barangkali membayangkan semua kesibukan itu dilakukan secara sukarela. Dasarnya apa? Mungkin saja kesamaan cita-cita, kesengsem dengan kinerja figur yang didukung, bersimpati, atau dorongan lainnya, umpamanya karena melihat contoh yang sudah terjadi pada relawan papan atas Jokowi-Ma’ruf yang kemudian sukses jadi komisaris atau staf ahli.

    Umumnya, relawan itu bergerak lebih dulu dibandingkan kader-kader partai, khususnya di tingkat bawah. Mereka bagaikan penguji ombak, melempar batu ke kolam dan ingin tahu seperti apa riaknya. Mereka tak ubahnya pasukan perintis yang mengendus situasi lapangan, melempar pancing, serta membuka jalan. Tak heran bila politisi maupun partai menganggap mereka sebagai aset—jadi ingat film-film spionase, jadi ingat apa kegunaan aset, dan bagaimana nasibnya bila sudah tidak dibutuhkan.

    Aset jelas harus dipelihara, sebab menguntungkan bagi politisi maupun partai. Walaupun mungkin politisi dan partai tidak menyatakan pengakuan secara terbuka mengenai relasi dengan kelompok relawan, setidaknya mereka juga tidak menolak. Bahkan, kalaupun menyatakan menolak, itu hanya konsumsi buat masyarakat agar tidak berpikir lebih jauh tentang relasi itu.

    Kelompok relawan juga menjadi pembela yang pemberani bagi calon yang mereka dukung, dan karena itu berpotensi menimbulkan kegaduhan bila sampai terjadi pertempuran kata di ruang publik antar politisi atau antar relawan. Semangat relawan yang membara dalam mendukung calonnya berpotensi menimbulkan perdebatan yang riuh.

    Sebagai kajian studi politik, fenomena relawan barangkali menarik untuk dikaji. Salah satu pertanyaan yang layak diajukan ialah: apa kontribusi relawan terhadap pengembangan demokrasi yang sehat dan adil dan menyejahterakan rakyat banyak? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.